
Hari ini, Ujian Akhir Nasional. Dua hari sebelumnya, Mira seperti stress dan juga beberapa kali ke kamar mandi. Mama Marsha sangat tahu bahwa Mira memang sering kali dilanda stress ketika mendekati ujian akhir.
"Pasti stress ya, Ra," ucap Mama Marsha kepada Mira yang terlihat stress sekarang.
"Iya, Ma ... biasa ini, Ma. Nanti Senin biasanya udah biasa saja," balasnya.
"Main sana sama Elkan, biar enggak stress," balas Mama Marsha.
Mira dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Sama Kak Elkan, yang ada justru Mira gak belajar nanti, Ma. Jadi deg-degan malahan," balasnya.
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Mira, Mama Marsha pun tertawa. "Kamu ini bisa saja. Sudah serius sama Elkan?"
"Ya, serius dong, Ma. Kan enggak main-main juga, tapi kami lebih like it flow aja sih, Ma. Mengalir saja. Selesaikan sekolah dulu, Ma," balas Mira.
"Iya, Ra. Kalau ujungnya kalian jadi semangat belajar sih tidak apa-apa. Mama mendukung," balas Mama Marsha.
Ya, kalau hubungan dengan motivasi belajar SMA meningkat tidak masalah. Toh, usai masa SMA selesai, Mira dan Elkan akan melanjutkan kehidupan di Sydney, Australia. Setidaknya untuk saat ini, biarkanlah keduanya sama-sama menyelesaikan masa-masa SMA.
***
Hari UAN tiba ....
__ADS_1
Sekarang, hari pertama UAN. Dalam perjalanan dari rumah menuju ke sekolah, Mira masih rajin belajar. Sementara Elkan seperti biasanya, bersikap santai saja. Elkan lebih yakin nanti bisa mengerjakan.
"Hari pertama Bahasa Indonesia kan, Ra?" tanyanya.
"Iya, Kak ... Kakak udah belajar?" tanyanya.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Sudah dong. Ra, nanti setelah UAN aku mau minta sesuatu sama kamu boleh enggak?" tanya Elkan perlahan.
"Hmm, minta apa Kak?"
"Lepas kacamata kamu. Jangan dipakai lagi. Kalau memang kamu butuh kontak lensa, aku bisa membelikannya untuk kamu," pinta Elkan.
"Tidak perlu nanti, sekarang aku sudah melepasnya," balasnya.
"Cantik banget, Ra," balas Elkan.
Gadis itu tersipu malu. Namun, bisa melakukan apa yang Elkan mau, Mira sama sekali tak keberatan. Hingga ketika mereka sudah sampai di sekolah, Elkan tersenyum.
"Ruangan kita sangat jauh ya, Ra," ucap Elkan.
"Selisih dua ruangan. Kerjakan dengan baik ya, Kak. Sukses untuk Bahasa Indonesia hari ini," ucap Mira.
__ADS_1
"Kamu juga, Ra. Makasih sudah tampil sangat cantik untukku. Selfie dulu yuk, Ra. Kamu secantik ini," balasnya.
Mira pun tersenyum. Dia mendekat ke arah Elkan, dan menatap ke layar handphone milik Elkan. Beberapa kali Elkan mengambil foto mereka berdua. Hingga akhirnya Elkan merasa sudah puas dengan foto mereka.
"Aku atur menjadi wallpaper dulu," ucapnya.
"Aku mau juga ya, Kak," pinta Mira.
Elkan kemudian mengirimkan foto-foto itu kepada Mira. Namun, dia menunjukkan layar ketika handphonenya dalam keadaan terkunci rupanya itu adalah foto pernikahan mereka berdua yang diambil di Villa keluarga Agastya. Terlihat begitu lucu saja, dengan Mira yang menunduk.
"Screen lock tetap kamu, Ra. Kan yang pegang kuncinya kamu," balas Elkan.
"Kamu bisa saja sih, Kak ... duh, semua yang aku hafal jadi hilang loh," balas Mira dengan tersenyum.
"Ya sudah, yuk ... semoga UAN kita lancar ya, Ra. Kita bisa menyelesaikan puncak dari sekolah kita bersama-sama," ucap Elkan kemudian.
Mira kemudian memberikan pensil 2B dan juga menghapus untuk Elkan. "Pakai ini ya Kak ... aku belikan untuk kamu," ucapnya.
"Thanks, Ra. Dengan pensil yang kamu kasih, pasti aku bisa mengerjakan nanti."
Hingga akhirnya, mereka turun dari mobil dan kemudian Elkan mengantarkan Mira sampai ke ruangannya. Sebenarnya, ingin bisa satu kelas dengan Mira. Namun, abjad nama mereka yang terjadi jauh E dan M, sehingga mau tidak mau, keduanya harus berada di ruangan yang berbeda.
__ADS_1