Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Saatnya Berpisah


__ADS_3

Hari yang dinantikan pun tiba, bukan pertemuan, tapi adalah perpisahan. Itu semua karena Papa Belva, Mama Sara, Papa Abraham, Mama Marsha, dan Evan akan kembali pulang ke Jakarta. Sekarang di bandara internasional Sydney, ada Mama Marsha yang memeluk Mira.


"Saatnya Mama dan Papa kembali ke Jakarta ya, Ra. Tiga pekan yang sangat berarti untuk Mama. Mama bisa melihat kamu dan Elkan sebagai pasangan suami dan istri. Sangat menyenangkan. Mama dan Papa doakan, kalian sehat dan kuliahnya lancar yah," ucap Mama Marsha.


"Makasih Mama ... Mira juga berdoa Mama dan Papa akan selalu sehat. Makasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk mengunjungi Mira dan Kak Elkan di sini," balas Mira.


Setelah itu Papa Abraham yang menitipkan pesan kepada Elkan. "El, Papa dan Mama pamit yah. Kembali ke Jakarta. Jaga Mira ya, El. Papa selalu percaya bahwa kamu bisa menjaga Mira dengan baik," ucap Papa Abraham.


Dipercaya oleh Papa mertua sendiri tentu membuat Elkan bangga. Dia tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah diberikan oleh Papa mertuanya. Juga sudah pasti bahwa Elkan akan selalu menjaga Mira.


"Pasti, Papa. Elkan akan selalu menjaga Mira," balas Elkan dengan sungguh-sungguh.


"Papa sangat percaya sama kamu, El. Papa sudah melihat sendiri dalam tiga pekan ini, kamu bisa menjaga Mira, kamu bisa melengkapi Mira. Papa berterima kasih, dalam enam bulan ini kamu sudah menjaga Mira," ucap Papa Abraham.


Sebagai seorang Papa tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat putrinya dicintai, dijaga dengan baik, dan juga diperlakukan dengan baik oleh suaminya. Putri yang dicintai dengan baik, menemukan sosok pria yang tepat adalah kebahagiaan untuk seorang Papa.


"Iya, Papa. Elkan akan selalu bertanggung jawab kepada Mira, Papa. Terima kasih banyak untuk kepercayaannya," balas Elkan.

__ADS_1


Kemudian giliran keluarga Agastya yang memberikan pesan kepada pasangan muda itu. Dari Mama Sara yang memeluk Mira sekarang. "Mama pamit ya, Ra. Kamu dan Elkan saling menjaga satu sama lain yah. Tinggal di luar bukan berarti kehilangan jati diri kita sebagai orang Indonesia. Saling menyayangi dan juga mengerti satu sama lain. Mungkin banyak gesekan di usia muda, tapi segera selesaikan. Cepat selesaikan kuliah juga yah, Mama pengen menimang cucu dari kalian," ucap Mama Sara.


"Iya, Mama. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk berlibur dengan kami. Makasih banyak untuk semuanya, Mama," balas Mira.


"El, jaga Mira yah. Selalu memahami, saling percaya, intinya selalu pakai kata saling. Mama yakin jika kalian kompak, kehidupan rumah tangga kalian akan seperti kami," ucap Mama Sara kepada Elkan.


"Siap, Mamaku yang paling cantik. Terima kasih banyak ya, Ma," balas Elkan sembari memeluk Mamanya.


Pun juga dengan Papa Belva yang sekarang memeluk Mira. Untuk Papa Belva, Mira bukan menantu, melainkan seorang anak. Papa Belva juga sayang kepada Mira sejak Mira masih bayi. Merasa bahwa Mira dan Elkan kelihatan cocok dan saling sayang sejak kecil, Papa Belva yang berinisiatif untuk menjodohkan Mira dan Elkan sejak kecil.


"Papa pamit ya Mira. Terima kasih sudah menjalani banyak bulan bersama Elkan. Semoga kalian sehat dan kuliahnya lancar yah," ucap Papa Belva.


Usai itu, Evan juga berpamitan dengan adik-adik memeluk Elkan dan Mira bergantian. Evan juga mempersilakan Elkan dan Mira untuk main-main ke London. Setelah semuanya berpamitan, mereka melambaikan tangannya kepada Mira.


"Sampai jumpa lagi yah," ucap Mama dan Papanya bersamaan.


Air mata Mira sudah tidak bisa dibendung lagi. Tangisan muncul dengan sendirinya. Dia begitu sedih harus berpisah dengan keluarga yang dia sayangi. Terutama dengan Mama dan Papanya. Kemudian, Elkan segera merangkul Mira.

__ADS_1


"Sudah jangan nangis. Semester depan kita yang akan pulang ke Jakarta. Kita bisa melewati semua bersama-sama," ucap Elkan.


Namun, karena terlalu sedih, Mira sampai menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu. Perpisahan selalu penuh duka, berbanding terbalik dengan pertemuan yang selalu penuh sukacita. Sekarang, Mira sangat sedih rasanya.


"Nangis dulu boleh, usai itu jangan menangis lagi ya, Honey," ucap Elkan lagi.


Begitu punggung Mama dan Papa serta mertuanya sudah tak terlihat, Elkan dan Mira berencana untuk pulang kembali ke unitnya. Akan tetapi, Elkan masih menunggu sebentar sampai Mira bisa lebih tenang. Memang beberapa orang di bandara melihat Mira yang menangis, tapi tidak apa-apa. Namanya juga baru bersedih.


Hampir sepuluh menit berlalu, barulah Mira bisa lebih tenang. Wajahnya begitu sembab, dan matanya merah karena menangis. Namun, tak berselang lama dia tersenyum kepada suaminya.


"Aku cengeng ya, Kak?" tanyanya kepada Elkan.


"Iya, cengeng ..., tapi tidak apa-apa. Namanya juga baru sedih. Mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Elkan kepada istrinya.


"Sebentar ya, Kak. Lima menit lagi," balas Mira.


Elkan kemudian menganggukkan kepalanya. "Oke, Honey. No problem. Aku akan selalu menunggu kamu. Nanti di unit, bisa cerita sama aku. Berbagi kesedihan bersama. Sama seperti dulu waktu kita pindah ke Sydney, hari-hari yang kamu jalani juga tidak mudah. Merasakan homesick. Sekarang, aku juga akan menemani kamu. Aku akan selalu ada untukmu," balas Elkan.

__ADS_1


Dulu ketika baru saja tiba di Sydney banyak hari yang Mira habiskan dengan berurai air mata. Rindu Mama, Papa, dan suasana rumah. Ada homesick yang menyerang Mira. Pasti nanti untuk beberapa hari Mira masih akan bersedih karena berpisah dari Mama dan Papanya. Namun, Elkan berjanji dia akan selalu menemani Mira. Dalam suka dan duka, Elkan akan selalu ada untuk Mira.


__ADS_2