
Sekarang sudah hari ketiga sejak dilakukannya transfer embrio. Secara khusus Mama Sara meminta, Mira tidak perlu ke kantor SaVa Beauty Care terlebih dahulu. Mama Sara meminta Mira untuk fokus ke program hamilnya.
Selain itu, siang ini ada Mama Marsha dan Papa Abraham yang datang ke rumah untuk menjenguk Mira. Tidak dengan tangan kosong, Mama Marsha dan Papa Abraham membawakan banyak makanan untuk Mira dan Elkan.
"Repot-repot loh, Ma," kata Mira.
"Gak repot sama sekali, Ra. Kasih sayang orang tua ke anak yah memang seperti ini," balas Mama Sara.
"Jadi, sudah transfer embrionya?" tanya Papa Abraham.
"Sudah, Pa. Tiga hari yang lalu sudah menansfer dua embrio. Mira yang deg-degan, mau ngapa-ngapain takut. Pengennya yah embrionya menempel di rahim. Bisa menjadi bakal janin," kata Mira.
Papa Abraham dan Mama Marsha menganggukkan kepalanya. Memang harus bersabar terlebih dahulu. Jika Mira menjadi parno, itu wajar, karena belum berpengalaman dan juga ada harapan besar yang Mira inginkan untuk bisa memiliki buah hati.
"Tenang, Sayang. Intinya lebih berhati-hati dan juga banyak berdoa. Jangan berhubungan dulu dengan Elkan, di tahan dulu. Kalau Mama tidak salah ada kandungan hormon prostaglandin dalam sel pria yang bisa membuat janinnya pusing. Jadi, tujuannya memang itu menunggu embrionya lebih kuat dulu," balas Mama Sara.
Ah, Mira baru ingin dengan kandungan hormon Prostaglandin dalam sel pria yang bisa membuat embrionya pusing. Ternyata itulah yang membuat Dokter Indri menyarankan tidak berhubungan suami istri terlebih dahulu.
"Iya-ya, Ma. Hamil muda juga tidak boleh kan Ma?" tanya Mira.
"Boleh, gak boleh terlalu sering dan mungkin harus dikeluarkan di luar supaya janinnya enggak pusing. Sekarang fokus ke embrionya dulu yah," kata Mama Sara.
"Iya, Ma. Kami akan fokus dulu. Makasih Ma, sudah diingatkan," balas Mira.
Mama Mira kemudian tersenyum, dia mengupaskan Apel untuk Mira. Selain itu, Papa Abraham juga membelikan beberapa susu yang mengandung asam folat untuk putrinya itu. Semua itu, untuk lebih mempersiapkan Mira menjadi seorang Ibu.
"Dimakan, Papa juga beliin susu tuh. Mau Mama buatin?" tawar Mama Marsha.
__ADS_1
"Biar Elkan yang buatin saja, Ma. Katanya kalau yang membuat suami, rasanya lebih enak," balas Elkan.
Papa Abraham tertawa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Setuju sekali dengan apa yang disampaikan Elkan barusan.
"Benar sekali, El. Dulu Mama kamu bilang begitu kalau susu yang Papa buatkan rasanya lebih enak. Good job, El," balas Papa Abraham.
"Iya, Pa. Kan dibuatkan dengan penuh cinta, itu yang bikin enak." Elkan menjawab pun dengan tertawa. Memang mertua dan menantu itu satu server. Dalam beberapa hal, justru Elkan terlihat seperti Papa Abraham.
Mama Sara dan Mira sama-sama tertawa. Kadang kocak juga melihat Papa Abraham dan Elkan yang bisa sering satu server. Ada kalanya, sosok keduanya begitu serius, perhatian, tapi juga suka bercanda.
"Kalau ngidam pengen apa, bilang saja, Ra ... kan di sini sudah ada Mama. Mama siap buatin atau beliin makanan yang kamu pengenkan," kata Mama Sara.
"Enaknya kalau hamil dekat dengan keluarga. Ada Mama dan Papa yang manjain banget," balas Mira dengan terkekeh geli.
"Ya, kan begitu ... dulu kala Mama hamil kamu, sering ngidam Lumpia Semarang tuh. Sama mendiang Eyang Diah, kalau Eyang datang ke Jakarta, pasti dibeliin Lumpia itu. Ada Bandeng Presto juga. Pokoknya semua makanan khas Semarang," cerita Mama Sara.
"Enak yah Ma ... kalau hamil," balas Mira.
"Iya, lebih enak karena yang mual dan muntah alias morning sickness itu justru Papa kamu. Jadi, Mama sehat banget," balas Mama Sara.
Elkan mengernyitkan keningnya. "Duh, jangan-jangan nanti Elkan juga yang morning sickness," katanya.
"Dijalani saja, El ... berbagi beban. Istri kan sudah mengalami gejolak hormonal dan sebagainya, kita kaum pria yang mual dan muntah tidak apa-apa," balas Papa Abraham.
Elkan pun akhirnya menganggukkan kepalanya. Memang begitulah adanya. Bisa berbagi beban dengan istri ketika sang istri sedang hamil rasanya juga menyenangkan. Yang penting adalah tulus dan ikhlas merasakan semuanya.
Akhirnya, cukup lama Mama Sara dan Papa Abraham berada di kediaman mereka. Jelang sore, barulah Mama Sara dan Papa Abraham berpamitan untuk pulang. Mira memilih rebahan di rebahan di ranjang saja.
__ADS_1
"Capek, Honey?" tanya Elkan.
"Cuma pengen rebahan saja kok, Kak," balasnya.
"Kaum rebahan yah," balas Mira dengan turut rebahan di sisi Mira.
Rasanya cukup lama duduk dan sekarang bisa tiduran, punggung terkena kasur yang empuk, dan AC dingin di kasur menjadi hal yang menyenangkan. Mira sampai memeluk-meluk guling saking enaknya.
"Badan kamu belum ada rasa apa-apa beneran?" tanya Elkan.
"Iya, kelihatannya belum. Semoga saja tidak terjadi apa-apa ya, Kak," balas Mira.
"Iya, aku juga berdoanya sih begitu. Calon baby kita sedang berenang-renang di rahim Mommynya yah ... duh, Daddy sudah mulai jatuh cinta loh," kata Elkan.
Mira tersenyum. Elkan sendiri masih ingat dengan nama panggilan yang mereka inginkan ketika nanti memiliki anak yaitu Mommy dan Daddy. Hingga, Mira yang gemas, mengusap rambut suaminya itu.
"Daddy Handsome," kata Mira.
"Iya-iya, aku memang cakep kok, Honey. Bayangin aja, baby kita twins yang cewek cantiknya kayak kamu, dan yang cowok cakepnya kayak aku. Luar biasa kan?" tanya Elkan.
"Iya, baby-baby gemoy ya, Kak," balas Mira.
"Lebih dari itu, aku mengharap pertumbuhan embrionya baik yah. Seminggu dua minggu lagi kalau kita periksa, sudah terlihat yah dua kantung janin di dalam rahim kamu. Aku sayang banget sama mereka, Honey. Aku ingin mereka tumbuh dengan baik dan sempurna setiap bulannya," kata Elkan.
Ya, Elkan menyemai harapan untuk kedua bakal buah hatinya yang sudah ditanam di dalam rahim Mira. Hanya tahu bahwa sudah ada embrio aktif saja, rasanya sudah bahagia. Lebih-lebih nanti kala sudah terasa pergerakannya, melihat tumbuh kembangnya setiap bulan, dan juga menyambut momen persalinan nanti. Rasanya pasti akan sangat luar biasa.
"Sama, Kak ... itu juga harapanku. Dua minggu ini seolah menjadi masa penantian lagi yah, Kak. Semoga saja twins sehat-sehat dan bertumbuh dengan baik di rahim Mommy," balas Mira dengan mengusap perlahan perutnya.
__ADS_1
Elkan tersenyum, tangannya turut bergerak dan mengusap permukaan kulit perut Mira. Itu adalah harapan keduanya. Masa-masa menunggu. Kiranya semuanya akan berbuah manis, dan juga akan selalu ada kabar positif dari kehamilan ini.