
Mama Marsha dan Papa Abraham merasa lega karena keluarga Agastya mau untuk dititipi Mira selama satu minggu. Selain itu, Mama Marsha dan Papa Abraham pun percaya bahwa dalam pengawasan Mama Sara dan Papa Belva, pasangan pengantin yang masih SMA itu tidak akan macam-macam. Elkan pun dinilai adalah pemuda yang baik-baik. Jadi, tidak akan macam-macam dengan Mira, seperti kesepakatan yang sudah-sudah bahwa mereka baru bisa bersama setelah lulus SMA nanti.
"Makasih Besan ... maaf, kami merepotkan malahan," ucap Papa Abraham kepada Papa Belva.
"Justru jangan sungkan. Kita sudah satu keluarga sekarang. Dulu manggilnya Bos, sekarang Besan yah," balas Papa Belva dengan terkekeh perlahan.
"Makasih sudah selalu menolong kami," balas Papa Abraham.
"Tidak usah berterima kasih seperti itu. Justru kami senang dipercaya untuk menjaga Mira. Bagaimana pun Mira juga putri kami. Pasti aman, tidak akan kami biarkan Elkan macam-macam," balas Papa Belva.
Elkan yang ada di sana pun menatap Papa Abraham. "El juga akan jagain Mira, Pa," ucapnya.
"Makasih El ... dijaga yah. Jangan merusak kepercayaan Papa kepadamu," balas Papa Abraham.
"Iya Pa ... Papa dan Mama ke stasiunnya bagaimana?" tanya Elkan kemudian.
"Nanti order taksi untuk mengantar kami ke stasiun," balas Papa Abraham.
"Biar El antar saja, Pa," balasnya.
Tidak disangka Elkan pun justru berinisiatif dan mau mengantar mertuanya menuju ke stasiun. Papa Belva tersenyum karena Elkan pun termasuk seorang anak yang ringan tangan, dia suka membantu dan juga responsif. Didikan baik yang diberikan sejak kecil ternyata dilakukan Elkan dengan sangat baik.
"Tidak usah, El ... nanti kami justru merepotkan kamu," balas Papa Abraham.
"El kan juga putranya Papa. Biar El antar saja," balasnya.
Jika Mira sudah seperti anak perempuan sendiri untuk keluarga Agastya, begitu juga Elkan yang harusnya juga menjadi putra bagi keluarga Narawangsa. Sehingga, jika seorang anak mengantarkan orang tuanya ke Stasiun, tidak menjadi masalah.
"Ke Stasiun mana Pa?" tanya Elkan kemudian.
__ADS_1
"Stasiun Gambir, di pusat kota," balas Papa Abraham.
"Baiklah, Elkan akan mengantar Papa, Mama, dan Marvel," jawabnya.
Papa Belva dan Mama Sara pun menganggukkan kepalanya. Justru senang ketika Elkan berinisiatif untuk mengantar Mama dan Papa mertuanya. Papa Belva pun berbicara kepada Mama Marsha.
"Elkan beruntung memiliki kesempatan untuk mengambil hati mertuanya. Mengabdi layaknya anak kepada orang tuanya sendiri. Sementara, aku dulu tidak memiliki kesempatan itu," ucap Papa Belva.
Apa yang dikatakan Papa Belva benar adanya, karena memang dia menikahi Mama Sara dengan kondisi Mama Sara sudah menjadi yatim piatu, yang menjadi wali nikahnya saja adalah kerabat dari pihak Ayah. Sehingga Papa Belva praktis tidak pernah memiliki kesempatan untuk mendekati mertuanya, mengambil hati, atau melayani mertuanya.
"Itu karena aku yatim piatu, Mas," balas Mama Sara.
Sepuluh menit setelahnya, sebuah mobil berhenti di depan rumah keluarga Narawangsa. Ada Elkan yang membawa mobil itu. Pemuda itu hendak mengantarkan keluarga mertuanya menuju ke stasiun. Melihat ada mobil yang berhenti di depan rumah, Papa Abraham pun turun dengan membawa koper. Elkan juga berinisiatif membukakan bagasi, dan juga membantu mengangkatkan koper dan memasukkan ke bagasi.
"Masuk ada Pa?" tanya Elkan.
Kemudian Mama Marsha, Papa Abraham, dan Marvel memasuki mobil. Mira pun ikut serta. Dia memang ingin ikut mengantarkan Mama dan Papanya ke stasiun. Elkan pun mengemudikan mobilnya perlahan-lahan menuju stasiun.
Hampir 45 menit berlalu dan sekarang mereka sudah tiba di Stasiun Gambir. Keluarga Narawangsa pun mengucapkan terima kasih kepada Elkan.
"Makasih ya El, sudah mengantar kami sampai ke stasiun," ucap Mama Marsha.
"Iya Ma," balas Elkan.
"Titip Mira ya El ... jangan kelewat batas dulu yah. Empat bulan lagi usai ujian nasional," balas Mama Marsha.
"Iya, Ma ... Elkan ingat," jawabnya.
"Mira, baik-baik di Jakarta yah. Satu minggu lagi kami akan datang dari Semarang. Doakan Nenek juga bisa segera pulih," ucap Mama Marsha kepada Mira.
__ADS_1
"Pasti Ma ... Mira akan menunggu Mama dan Papa pulang dari Semarang," balasnya.
"Untuk uang sakumu, Papa transfer ya, Ra ... aman sudah untuk satu minggu ke depan," ucap Papa Abraham.
"Tidak pun, tidak apa-apa, Pa. Mira masih ada uang," balasnya.
Hingga akhirnya Mama dan Papanya benar-benar memasuki stasiun bersama Marvel. Sementara Mira sebenarnya sedih. Dalam hidupnya, mungkin baru kali ini dia benar-benar ditinggal Mama dan Papanya. Namun, bagaimana lagi jika ada latihan ujian yang harus dia ikuti.
"Pulang sekarang?" ajak Elkan kemudian.
"Iya," jawab Mira.
Baru saja, mereka hendak masuk ke dalam mobil, rupanya gerimis pun turun. Mira sedikit berlari dan segera memasuki mobil suaminya itu. Aneh sekali, kenapa akhir-akhir ini setiap kali bersama Elkan, tiba-tiba saja gerimis.
"Aneh, padahal cuacanya cerah. Kenapa sekarang justru gerimis," ucap Elkan yang memasuki mobilnya dengan menyugar rambutnya yang sedikit terkena air hujan.
"Pulang saja Kak ... takut kejebak hujan nanti," balas Mira.
"Iya, nanti kamu mau tidur di mana?" tanya Elkan dengan tiba-tiba.
"Di kamar tamu saja," balasnya.
"Di kamarku juga boleh," jawab Elkan dengan tiba-tiba.
Mira melirik Elkan yang duduk di sampingnya itu. Mungkin memang Elkan akan mencari kesempatan dalam kesempitan dengannya.
"Gak, gak akan," balas Mira.
"Pasti akan. Minimal empat bulan lagi," balas Elkan dengan mengulas senyuman di sudut bibirnya.
__ADS_1