
Sebagaimana dengan rencana Elkan sebelumnya, sekarang Elkan dan Mira akan berangkat ke Sydney. Di Sydney nanti juga Elkan dan Mira akan menempati apartemen yang jaraknya tidak begitu jauh dari kampus mereka. Selain itu, Papa Belva juga sudah menyiapkan mobil untuk Elkan dan Mira. Sehingga saat di Sydney nanti mereka bisa jalan-jalan bersama.
Sekarang keluarga Agastya dan Narawangsa mengantarkan Mira dan Elkan ke bandara. Kali ini Elkan dan Mira akan menaiki pesawat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta langsung menuju ke Bandara Internasional Sydney, tanpa transit. Dengan menempuh perjalanan udara sekitaran 7 jam 30 menit.
"Elkan dan Mira, hati-hati selama di Sydney yah. Nanti di lain waktu kami akan mengunjungi kalian di sana. Jaga diri, jaga kesehatan, dan jaga komunikasi," ucap Mama Sara.
Sementara, Mira sekarang sedang memeluk Papanya. Sebagaimana anak perempuan adalah cinta pertama Papanya, Mira pun menangis di pelukan Papanya. Sementara, Papa Abraham berusaha keras untuk menahan air matanya.
"Anak Papa sudah mau ke Sydney, jauh dari rumah untuk pertama kali. Kalau nanti kamu merasa rindu rumah dan home sick. Curhat dengan Elkan, bisa bercerita dan membagi perasaan. Sering-sering hubungi Mama dan Papa yah, walau hanya melalui pesan. Tidak masalah," ucap Papa Abraham.
Mira kemudian menganggukkan kepala, dengan masih berada di pelukan Papanya. "I ... iya, Pa. Mira bakalan kangen sama Papa," balasnya.
Sementara Mama Marsha tentu sudah menangis. Baru kali ini akan berjauhan dengan anaknya. Terbiasa di rumah dengan Mira, kadang juga teman ngobrol, dan teman jalan-jalan Mamanya. Sekarang memang mereka harus berpisah Jakarta - Sydney selama kurang lebih empat tahun.
"Belajar menjadi istri juga ya, Ra ... sekarang kamu sudah akan terus menjalani peran baru sebagai seorang istri. Mama sudah sering beritahu kamu kan, Mama harap kamu bisa melakukannya dengan baik. Taruh rasa hormat ke suamimu," nasihat dari Mama Marsha.
Memang sejak Mira sudah menikah dengan Elkan, Mama Marsha mengajarkan bagaimana menjadi ini istri yang baik dan taat. Hak dan kewajiban istri, juga Mama Marsha sampaikan kepada Mira. Bagaimana pun di Australia nanti, Mira tidak hanya menjadi mahasiswi, tapi juga menjadi istri untuk Elkan.
"Iya, Mama. Terima kasih selalu mengajari Mira yang baik. Mira juga akan kangen Mama," ucapnya masih dengan menangis.
__ADS_1
Hingga akhirnya terdengar panggilan dari maskapai penerbangan bahwa penumpang dipersilakan untuk segera melakukan cek in dan beberapa saat lagi pesawat akan terbang. Sudah saatnya bagi Elkan dan Mira berpamitan dengan kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa, kami pamit yah ... doakan penerbangan hari ini lancar," pamit Elkan.
"Iya, El ... hati-hati yah, jaga Mira baik-baik. Begitu tiba di apartemen segera kabari kami," ucap Papa Belva.
Berpamitan dengan berurai air mata. Hingga akhirnya, Elkan mengajak Mira untuk segera masuk ke ruang tunggu. Menunggu waktunya boarding. Elkan tahu Mira sangat sedih sekarang, sehingga dari pemeriksaan di Bandara, pemuda itu selalu menggandeng tangan Mira. Sekarang, sudah berada di ruang tunggu, Elkan kemudian memberikan tissue kepada Mira.
"Jangan menangis terus, mata kamu bengkak nanti," ucap Elkan dengan menyodorkan tissue.
Gadis itu menerima tissue dari Elkan dan menyeka air matanya. Berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri, walau memang masih sedih. Bahkan, beberapa kali Mira sesegukan dan menghela nafas.
"Nanti dikiranya, kita berantem loh. Mau minum? Aku beliin," tawar Elkan.
"Itu normal kok, Ra. Biasa, pelan-pelan nanti bisa beradaptasi," balas Elkan.
Hampir setengah jam lebih mereka berada di ruang tunggu, kemudian terdengar suara panggilan bahwa penumpang tujuan Bandara Internasional Sydney dipersilakan naik ke pesawat. Elkan dan Mira juga berjalan bersama, menuju ke dalam pesawat.
Saat itu sudah hampir jam 20.00 malam. Sementara penerbangan menuju Sydney kurang lebih 7 jam 30 menit, sehingga mungkin saja dini hari mereka baru tiba di Sydney. Di pesawat kelas bisnis itu, keduanya duduk berdampingan.
__ADS_1
"Penerbangan terjauhmu?" tanya Elkan.
"Iya, Kak. Paling biasanya hanya Jakarta ke Semarang dan itu hanya satu jam. Sekarang, hampir delapan jam terbang."
Elkan tersenyum mendengar jawaban Mira. "Dinikmati aja perjalanannya. Malam juga, tidak ada pemandangan. Kalau bisa tidur, dipakai tidur aja," balas Elkan.
Burung besi yang mereka naiki akhirnya mengambil posisi take off. Melaju begitu kencang di landasan pacu, hingga akhirnya mengudara. Ketinggian di udara semakin bertambah, hingga akhirnya berada di posisi yang stabil.
"Enggak takut kan?" tanya Elkan yang kini sudah membawa tangan Mira dalam genggamannya.
"Enggak, ada kamu yang pegangin aku. Jadi, gak takut," balas Mira dengan tersenyum tipis.
Lantaran berada di penerbangan bisnis mereka juga mendapatkan makan malam. Perjalanan yang berkesan untuk Mira. Walau masih sedih, tapi kuliah di Sydney juga sudah menjadi pilihannya sendiri. Jadi, lebih baik menata hati dan menikmati perkuliahan nanti.
***
Hampir delapan jam kemudian ....
Sekarang kurang lebih jam 06.15 waktu Sydney, Mira dan Elkan sudah landing di Bandara Internasional Sydney. Menunggu pengecekan pasport dan juga mengambil bagasi, Elkan mengajak Mira mencari exit keluar Bandara dan segera memesan taksi yang akan mengantarnya ke apartemen.
__ADS_1
Tentu perjalanan semalam membuat mereka merasa kecapekan. Namun, Elkan justru menyambut baik rencana ini. Perkuliahan sebenarnya akan dimulai satu bulan lagi. Namun, waktu satu bulan ini bisa dimanfaatkan untuk beradaptasi dan honeymoon. Sejumlah agenda sudah tertata rapi di dalam kepala Elkan.
Pelan-pelan, asal semuanya tercapai itulah yang ingin Elkan nikmati dengan Mira. Tidak perlu terburu-buru. Mereka berdua masih muda dan juga waktu mereka masih panjang. Hari-hari bisa mereka lalui bersama dengan berbagi dan menumbuhkan cinta.