
Jelang beberapa pekan kemudian, Elkan akan menghadiri persidangan di Pengadilan Negeri. Dia kali datang sebagai korban yang akan dimintai keterangannya. Sekaligus ini menjadi kala pertama Elkan berhadapan langsung dengan Bagas usai peristiwa kecelakaan disengaja yang terjadi di depan Coffee Bay.
"Aku pergi ke pengadilan dulu yah, Honey," pamit Elkan kepada Mira.
Memang Mira tidak ikut. Dia memilih berada di rumah dan menjaga Aryan dan Aaliya. Akan tetapi, sebagai gantinya ada Papa Belva dan Papa Abraham yang sekarang mendampingi Elkan. Selain itu, Papa Belva juga sudah menyewa pengacara terbaik. Sebagaimana yang Papa Belva pernah sampaikan sebelumnya bahwa dia akan menuntut hak dan keadilan untuk Elkan dan kedua karyawan Coffee Bay.
"Iya, Kak. Berkabar yah, Kak. Semoga semuanya berjalan dengan lancar," balas Mira.
Menempuh perjalanan hingga hampir satu jam barulah mereka bertiga tiba di Pengadilan. Kemudian, mereka memasuki ruangan sidang. Termasuk dua staff Coffee Bay yang juga hadir, satu di antaranya adalah Setyo yang mengalami retak tulang di tangannya. Oleh karena itu, Setyo hadir masih dengan tangan yang gips. Setelahnya, Majelis Hakim mulai memasuki ruangan sehingga setiap hadirin diminta berdiri dan menundukkan badannya terlebih dahulu, memberi penghormatan untuk para Majelis Hakim.
Lalu, mulailah Bagas dan supir mobil pick up yang dihadirkan sebagai tersangka. Elkan sebenarnya tidak pernah mengira bahwa di dalam hidupnya dia akan mengalami pengalaman seperti ini. Akan tetapi, hidup itu penuh dengan kejutan, apa yang akan terjadi manusia tidak pernah mengetahuinya.
Hingga akhirnya pengadilan dimulai. Baik Jaksa penuntut umum dan Pengacara memberikan pertanyaan demi pertanyaan. Termasuk kepada Elkan yang sebelumnya sudah diambil terlebih dahulu sumpahnya bahwa dia akan mengatakan hal yang benar.
__ADS_1
"Saya berada di depan Coffee Bay waktu itu bersama dua staff saya. Hingga akhirnya mobil pick up berjalan mundur dan mencelakai kami bertiga," kesaksian Elkan.
"Sebelumnya apa Anda mengenal sosok Bagas?" tanya Jaksa Penuntut Umum.
"Ya, saya mengenalnya. Bagas adalah teman saya sewaktu SMA ...."
Akhirnya semua Elkan ungkapkan dan juga ancaman Bagas sebelumnya. Bukan bermaksud menjerat Bagas dengan hukuman berat, tapi Elkan berkata jujur selain itu Bagas akan benar-benar belajar dari kesalahannya.
Setelah merasa semua kartunya diungkapkan oleh Elkan, Bagas merasa geram. Mencelakai Elkan justru membuat Bagas benar-benar puas.
"Benar," jawab Bagas singkat.
"Apakah Anda menyesali perbuatan Anda?"
__ADS_1
Bagas terdiam, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Tidak sama sekali."
Mendengar jawaban Bagas tentu saja membuat Papa Belva dan Papa Abraham terkejut. Biasanya mereka yang sudah berada di jeruji besi akan bisa menyadari salahnya. Akan tetapi, Bagas justru tidak melakukan hal itu. Bagas tidak menyesal sama sekali. Sangat disayangkan karena semua ini pastilah akan berdampak ke putusan pengadilan nanti.
Turut hadir juga Tante Lista yang tak lain adalah Mamanya Bagas. Mendengar semua pengakuan dan jawaban Bagas membuat Tante Lista menitikkan air mata. Sebagai seorang Ibu, sungguh Tante Lista tak menyangka bahwa Bagas tidak menyesal sama sekali. Selain itu, ada ketakutan jika Bagas mendapatkan hukuman yang lama di jeruji besi nanti.
Hampir dua jam persidangan berakhir, tapi putusan pengadilan akan dibacakan dua pekan lagi. Sebelum diarak kembali ke hotel prodeo, Bagas berhenti dan berbicara kepada Elkan.
"Jangan anggap loe menang, El. Semua ini belum berakhir. Keluar dari penjara pun, gue akan cari loe. Oh, iya ... satu lagi, loe gak ada apa-apanya jika gak ada Bokap loe yang kaya raya itu," kata Bagas.
Di sisi lain Elkan justru menggelengkan kepalanya. Andai saja Bagas tahu bagaimana ibu kandungnya datang dan meminta pencabutan laporan. Sayangnya Bagas begitu angkuh dan hanya mengedepankan perasaan dendamnya saja.
"Gue harap setiap harinya loe menyesali perbuatan loe, Gas. Setidaknya loe memiliki Ibu yang baik. Sayang sekali kalau loe menyakiti hatinya. Please, lakukan yang benar sekali-kali dalam hidup loe."
__ADS_1
Usai itu, Elkan bersama Papa Belva dan Papa Abraham memilih keluar dari ruang persidangan. Tentu Papa Belva dan Papa Abraham menyayangkan sikap Bagas yang justru akan memberatkan hukumannya nanti.