
Tidak terasa sudah lima hari berlalu Mira lalui tanpa keberadaan Mama dan Papanya. Rasanya, begitu berat. Sebab, sebelumnya dia dengan keluarganya tidak pernah berpisah sejauh ini. Sekarang, menjadi waktu terlama bagi Mira untuk tidak bertemu dengan Mama dan Papanya.
"Apa seperti ini rasanya hidup jauh dari Mama dan Papa, bagaimana nanti kalau aku kuliah di Australia dan jauh dari Mama dan Papa?"
Seketika pikiran Mira pun melambung. Terbayang bagaimana nanti rasanya ketika dirinya jauh dari rumah, jauh dari orang tua. Tinggal di negeri asing sebagai pendatang. Mira menghela nafas sepenuh dada, kemudian dia memilih untuk menghubungi Papanya. Sekaligus Mira ingin mengabarkan latihan ujian yang sudah berakhir. Gadis itu pun segera mencari nomor telepon Papa Abraham dan menelpon Papanya itu.
Papa Abraham
Berdering
"Assalamu'alaikum Papa," sapa Mira begitu sambungan selulernya sudah tersambung dengan Papanya yang kini berada di Semarang.
"Ya, Waalaikumsalam, Mira. Bagaimana nih kabarnya anak Papa ini? Kamu sehat kan?" tanya Papa Abraham.
Mira pun tampak menganggukkan kepalanya, seolah-olah dia sedang berhadap-hadapan dengan Papanya sekarang. "Baik, Papa. Bagaimana kabar Mama dan Papa di Semarang?" tanya Mira kemudian.
"Mama, Papa, dan Marvel sehat, Nak. Jika ada yang tidak sehat, sudah pasti dia adalah Nenek kamu," balas Papa Abraham.
Faktanya memang demikian bahwa semuanya dalam kondisi sehat. Jika ada yang tidak sehat tentulah adalah Nenek Ria yang sedang sakit sekarang. Sementara Mama Marsha, Papa Abraham, dan Marvel dalam keadaan sehat.
"Kamu baik-baik saja kan Mira? Bisa menjaga diri selama Mama dan Papa pergi kan?" tanya Papa Abraham.
"Pasti Mira bisa menjaga diri, Pa. Mira tidak akan melakukan tindakan yang membuat Mama dan Papa kecewa sama Mira. Di sini juga Mira dijaga baik-baik sama Mama Sara dan Papa Belva kok, Pa," balasnya.
Sebagai seorang Papa, tentu saja Papa Abraham merasa lega karena putrinya itu dijaga baik-baik oleh Mama Sara dan Papa Belva yang tidak lain adalah mertuanya. Semoga saja sampai nanti, keluarga Agastya bisa selalu menyayangi Mira.
"Syukurlah, Mama Sara dan Papa Belva memang orang yang baik, Mira. Kamu bersyukur karena menjadi bagian dari keluarga Agastya," balas Papa Abraham.
"Mira lebih bersyukur karena menjadi anak Mama dan Papa. Dibesarkan dengan penuh cinta oleh Mama dan Papa. Jika ada satu kebaikan Tuhan untuk Mira yaitu Mira menjadi anaknya Mama dan Papa. Pa, Mira kangen."
Akhirnya sekarang Mira mengakui bahwa dia sudah rindu dengan Mama dan Papanya. Bahkan ketika menyampaikan rasa rindunya, gadis berusia 18 tahun itu menitikkan air matanya. Sementara Papa Abraham di Semarang yang mendengarkan ucapan kangen dari putrinya merasa hatinya tersentuh. Sampai si Papa menengadahkan wajahnya dan juga merasa air matanya hampir saja jatuh.
__ADS_1
"Maaf ya Mira, kami harus meninggalkan kamu di Jakarta. Akan tetapi, tiga hari lagi kami akan kembali ke Jakarta kok," balas Papa Abraham.
Lagi-lagi Mira tampak menganggukkan kepalanya. "Iya, Papa ... Mira akan menunggu Mama dan Papa kembali pulang ke Jakarta," balasnya.
Hampir setengah jam Mira menelpon Papanya. Selesai menelpon, Mira keluar dari kamar yang dia tempati. Ingin menuju ke dapur untuk mengambil minum. Namun, baru saja dia keluar dari kamar, dia berpapasan dengan Elkan.
"Ra," panggil Elkan dengan menatap wajah Mira dan memperhatikan matanya yang sembab.
"Kak," sahut Mira dengan suara yang lirih.
"Mau ke mana?" tanya Elkan kemudian.
"Ambil minum aja ke dapur, Kak," balas Mira.
Akhirnya dua remaja itu menuju ke dapur. Setibanya di sana Elkan berinisiatif mengambilkan gelas kaca dan mengisinya dengan air putih. Mira sampai mengamati Elkan yang terlihat melayaninya itu.
"Kak Elkan." Suara lirih Mira membuat Elkan tersenyum di sana.
Mira menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu, Kak. Tidak usah," balasnya.
Mira memilih minum terlebih dahulu. Kemudian Elkan menanyai Mira yang masih berdiri di dekat meja makan.
"Mira, kamu tadi menangis yah?" tanya Elkan.
Mira tampak kaget ketika Elkan bertanya kepadanya apakah dia tadi menangis. Apakah tadi bicaranya terlalu keras sampai Elkan yang ada di luar bisa mendengarnya. Atau memang wajah Mira sekarang terlihat bahwa dia usai menangis?
"Kalau mau cerita, cerita aja, Ra. Jangan dipendam sendirian," balas Elkan.
"Kangen Papa dan Mama kok, Kak," jawab Mira.
Ah, barulah Elkan tahu apa yang membuat Mira menangis. Rupanya karena Mira kangen dengan orang tuanya. Adalah hal yang wajar ketika Mira merasa kangen dengan orang tuanya, itu juga karena Mira tidak pernah berpisah dengan Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Ya, sabar ... anggap saja latihan, Ra. Nanti kalau kamu kuliah di Australia juga tidak ada Mama dan Papa. Yang kamu miliki hanya aku," jawab Elkan.
Menurut Elkan memang sekarang bisa menjadi latihan untuk Mira. Ketika Mira sudah kuliah di luar negeri tadi, tidak ada Mama dan Papanya. Yang dia miliki hanya Elkan saja.
"Kak," sahut Mira dengan suara lirih.
"Itu fakta, Ra. Jangan menangis yah. Mau aku beliin camilan di depan perumahan kita?" tanya Elkan.
Mira pun menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, Kak. Di luar hujan kok," balasnya.
"Pakai payung. Mau?" tawar Elkan lagi.
Mira pun tersenyum di sana. "Tidak usah, nanti Kak Elkan bisa masuk angin karena hujan-hujan. Makasih Kak, udah ditemenin ngobrol," balas Mira.
"Sama-sama, Ra. Kalau kamu sedih, kamu bisa mencariku. Kapan pun. Terlepas dari pernikahan kita berdua, kita bisa menjadi sahabat kan, Ra?"
"Kak Elkan mau sahabatan sama aku? Bukannya dulu Kak Elkan marah waktu pergi ke Singapura?" tanya Mira.
Elkan tersenyum tipis di sana. "Aku dulu memang marah sama kamu, Ra. Ku pikir waktu itu kamu jadian sama Jerome. Aku gak bisa terima kenyataan itu," balasnya.
"Aku gak pernah jadian sama Jerome," balas Mira.
"Sorry ya, aku mengira yang tidak-tidak. Maaf," ucap Elkan.
Mira menghela nafas kasar dan menatap Elkan. "Banyak yang terjadi dan kadang tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Jadi, lupakan saja, Kak," balas Mira.
"Iya, Ra. Jadi enggak beli camilan?" ajak Elkan lagi.
"Enggak, Kak. Makasih banyak. Aku kembali ke kamar ya, Kak," balas Mira.
Setidaknya bisa sedikit mengobrol dengan Elkan membuat Mira merasa lega. Sekaligus, Mira pun belajar nanti di Australia memang dia akan jauh dari Mama dan Papanya. Semoga saja nanti Mira bisa beradaptasi dengan baik. Tidak homesick berlarut-larut. Gadis itu kembali memasuki kamar dan berharap Papa dan Mamanya akan segera pulang dari Semarang.
__ADS_1