
Entah sekadar perilaku Elkan, atau memang Elkan terbiasa mengendarai mobil dengan pelan-pelan. Mira sampai beberapa kali tidak sabar lantaran Elkan mengemudikan mobilnya terlalu pelan. Beberapa kali mobil lain menyalipnya, dan Elkan masih terlihat santai.
"Kak El, cepetan dikit kenapa sih? Sudah menjelang waktu masuk sekolah loh. Masak iya, pertama kali kamu anter, justru terlambat," ucap Mira yang nyaris saja mendengus kesal dengan Elkan.
"Iya, aku tambah kecepatannya. Kan sekolah juga masuknya jam 08.00, Ra. Sekarang aja masih kurang dari jam 07.00," balas Elkan.
Kemudian Mira melirik Elkan, "Aku mau ke Perpustakaan dulu Kak. Mau belajar seputar Tes Potensi Akademik itu seperti apa," balas Mira.
"Alah, Tes Potensi Akademik atau TPA itu bisa kamu kerjakan dengan memejamkan mata," balas Elkan.
Ya, Elkan menjawab demikian karena dia sangat yakin bahwa Mira sudah pasti bisa mengerjakannya. Terlebih pada semester satu kemarin, Mira mendapatkan peringkat satu. Jadi, tes potensi akademik itu adalah hal yang mudah bagi Mira, menurut Elkan.
"Ya, cuma penasaran aja tipe soalnya seperti apa. Katanya sih, soal Ujian Nasional nanti akan mirip-mirip dengan Tes Potensi Akademik," balas Mira.
Kemudian Elkan menjawab ucapan Mira, "Untuk ujian yang penting kamu pahami tipe soalnya saja. Tipe soal itu yang keluar. Isi soalnya bisa berbeda-beda, tapi tipenya sama. Aku sudah pengalaman karena ikut di berbagai kursus tambahan jadi sudah tahu tipe soal mana saja yang keluar di Ujian Nasional," balas Elkan.
"Ya, kan aku mau mengamati tipe soalnya," balas Mira.
__ADS_1
"Nanti pulang mampir ke rumahku aja, aku kasih bukunya, setebal ini," balas Elkan dengan mengangkat tangannya membuat isyarat dengan tangan mengenai seberapa tebal buku TPA itu.
Mira mendengus kesal, "Ck, mungkin akal-akalan kamu aja untuk mengajakku pulang ke rumahmu," balas Mira.
Elkan pun tersenyum perlahan, "Pulang ke rumah mertua dan suami sendiri juga tidak masalah, Ra," balasnya. "Ra, cincin nikah di jari kamu jangan sampai dilepas yah. Awas kalau kamu sampai melepasnya," kata Elkan lagi.
"Emangnya Kak El memakai cincin pernikahan kita juga?" tanyanya.
Elkan menunjukkan tangannya, "Lihatlah sendiri, cincin ini akan selalu melingkar di tanganku," balas Elkan.
Akhirnya Mira memilih untuk diam dan kemudian dia memperhatikan jalanan di Ibukota dan sekarang mobil yang dikemudikan Elkan sudah memasuki parkiran sekolah. Setelahnya, keduanya sama-sama keluar dari mobil.
"Ra, kamu barengan sama dia?" tanya Bagas dengan pandangan menyelidik.
Ah, rasanya paginya begitu malas. Baru saja keluar dari mobil dan sudah bertemu dengan Bagas. Terlebih sikap Bagas yang berlebihan menurut Mira. Toh, tidak ada apa-apa di antara mereka. Namun, Bagas justru berperan bahwa keduanya memang pacaran di sekolah.
"Eh, iya Ra ... loe, barengan sama Elkan?"
__ADS_1
Sonya yang baru datang pun turut menimbrung dan juga bertanya kenapa Mira bisa satu mobil dengan Elkan. Fixed, jika Sonya tahu, sudah pasti teman sekelasnya akan tahu bahwa pagi ini Mira datang ke sekolah bersama Elkan. Kedatangan mereka bersama dalam satu mobil dengan begitu cepatnya terdeteksi.
"Gas, gimana sih loe ... katanya loe pacarnya Mira. Kok bisa sih pacar loe berangkat ke sekolah sama cowok lain," ucap Sonya yang seakan justru memperbesar percikan api.
"Gue bukan pacarnya Bagas," jawab Mira dengan tegas. Setidaknya dia harus mengakui kebenaran bahwa dia tidak pernah menjadi pacarnya Bagas.
"Udahlah Ra ... orang satu sekolah juga tahu kalau kalian berdua pacaran," balas Sonya.
Mira menghela nafas panjang, berdebat dengan Sonya dan Bagas tidak ada gunanya. Oleh karena itu, Mira memilih berlalu pergi dan masuk ke dalam kelasnya. Meladeni orang seperti Bagas dan Sonya tidak ada untungnya sama sekali.
Sepeninggal Mira, Bagas masih menatap Mira dari jauh. Hingga Sonya mendekati Bagas dan menepuk bahu Bagas perlahan.
"Kalau benar dia pacar loe, harusnya loe berani. Bukan hanya diem seperti ini. Sebelum Elkan merebut Mira dari sisi loe. Gue sepenuhnya dukung loe dengan Mira, Gas. Namun, loe juga harus dukung dan dekatin gue dengan Elkan. Gimana setuju enggak?"
Sonya membuat penawaran dengan Bagas sekarang. Dia sepenuhnya mendukung Bagas dengan Mira. Asalkan, Bagas juga bisa mendekatkannya dengan Elkan.
"Jangan diem aja. Masa kita di Putih Abu-Abu tinggal satu semester. Setidaknya dalam satu semester loe bisa dapatin Mira, dan gue dapatin Elkan. Gimana setuju enggak?"
__ADS_1
Bagas yang semula diam, akhirnya menganggukkan kepalanya, "Oke, gue akan atur supaya loe bisa deket sama Elkan," jawab Bagas.
Sonya pun tersenyum bahagia. Ambisinya sekarang adalah bisa mendapatkan Elkan. Walau masa di Putih Abu-Abu akan segera berakhir. Akan tetapi, Sonya sangat ingin untuk mendapatkan Elkan.