Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Filosofi Kacamata


__ADS_3

Selang satu hari berlalu, sekarang Mira tampak serius untuk belajar untuk latihan ujian keesokan harinya. Saking begitu seriusnya, sampai Mira tidak menutup pintu kamar tamu yang sekarang dia tempati. Hingga akhirnya terdengar ketokan dari pintu kamar yang sedikit terbuka itu.


Took ... took ....


Mira yang kaget pun, menoleh sesaat ke arah pintu. Gadis itu menghela nafas sembari menggaruk kepalanya karena lupa untuk menutup pintu kamar yang sekarang dia tempati. Namun, belum sempat dia berdiri, si pengetuk pintu sudah masuk terlebih dahulu.


Pemuda tampan yang kali ini hanya mengenakan kaos oblong rumahan dan celana pendek. Rambutnya pun acak-acakan. Padahal biasanya, pemuda itu selalu tampil rapi. Bahkan ketika sekolah, sering kali dia mengenakan pomade di rambutnya supaya rapi.


"Ra, baru ngapain?" tanya Elkan yang baru saja memasuki kamar Mira itu.


"Baru belajar, Kak ... kan besok latihan ujian tiga hari. Kak El gak belajar?" tanyanya.


"Gak usah belajar sih ... cukup mengamati tipe soalnya saja," jawab Elkan.


Menurut Elkan yang dia amati hanya tipe soal saja. Isi soal bisa berubah, tapi tipenya akan selalu sama. Oleh karena itu, Elkan yang sudah merasa yakin dengan kemampuannya memilih untuk tidak belajar.


"Kalau udah pinter sih, gak usah belajar, nanti nilainya juga paling bagus," balas Mira.


"Gak lah ... rangking satu di kelas dan di sekolah kita kan kamu, Ra ... Miranda Lastika," balasnya.


Ya, pada faktanya yang menjadi rangking satu di kelas dan di kelas 12 IPA satu sekolah adalah Mira. Itu berarti bahwa memang Mira adalah seorang siswi yang cerdas. Fokus kuliah dan juga memiliki cita-cita yang tinggi.

__ADS_1


"Kamu memang pinter, Kak ..., tapi aku kalau gak belajar ya gak bisa," balasnya.


Kata orang memang ada orang yang cerdas dari genetif mereka. Biasanya orang tua yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas juga. Sementara ada lain yang menjadi pintar karena belajar setiap harinya. Mungkin itulah yang coba Mira sampaikan sekarang. Tidak dipungkiri Papa Belva begitu pandai, sehingga Elkan pun juga pandai. Tidak hanya itu Evan dan Eiffel juga adalah anaka-anak yang cerdas secara kognitif. "Intelligence is not an inheritance, but a habit," jawab Elkan.


Pemuda itu mengatakan bahwa kecerdasan itu bukan warisan atau sesuatu yang diturunkan, tapi karena kebiasaan. Memiliki kebiasaan belajar, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, hingga mau berusaha, akhirnya menjadi cerdas.


"Kamu pintar karena kamu memiliki kebiasaan untuk belajar. Rasa ingin tahumu juga tinggi. Layak, jika kamu menjadi yang terbaik di sekolah," ucap Elkan.


Mira memilih menundukkan wajahnya. Ucapan Elkan sekarang seakan seperti sanjungan untuknya. Bahkan bisa saja memotivasi Mira untuk bisa belajar dengan lebih giat untuk mempertahankan prestasinya di bidang akademik.


"Oh, iya Kak ... Kak El ke sini ngapain?" tanya Mira kemudian.


Elkan pun menganggukkan kepalanya dan mengulas sedikit senyuman di wajahnya. Kemudian dia menyerahkan sebuah kotak dengan warna coklat di sana ada gambar burung hantu di sisinya, sebuah brand kacamata.


Tangan pemuda itu terulur dan memberikan kotak coklat itu kepada Mira. Sementara Mira tampak mengamati Elkan dan sesekali pandangannya berpindah ke kotak coklat yang disodorkan Elkan kepadanya.


"Kak," ucap Mira lirih.


Elkan pun menganggukkan kepalanya. "Kacamata kamu kan rusak, Ra ... jadi, aku belikan yang baru. Terimalah," ucapnya lagi.


Merasa tangan Mira lama untuk terulur dan menerima pemberiannya, Elkan pun memegang tangan Mira, menuntun tangan yang halus itu untuk menerima pemberian darinya itu.

__ADS_1


"Aku tahu, itu hanya kacamata baca, tapi kamu menyukainya. Jadi, sekarang kenakan yang baru. Biar aku akan membantumu belajar, aku hadir melalui kacamata ini," ucap Elkan.


Ya Tuhan, begitu manisnya Elkan. Ketika banyak orang mempresentasikan kehadirannya melalui bunga, perhiasan, atau barang lainnya. Elkan justru ingin menunjukkan kehadirannya melalui kacamata.


"Kamu tahu arti kacamata, Ra?" tanya Elkan perlahan.


Mira bak kehilangan kata-kata. Gadis itu hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak bisa mengucapkan satu patah kata pun.


"Kacamata itu adalah dua buah lensa yang ditopang oleh bingkai. Sama seperti aku dan kamu. Dua pribadi, yang disatukan Allah bersama. Jika bingkai atau frame ini hanya memiliki satu lensa, tidak akan sempurna. Namun, karena ada dua lensa, maka masalah penglihatan pun teratasi. Sama seperti kita berdua, ketika dua sudah menjadi satu, maka tidak ada lagi yang perlu kita ragukan."


Elkan mengucapkan itu dengan sungguh-sungguh. Tangan Mira yang ada di atas telapak tangan Elkan pun tiba-tiba menjadi dingin, karena gadis itu begitu grogi sekarang. Jantungnya berdetak melebihi ambang batasnya, sejak kapan Elkan bisa berbicara dengan begitu manis.


Belum sempat Mira menjawab, rupanya keduanya dikejutkan dengan Mama Sara yang memasuki kamar Mira. Ingin menarik tangannya pun sia-sia, karena Mama Sara terlanjur mengetahui keberadaan mereka berdua.


"Ngapain di sini, El?" tanya Mama Sara.


"Oh, ini ... ini, Ma," jawab Elkan dengan tergagap-gagap.


Bukan marah, Mama Sara justru tersenyum di sana. Sedikit menyadari anak-anak dengan romansanya. Lantas, Mama Sara menatap kotak coklat dengan gambar burung hantu di sudutnya itu. Mama Sara sudah tahu apa yang dibawa Elkan sekarang.


"Ma, maaf, Ma," ucap Mira yang merasa tidak enak dengan Mama mertuanya.

__ADS_1


"Ma, Elkan cuma mau memberikan ini, Ma ... kacamata," ucapnya.


Setelahnya Elkan menaruh kacamata itu di kedua tangan Mira, dan Elkan pergi begitu saja. Walau sudah suami istri, tetap sama mereka masih belia, malu dengan Mamanya, dan takut dimarahin oleh Mama Sara karena memasuki kamar Mira. Begitu lucunya Elkan yang pergi ngacir begitu saja. :D


__ADS_2