
Semalam nyatanya Elkan tidak melanjutkan aksinya. Pemuda itu sudah cukup puas dengan mencium bibir Mira. Namun, ada yang berbeda karena malam itu keduanya tidur bersama dalam satu ranjang.
Jika ditanya apakah sungkan? Ya, tetap saja mungkin. Keduanya adalah anak-anak muda belia, baru mengenal cinta, tidak pernah punya interaksi sebelumnya dengan lawan jenisnya. Tidur pun bukan memeluk. Cukup saling berhadap-hadapan dan saling menggenggam tangan.
"Waktu kecil, kita pernah tidur dengan tangan saling menggenggam seperti ini kan?" tanya Elkan perlahan.
"Hmm, iya. Aku pernah melihat fotonya di rumah," balas Mira.
Elkan tersenyum dan menatap Mira. "Kita jalani semuanya pelan-pelan saja ya, Ra," ucap Elkan.
Mungkin juga karena menilai usia masih muda. Apa yang ingin mereka capai dalam hidup juga begitu banyak. Sehingga, lebih baik bagi Elkan untuk menjalaninya pelan-pelan. Walau demikian, selalu ada target tersendiri. Jika satu semester di SMA bisa diraih dengan baik, tidak mengganggu sekolah. Kali ini, Elkan juga berharap demikian bisa meraih yang baik di bangku kuliah.
"Iya, Kak ... pelan-pelan saja. Setidaknya kuliah juga sampai lulus dulu ya Kak," balas Mira.
"Walau pelan-pelan, selalu jaga hubungan dan perasaan kita ya Mira. Selamanya, aku hanya mau sama kamu," ucap Elkan kali ini dengan serius.
Mira tersenyum dan memberikan anggukkan. Hingga akhirnya gadis itu memejamkan matanya. Masih membiarkan tangan Elkan untuk menggenggamnya. Pun Elkan yang tersenyum tipis dan mulai memejamkan mata juga. Pelan-pelan tidak masalah asal semuanya berjalan sebagaimana mestinya.
***
Pagi Hari Menyapa ....
Pasangan pengantin muda itu terbangun ketika surya belum menampakkan sinarnya. Itu juga karena Mira ingin bangun pagi dan membantu Mamanya menyiapkan sarapan. Akan tetapi, Elkan nyatanya tidak melepaskan genggamannya di tangan Mira. Sudah menggenggamnya sepanjang malam, pagi hari pun masih selalu menggenggam tangan itu.
"Pagi, Ra," sapa Elkan dengan suara yang khas orang bangun tidur. Sedikit serak.
"Pagi, Kak ... aku mau bantuin Mama dulu boleh?" tanya Mira.
Akan tetapi, Elkan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Gak boleh. Temani aku saja, Ra. Di sini," pintanya.
__ADS_1
Mira diam. Menerka apa maksud ucapan Elkan itu. Namun, juga masak sepanjang pagi hanya akan berbaring di atas ranjang dan tangan saling menggenggam saja?
Akhirnya pagi itu tak ada yang Mira lakukan. Dia hanya berbaring di sisi Elkan. Membiarkan saja suaminya yang terus-menerus menggenggam tangannya. Bahkan sekarang sudah jam 07.00 pagi.
"Kita mau nyebrang atau kamu takut kehilangan aku sih, Kak?" tanya Mira dengan menatap wajah Elkan di hadapannya.
"Aku ingin selalu menggenggam tangan kamu seperti ini, Ra. Sama seperti yang Mama dan Papa minta, aku akan selalu menjaga kamu. Ya sudah, mandi yuk," ajak Elkan.
Mira tampak menarik selimut dan mempertahankannya di dadanya. Tentu juga tidak mungkin akan mandi bersama dengan Elkan. "Eh, Kak," balasnya.
Pemuda itu kembali tersenyum. "Mandinya gantian. Kamu dulu sana. Aku tunggu di sini," ucap Elkan.
Akhirnya mereka gantian. Secara tidak sengaja warna baju yang dikenakan Mira dan Elkan sama pagi itu yaitu putih. Pasangan pengantin itu, keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan yang ada di taman. Seluruh keluarga juga sudah berkumpul di sana.
"Wah, pengantinnya baru tampak," ucap Mama Marsha.
"Tidak apa-apa, Ra. Namanya juga pengantin baru. Sekarang, sudah lulus SMA juga. Officially, kalau kalian mau ngapa-ngapain juga boleh. Sudah dalam koridor pernikahan, tapi jangan gegabah saja," nasihat dari Mama Marsha.
"Makasih nasihatnya, Ma," balas Mira.
Evan yang turut mengikuti sarapan pagi itu tersenyum menatap adiknya. Memang kadang tidak percaya, Elkan yang masih muda nyatanya justru sudah menikah terlebih dahulu.
"Semalam sukses cetak gol enggak, El?" tanya Evan.
Tentu saja seluruh keluarga tertawa. Jika Elkan hanya senyam-senyum, Mira justru menundukkan wajahnya. Bagaimana pun, rasanya tetap malu.
"Atau main lato-lato?" tanya Evan dengan begitu absurdnya.
"Sudah, Evan. Jangan dibercandain adik-adiknya. Malu tuh, Mira," balas Mama Sara.
__ADS_1
Evan melirik ke Mira yang memang begitu malu dengan wajahnya memerah. "Mira, ntar kalau di Sydney, Elkan macam-macam atau kepincut bule, bilang aku aja. Biar aku geprek ini bocah."
"Ya elah, Kak ... gak akan kepincut sama bule. Aku lebih suka cita rasa nusantara," balas Elkan yang juga tak kalah absurd.
"Halangan dalam pernikahan itu ada-ada saja, El. Biar karena harta, tanya, atau wanita. Papa sudah pengalaman sebelumnya. Namun, tergantung keteguhan hati kamu. Kamu ingin selalu berkomitmen dalam pernikahanmu tidak. Jika, memang mau komitmen ya harus dimulai dari hati. Jangan anggap pernikahan ini main-main walau kalian masih muda," ucap Papa Belva.
Ya, pernikahan dengan usia belia banyak orang mengatakan rentan dengan pertengkaran dan perceraian. Anak muda yang labil dan belum matang secara emosi menjadi pemicu rumah tangganya hanya berjalan sesaat. Namun, jika memang sudah berkomitmen ya sudah, lakukan dan jalani dengan hati. Jangan pernah pernikahan sebagai permainan. Harus memiliki sudut pandang bahwa menikah seharusnya sekali untuk selamanya.
"Makasih, Pa ... nasihatnya," balas Elkan.
"Papa cuma menasihati, El. Kalian masih muda, perjalanan masih panjang. Kestabilan emosi juga sangat perlu. Nah, makanya ketika dalam perjalanan kalian nanti menemui masalah, kalian bisa cerita kepada Mama dan Papa. Kami bukan orang tua yang turut campur, tapi membantu kalian melakukan pemecahan masalah. Ada Mama Sara, Mama Marsha, Papa Abraham, dan Papa sendiri. Jangan ragu untuk bertanya."
Memang Papa Belva adalah tipe orang yang karismatik. Begitu dia berbicara, orang-orang di sekitarnya bisa diam dan perhatian penuh kepada Papa Belva. Seperti pagi itu, mereka mendengarkan nasihat dari Papa Belva.
"Pasti, Pa. Bagaimana pun Elkan dan Mira juga masih kecil. Masih perlu dibimbing," balas Elkan.
Papa Belva menganggukkan kepalanya. "Berani menikah, berarti kamu berani bertanggung jawab atas hidup Mira, anak perempuannya Papa Abraham. Jadi, jangan sakiti dia. Jaga istrimu. Sebab, kalau kamu menyakiti Mira, yang terluka juga kami semua."
Cukup lama Papa Belva memberikan nasihat kepada Elkan dan Mira. Sampai Evan berceletuk. "Dapat konseling pernikahan dari Papa," sahutnya.
"Sekaligus untukmu, Evan. Kalau ada cewek yang cocok, bawa ke Mama dan Papa. Pasti Mama dan Papa tidak memiliki syarat khusus dan akan memberikan restu," balas Papa Belva.
Setelah pembicaraan serius, mereka menikmati sarapan. Walau Evan masih menggoda-goda Elkan, tapi memang begitulah saudara. Tidak pernah bertemu, tapi begitu ketemu ada saja sikap usilnya.
"Mau ke kamar lagi?" tanya Evan dengan tiba-tiba kepada Elkan.
"Enggaklah, Kak Evan seudzon melulu. Mau duduk di taman, nikmati udara segar di sini," balas Elkan.
Evan tertawa. Rasanya menggoda pengantin baru terasa menyenangkan. Evan juga bahagia untuk Mira dan Elkan. Adiknya sudah lama menyukai Mira, jadi begitu bisa menikahi Mira, Evan tentu senang.
__ADS_1