
Evan sendiri yang mengemudikan mobil berjenis Alphard itu. Sehingga tiga pasangan itu bisa memasuki mobil, jarak rumah yang berdekatan satu sama lain membuat Evan juga siap mengantarkan keluarga Narawangsa ke rumahnya. Justru, Evan merasa senang karena bisa menjemput keluarganya usai dari Sydney.
"Gak sibuk ya, Van?" tanya Mama Marsha.
"Libur, Tante. Mau jemput adik-adik dulu, kangen," balasnya.
Mama Marsha menganggukkan kepalanya. Rasa kasih sayang persaudaraan begitu kental. Evan dan Elkan yang adalah cowok saja bisa begitu rukun. Keduanya bahkan tak pernah berantem, sangat akur sejak kecil. Oleh karena itu, sekarang bisa bertemu lagi membuat Evan sendiri sangat bahagia.
"Luar biasa, Kak Evan ini," balas Mama Marsha lagi.
"Makasih, Tante."
Usai itu, Evan melajukan mobilnya ke rumah makan Padang. Dia ingin menjamu khususnya Elkan dan Mira dengan makanan yang enak, yaitu Nasi Padang. Evan tahu tidak banyak rumah makan Padang di Sydney, karena itu dia membawa rombongan untuk makan terlebih dahulu.
"Kita makan dulu yah. Spesial untuk El dan Mira yang pasti jarang makan Nasi Padang di Australia," kata Evan.
"Ada sih, Kak ..., tapi rasanya tidak senikmat di tanah air," balas Mira.
"Makanya itu, khusus untuk kalian berdua. Kalau Mama dan Papa, Om Bram dan Tante Marsha menyesuaikan," balas Evan dengan tertawa.
"Tidak apa-apa, Van ... biar lidah adik-adikmu kembali ke lidahnya orang Indonesia," balas Papa Belva yang juga tertawa.
Setidaknya Papa Belva tahu bahwa lama tinggal di luar negeri membuat lidah sebagai indera perasa dan pengecap juga beradaptasi, selera juga berubah. Papa Belva justru setuju ketika Evan mengajak mereka mampir ke Rumah Makan Padang.
"Belum lama tadi sarapan di pesawat, duh auto berat badan naik dong," kata Mira.
"Naik, gak apa-apa, Honey. Always cinta," balas Elkan.
Mendengarkan ucapan Elkan membuat Mira tersenyum. Sebab, memang belum lama mendapatkan sarapan di pesawat. Sekarang, sudah diajak makan lagi otomatis berat badan akan bertambah.
__ADS_1
Di Rumah Padang itu nasi dan seluruh lauk disiapkan. Benar, seolah membawa kembali ke Tanah Air. Aroma Rendang yang menggugah selera dan juga sambal hijau yang jarang sekali mereka temui kala di Sydney.
"Nikmati yah ..., makan yang banyak. Belum ke Indonesia kalau belum kembali mencicip semua masakan ini," kata Elkan.
Masakan Padang seolah menggugah selera makan tersendiri. Mira pun mengisi piring kosong di depan suaminya. Untuk lauk, karena pilihannya beragam, sehingga mereka memilih sendiri seperti selera.
"Aromanya saja sudah begitu harum," kata Mira dengan mengangkat piringnya dan mencium aromanya.
"Kamu ini, Ra," balas Evan.
"Sah, sudah di Indonesia," balas Mira.
Semua yang ada di sana pun tertawa. Geli melihat reaksi Mira layaknya anak kecil itu. Setelah itu, mereka semua begitu lahap menikmati Masakan Padang. Keringat pun menyertai, karena pedas dari Sambal Hijau. Namun, semuanya sangat enak dan benar-benar menggugah selera.
"Sampai lupa, kapan makan seenak ini," balas Elkan.
"Untuk makanan, cita rasa Nusantara selalu terdepan, El," balas Evan.
Usai itu, Evan yang bergegas dan membayar semuanya. Sebenarnya Papa Belva hendak membayarnya, tapi Evan menolak. Bagi Evan ini adalah caranya menyambut Elkan dan Mira.
Setelah dari Rumah Makan Padang, Evan kemudian mengajak rombongan untuk kembali ke rumah. Sebelum memasuki kawasan perumahan keluarga Narawangsa dan keluarga Agastya, Evan membelokkan mobilnya ke cluster dekat dengan rumahnya.
"Kok belok ke sini?" tanya Elkan bingung.
Namun, semua orang yang ada di sana tidak ada yang menjawab. Membiarkan saja Elkan dan Mira menerka-nerka. Hingga akhirnya, mobil Alphard itu berhenti di sebuah perumahan dengan gaya Mediterania yang indah.
"Rumah barunya Papa?" tanya Elkan.
Dengan kekayaan yang fantastis, sangat wajar jika Papanya memutuskan untuk pindah rumah. Sehingga, memang Elkan mengira itu adalah rumah baru Papanya.
__ADS_1
"Elkan dan Mira ... di Australia kalian sudah terbiasa hidup bersama, mandiri berdua. Sesayang dan serindunya kami dengan kalian berdua, tapi kalian adalah pasangan suami istri dan sudah terbiasa hidup berdua, mandiri. Jadi, rumah ini adalah hadiah dari Papa dan Mama, Papa Bram dan Mama Marsha untuk kalian berdua. Buat dan ciptakan kebahagiaan kalian berdua. Walau begitu, sering-seringlah menginap ke rumah orang tua. Kami masih rindu dengan kalian," kata Papa Belva.
Hadiah yang sempurna. Ternyata rumah indah itu adalah hadiah dari orang tua dan mertuanya. Mira sampai menangis dan memeluk Papanya. Sangat terharu rasanya.
"Ini terlalu bagus, Pa," kata Mira dengan terisak.
"Yang terbaik untuk anak-anak kami. Untuk kamu dan Elkan," balas Papa Abraham.
"Benar, Mira ... kami orang tua berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga nanti tangisan bayi akan semakin meramaikan rumah ini yah," balas Papa Belva.
"Makasih banyak, Papa," kata Mira.
"Makasih banget, Pa," kata Elkan.
Keduanya bergantian memeluk Mama dan Papa serta mertuanya. Semula mereka berpikir akan tinggal dengan keluarga mereka terlebih dahulu. Ternyata justru hadiah yang sangat fantastis sudah disediakan oleh keluarga Agastya dan Narawangsa.
"Rumah kalian ini dekat dengan Kak Evan. Berbeda cluster saja, jadi kalian bisa tetap dekat. Mira nanti bisa main-main dan kenalan dengan Kak Andin," kata Mama Sara.
"Iya, Ma," balas Mira.
Usai itu keluarga memilih berpamitan. Papa Abraham menyerahkan kunci rumah itu kepada Elkan. Di sana sudah ada sepeda motor dan mobil milik Elkan waktu SMA dulu. Papa Belva berencana membelikan mobil baru, tapi sudah tahu bahwa Elkan pasti menolak. Oleh karena itu, cukup sepeda motor dan mobil lama Elkan saja.
Memasuki rumah baru itu berdua, lagi-lagi Mira menangis, terharu, bahagia, dan tidak bisa berkata-kata. Sebab, rumah itu sangat indah dan juga sangat bersih. Bukti bahwa keluarga mereka sudah mempersiapkan semuanya.
"Rumah baru, masa baru di Jakarta. Kita lalui semuanya yah, Honey," kata Elkan.
"Iya, Kak ... serasa mimpi, tapi ini sangat bagus," balas Mira.
"Kita ambil istirahat sejenak. Nanti kalau sudah lepaskan kontrasepsimu yah. Kalau sudah, kita program baby twins," kata Elkan.
__ADS_1
"Iya, Kak ... kita akan melakukan semuanya secara bertahap. Sungguh luar biasa rasanya," balas Mira.
Setiap rencana sudah dipetakan di kepala. Elkan akan membantu untuk membuat planning matang. Sejenak istirahat dan nanti mereka akan bersiap melakukan planning selanjutnya dan juga tentunya Elkan akan kembali bekerja secara full time. Walau masih muda, Elkan mau bekerja keras dan bertanggung jawab untuk istri dan buah hatinya nanti.