Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Huru-Hara Keluarga


__ADS_3

Menjadi anak sulung di rumah, dan dalam suasana duka seolah Mama Marsha harus pontang-panting sendiri. Dari sejak di Rumah Sakit, hingga jenazah dipulangkan ke rumah duka, dan di pemakaman, semuanya diatur Mama Marsha sendiri. Untunglah ada Papa Abraham yang selalu menemani dan membantu Mama Marsha. Andai saja, Mama Marsha memiliki saudara yang lain, yang bisa dimintai tolong pastilah ada yang menolongnya, dan tidak pontang-panting sendirian. Malam hari usai pemakaman dan keluarga Agastya juga berkumpul di sana, barulah Mama Marsha bisa mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya. Terkhusus adalah Mama Sara, yang bukan hanya besan, tapi mereka adalah teman yang baik sejak lama.


"Terima kasih sudah datang jauh-jauh ke Semarang," ucap Mama Marsha.


"Pasti kami datang. Mama sakit apa sebenarnya?" tanya Mama Sara di sana.


"Mama sudah menua dan sakit-sakitan, Allah lebih sayang Mama," balas Mama Marsha.


"Semua untuk pemakaman dan lain-lain sudah selesai urusan kan, Besan?" tanya Papa Belva kemudian.


Mama Marsha pun menganggukkan kepalanya. "Sudah, sudah kami selesaikan semuanya. Dari mulai biaya di rumah sakit, sampai pemakaman tadi sudah kami selesaikan semuanya," balasnya.


"Maaf, Jeng ... suaminya Mama mana? Dulu kamu bilang kan Mama menikah dengan pria yang lebih muda?" tanya Mama Sara.


Masih teringat dengan cerita Mama Marsha dulu bahwa Mamanya akhirnya menikah lagi dengan pria muda yang seumuran dengan Mama Marsha. Namun, Mama Sara juga penasaran. Sebab, sejak Mama Sara datang ke Semarang, yang terlihat hanya Mama Marsha di sana.


"Kalau Papa kan sudah bahagia bersama istrinya di Denpasar sekarang. Jadi ya, Papa gak datang. Sementara, suami mudanya, hanya morotin hartanya Mama. Sama seperti dugaanku dulu kalau suaminya itu tidak bener. Bahkan di saat terakhirnya, suaminya itu gak datang," balas Mama Marsha.

__ADS_1


Ada kalanya prahara rumah tangga terjadi karena kesalahan dalam memilih pasangan. Waktu itu, Mama Ria berpikir bahwa semuanya akan baik-baik. Bahkan kala itu Mama Marsha harus kembali terluka dengan keputusan Mamanya. Hasrat ingin bertemu orang yang menjadi pasangannya, harus sirna karena sang suami yang lebih muda memilih untuk tidak lagi menemui Mama Ria.


"Sabar ya, Jeng ... Insyaallah, ketika kita ikhlas, ketika kita tidak mempermasalahkan harta duniawi, Allah akan takar dan gantikan semuanya," ucap Mama Sara.


"Kami tidak pernah mempersoalkan perihal harta duniawi. Sejak dulu, tetapi Allah gantikan semuanya berlipat-lipat," balas Mama Marsha.


Ya, itu adalah pengakuan yang benar bahwa dulu ketika suaminya, Papa Abraham mendapatkan warisan dari Papa kandungnya, mereka menolak. Tidak mau menerima pembagian warisan dari almarhum Papa Narawangsa. Memilih membangun semuanya dari awal, mengandalkan kerja keras. Walau pada akhirnya, ketika Mama Saraswati hendak tiada, sepenuhnya harta warisan diberikan kepada Papa Abraham sebagai satu-satunya ahli warisnya.


"Sabar dan kuat yah," ucap Mama Sara lagi.


Sekarang mereka memilih untuk beristirahat sejenak. Sembari menenangkan hati dan pikiran mereka. Juga berpikir untuk menentukan lagi keputusan mana yang akan mereka ambil.


Pagi ini di Semarang ....


Suasana duka masih terasa di kediaman itu. Namun, pagi ini Mira dan Mama Sara terbangun lebih dahulu. Menantu dan mertua itu tampak bersiap mempersiapkan sarapan.


"Mira bantu apa, Ma?" tanya Mira kepada Mama Sara.

__ADS_1


"Kupas sayuran dan nanti dadar telor ya, Ra," ucap Mama Sara.


"Baik, Ma," balas Mira.


Keduanya bersama-sama menyiapkan sarapan, dan kemudian Mira menyapu halaman depan rumah. Supaya rumah itu lebih bersih. Namun, Mira masih fokus menyapa, ada seorang pria seumuran Papanya yang datang ke rumah pagi itu.


"Pagi, ini rumahnya Bu Ria kan?" tanya pria itu.


"Iya, tapi Nenek sudah tiada, kemarin," balas Mira.


Melihat ada orang asing yang datang, orang yang ada di dalam rumah pun keluar. Termasuk Mama Marsha dan Papa Abraham. Begitu kagetnya mereka, karena yang datang adalah suami muda almarhumah Nenek Ria. Benar-benar menjadi huru-hara baru.


"Kebetulan sedang berkumpul, waktu yang tepat," ucap pria itu.


"Ada apa?" tanya Mama Marsha dengan menunjukkan raut wajah tidak suka.


"Aku mau mengambil alih rumah ini, karena ahli waris dari semua aset Bu Ria adalah aku," ucapnya.

__ADS_1


Mama Marsha tersenyum miris dengan menggelengkan kepalanya. "Tanah pemakamannya saja masih basah, belum kering, dan kamu sudah mempermasalahkan harta warisan. Di saat terakhirnya, kamu tidak mengurusnya, tapi ketika sudah tiada meminta warisannya. Tidak akan!"


Yang Mama Marsha pikirkan adalah suami kedua Mamanya itu sungguh keterlaluan. Ketika tanah pemakaman almarhumah masih basah, dan di pagi hari sudah ada yang datang dan mengklaim warisan. Seharusnya mengurusi terlebih dahulu ketika almarhumah hidup. Tidak cuci tangan begitu saja. Sungguh, ini menjadi pagi penuh huru-hara untuk Mama Marsha.


__ADS_2