Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Bay Sand Island


__ADS_3

Ketika seluruh keluarga berkumpul sangat sayang jika hanya dihabiskan untuk di rumah. Oleh karena itu, sekarang seluruh keluarga melakukan hiking bersama. Mama Sara dan Papa Belva, Mama Marsha dan Papa Abraham, Elkan dan Mira, dan tentunya Evan yang turut serta.


"Kita ke mana sekarang?" tanya Evan kepada orang tuanya.


"Bay Sand Island," balas Papa Belva.


Elkan sudah senyum-senyum sendiri karena memang di sudah sempat mencari tahu seperti apa Bay Sand Island itu. Menurut Elkan, tempat itu memang sangat bagus. Birunya lautan dan karang yang menjulang tinggi. Serta jalanan setapak di mana kanan dan kirinya dipenuhi ilalang menjadi tempat yang sangat indah. Elkan percaya bahwa Mira akan senang dengan tempat itu.



"Duh, aku jadi pengawal dong," ucap Elkan.


Evan yang berjalan di belakang Mama dan Papanya, Tante Marsha dan Om Abraham, juga Elkan dan Mira. Sebagai pasangan tentu mereka sangat romantis satu sama lain. Sementara Evan hanya berjalan sendiri. Seolah-olah dia menjadi pengawal.


Mendengar apa yang disampaikan Evan, Mama Sara melepaskan tangannya dari tangan suaminya, kemudian dia mengapit lengan putranya itu. "Sini, kamu sama Mama. Biar Papa yang jadi pengawalnya kita berdua," balas Mama Sara.


Papa Belva sekarang yang tersenyum melihat istri dan putra sulungnya itu. Namun, memang Evan itu dekat dengan Mamanya. Ada hari ketika Evan pulang dari London, bisa berlama-lama tiduran di pangkuan Mamanya. Kadang, Papa Belva juga seperti melihat putranya itu manja dengan Mamanya. Namun, di satu sisi Papa Belva juga sadar, Evan kuliah di London, jadi pasti kangen juga dengan Mamanya.


"Jangan terlalu lama menjomblo dong, Kak. Kakakku ini kurang apa coba cakep iya, pinter juga iya, keren juga iya, dan juga tajir. Duh, lencana kamu itu banyak Kak. Masak ya betah menjomblo sih?" tanya Elkan kepada Kakaknya itu.


"Kuliah dulu, El. Masak iya, Kakak mau kecil-kecil jadi manten, kayak kamu," balas Evan dengan tertawa.


"Penting bertanggung jawab, ya kan Papa Bram?" tanya Elkan kepada Papa mertuanya.


Sekarang Papa Abraham menganggukkan kepalanya. "Pria dipercaya karena ucapan dan sikapnya. Kalau pria berani menikah itu berani bertanggung jawab, El. Tanggung jawab atas anak orang lain," jawab Papa Abraham.

__ADS_1


"Elkan akan selalu bertanggung jawab, Pa," balasnya.


"Selalu lakukan, El. Buktikan bahwa anak muda yang memasuki dunia pernikahan, bisa bertahan dan tanggung jawab juga," balas Papa Abraham juga.


Ya, itu adalah nasihat dan motivasi dari Papa Abraham untuk Elkan dan Mira. Bagaimana mereka yang masih muda, bisa bertahan dan bertanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga. Yang muda pun juga bisa menjadikan pribadi yang tangguh dan bisa membawa rumah tangga mereka hingga till jannah.


Orang berkata kehidupan pernikahan itu bisa saja jungkir balik. Menyatukan dua orang dengan berbeda latar belakang dan juga berbeda pikiran. Akan banyak benturan dan gesekan. Namun, yang pasti adalah niat untuk terus bertahan dan menyelesaikan semua masalah. Mengisi tangki air cinta dengan penuh.


"Nah, sembari ngobrol gak terasa kan kita sudah sampai di Bay Sand Island. Ini salah satu panti terindah di Warrnambool," ucap Papa Belva.


Semuanya begitu terpukau dengan lautan biru dengan ombaknya yang berdeburan, walau tidak terlalu besar. Batu-batu karang yang menjulang tinggi. Benar-benar adalah tempat yang indah.



"Seperti di Bali," ucap Mama Sara.


"Iya, jadi ingat Bali, yang di villa kamu dulu," balas Mama Sara.


"Suka, Honey?" tanya Elkan kepada Mira.


"Banget. Dua tempat yang kita kunjungi di sini sangat indah. Dari Desa Maritim dan sekarang Bay Sand Island," balas Mira.


Elkan tentu senang karena dia sudah mengagendakan ingin mengajak Mira ke tempat ini. Melihat birunya laut dan batu karang. Terlebih ketika senja tiba, pastilah angkasa menyiratkan warna jingga yang elok. Elkan terbayang ingin mencium Mira lagi ketika senja.


Menikmati senja dengan pelukan hangat dan ciuman. Entah, rasanya begitu indah, hati pun berdesir dengan berciuman bermandikan kilauan senja. Namun, sekarang mereka bersama keluarga besar, tak mungkin Elkan melakukannya.

__ADS_1


Jika hanya berdua, Elkan tak perlu berpikir panjang. Cukup langsung melakukan eksekusi. Namun, sekarang beda cerita.


Di sana semuanya duduk di pasir, menikmati deburan ombak dan juga angin yang membawa kesan basah karena memang sudah musim dingin. Namun, pemandangan yang ada di sana memang sangat indah. Ditambah tidak banyak pengunjung membuat pantai itu lebih indah, kelestarian alamnya terjaga.


"Aku sebenarnya sudah berencana ajakin kamu ke sini. Ternyata udah keduluan Papa," ucap Elkan.


"Ke sini berdua aja?" tanya Mira.


Elkan menganggukkan kepalanya. "Iya, berdua saja. Melihat sunset bersama. Pengen kiss in the sunset lagi," balas Elkan.


Mira tersenyum sembari menundukkan wajahnya. Bisa-bisanya suaminya itu berbicara mengenai ciuman di kala senja. Mira menjadi malu rasanya.


"Kamu bisa aja deh, Kak," balasnya.


"Bisa dong. Pria itu selalu bisa memanfaatkan celah," balas Elkan.


Mira lebih memilih diam dan tersenyum kecil. Suaminya itu memang begitu. Kadang absurd tak terkira. Namun, lebih memilih untuk membiarkannya saja. Menerima Elkan apa adanya.


"Foto-foto sana, biar aku fotoin," suara Evan yang mengalihkan perhatian Mira dan Elkan.


"Kak Ev enggak foto?" tanya Mira.


"Enggak, jadi tukang foto saja," balasnya.


Sebatas mengabadikan moment mereka berfoto bersama di Bay Sand Island. Dengan Evan sebagai fotografernya. Kemudian memanfaatkan beberapa batu di sana, Papa Abraham mengajak semua berfoto dengan timer, sehingga Evan bisa masuk juga. Untuk urusan fotografi, memang Papa Abraham begitu jago.

__ADS_1


"Yuk, foto bersama. Satu ... dua ... tiga!"


Hingga jepretan lensa kamera berkilau dan mengambil gambar mereka. Setidaknya ini adalah liburan musim dingin yang indah. Akan selalu dikenang bahwa di Bay Sand Island ada kenangan yang indah. Tempat yang indah, rasa kekeluargaan yang indah dan hangat, serta, foto yang menjadi kenang-kenangan yang indah juga.


__ADS_2