
Sepagi ini bisa dikatakan sebagai pagi yang hectic untuk Mira. Dia harus mengurus suaminya mual dan muntah, membuat sarapan, menyuapi suaminya, dan juga menemani suaminya istirahat. Lebih dari itu, dengan permintaan Elkan sekarang membuat Mira serba bingung.
"Kakak, bukannya aku tidak mau. Kakak tahu kan, kalau aku gak pernah menolak. Namun, sehat dulu yah. Kita lihat kalau enggak mual dan muntah sampai malam, aku mau. Aku khawatir dan panik terjadi apa-apa sama Kakak," jelas Mira.
Mendengar ucapan Mira, Elkan sebenarnya kecewa. Dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan pagi ini. Namun, Mira menjelaskan baik-baik kepadanya. Oleh karena itu, Elkan akan menahan lagi. Tidak apa-apa, menuruti istri terlebih dahulu.
"Janji yah, malam," balas Elkan.
"Iya, Kakak istirahat dulu. Terasa dingin enggak?" tanya Mira.
"Enggak, hangat ... kamu peluk seperti ini," balas Elkan.
Mira kembali tersenyum. Mungkin memang bisa jadi suaminya yang jadi lebih manja. Istri yang hamil, suami yang ngidam. Yang penting semua bisa dijalani bersama-sama.
Berada di pelukan Mira, rupanya Elkan kembali tertidur. Sangat lelap malahan. Sampai Elkan nyaris mendengkur tidurnya. Mira justru geli mendengar dengkuran suaminya itu.
"Denger tuh, Baby ... Daddy kamu mendengkur. Doain Daddy sehat-sehat yah," kata Mira dengan mengusapi perutnya.
Usai itu, Mira pelan-pelan turun dari tempat tidur. Dia memilih mandi dan membersihkan dapur dulu. Pikirnya kalau suaminya tidur ya biarlah beristirahat, dia bisa menghandle bersih-bersih rumah dulu.
Hanya kurang lebih satu jam, semua pekerjaan sudah selesai. Mira kembali naik ke kamar dengan membawa Susu ibu hamil dan juga buah apel. Sekadar mengisi perut karena Mira merasa belum terlalu lapar.
Seakan bersantai, Mira memilih menikmati waktu dengan membaca buku kehamilan dan juga memperhatikan suaminya yang benar-benar tidur dengan sangat lelap. Baru, Mira ingin naik ke ranjang, rupanya terdengar bel rumahnya berbunyi. Maka, Mira pun segera menuruni anak tangga dan melihat siapa yang datang.
Membuka pintu rupanya ada Mama dan Papanya yang datang. Ya, Mama Sara dan Papa Belva yang datang. Memang ketika Mira hamil ini, Mama Sara dan Papa Belva, Mama Marsha dan Papa Abraham menjadi sering mengunjungi Mira.
"Pagi, Ra," kata Mama Sara dan Papa Abraham.
__ADS_1
"Pagi Mama dan Papa, silakan masuk," kata Mira.
Akhirnya Mama Sara dan Papa Belva masuk ke dalam. Sebagai orang tua, keduanya mengamati kalau rumah Mira dan Elkan itu juga bersih. Walau tidak ada pembantu, dan Mira tengah hamil, tapi rumah dua lantai itu terlihat bersih.
"Elkan mana?" tanya Papa Belva.
"Tidur, Pa. Kakak tadi abis mual dan muntah. Mira suruh istirahat dulu," jawab Mira.
Mama Sara dan Papa Belva seketika panik kala Mira mengatakan bahwa Elkan usai mual dan muntah. Jika sakitnya memang serius lebih baik untuk segera ke Dokter supaya mendapatkan obat yang tepat.
"Gejalanya apa saja, Ra?" tanya Mama Sara.
"Cuma mual dan muntah, tapi tadi mencium aroma bubur enggak apa-apa tuh, Ma. Apa mungkin kehamilan simpatik yah, Ma?" tanya Mira.
Mendengar kehamilan simpatik, Mama Sara dan Papa Belva justru tertawa. Teringat dengan dulu waktu Mama Sara hamil, pastilah Papa Belva yang mengalami kehamilan simpatik. Bahkan pernah waktu Mama Sara hamil Evan, Papa Belva lah yang benar-benar teler. Kalau teringat geli dan lucu juga. Namun, sekarang kalau mengingatnya justru menjadi cerita memang layak untuk dikenang.
"Nah, cinta kan," sahut Papa Belva.
Mama Sara hanya tertawa. Masih sangat dia ingat bahwa dulu, dia belum mengatakan perasaannya kepada suaminya. Terlalu larut dalam dilema cinta segitiga. Namun, pada akhirnya semesta memiliki cara untuk menyatukan keduanya yang memang terpisah hampir empat tahun lamanya.
"Iya, cinta, Pa," balas Mama Sara.
Mira tersenyum sendiri melihat Mama dan Papa mertuanya itu. Kalau sudah begitu, Mira rasanya yang baper. Jujur, melihat orang tua dan mertua yang saling cinta dan harmonis sampai tua membuat Mira juga menginginkan hal yang sama. Bisa selalu harmonis dengan suaminya sendiri.
"Kamu gak ngidam apa-apa, Ra?" tanya Mama Sara.
"Kelihatannya enggak tuh, Ma. Biasa saja, makanya Mira berpikir apa memang Kakak Elkan yang ngidam. Kasihan, Ma."
__ADS_1
"Kalau ngidam gak apa-apa. Dulu, Papa justru senang kalau Mama kamu selama hamil itu sehat. Jadi, biar apa yang dia makan, semua nutrisinya bisa untuk si baby kan. Papa yang mual sih gak apa-apa," balas Papa Belva.
Mira mengangguk dengan tertawa. "Papa so sweet banget. Seperti Papa Bram," balas Mira.
Cukup lama Mira mengobrol dengan mertuanya, dan Elkan pun sudah bangun. Menyadari tidak ada Mira di sisinya, Elkan terbangun dan turun ke ruang tamu.
"Honey," panggil Elkan dengan mencari-cari Mira.
"Di sini, Kak ... ada Mama dan Papa juga," balas Mira.
Akhirnya Elkan bergabung dengan istri dan orang tuanya. Wajahnya masih muka bantal, rambutnya sedikit acak-acakan. Namun, Elkan terlihat santai saja.
"Mual dan muntah, El?" tanya Mama Sara.
"Iya, Ma. Pagi tadi. Sekarang sudah enakan kok, Ma," balas Elkan.
"Sehat dulu, El. Banyakin istirahat. Kalau benar kehamilan simpatik bisa loh berlangsung sampai nanti kehamilan Mira memasuki trimester dua," kata Papa Belva.
"Biar gak muntah gimana Pa?" tanya Elkan.
"Bawa parfumnya Mira, sugesti diri sendiri kalau ada pasangan kita di dekat kita. Memakai masker dan bawa minyak angin dulu. Yang sabar," kata Papa Belva.
Mendengar ucapan Papanya, Elkan pun menganggukkan kepalanya. Agaknya beran, tadi usai mual dan mencium sisa parfum di tubuh Mira bisa membuat Elkan merasakan lebih enak. Apalagi dipeluk Mira, juga memberikan ketenangan sendiri untuk Elkan.
"Oke, Pa. Rasanya kayak gini yah ternyata," balas Elkan.
"Ya, memang gak enak. Apalagi rasa mualnya itu, yang penting jangan mengeluh. Kasihan istrinya kalau nanti kita banyak mengeluh," balas Papa Belva.
__ADS_1
Elkan menganggukkan kepalanya. Benar yang disampaikan Papanya. Memang kalau terlalu banyak mengeluh, nanti juga Mira yang kasihan. Setidaknya berusaha sehat dan terus mendampingi istrinya yang tengah hamil. Bagaimana pun, Ibu hamil perlu perhatian dan pengertian lebih. Elkan akan belajar lagi dan terus menjadi support sistem terbaik untuk Mira.