
Kedatangan Evan dari London dan Eiffel dari Singapura memberikan kebahagiaan sendiri untuk keluarga Agastya. Mama Sara dan Papa Abraham terlihat sangat senang bisa memeluk anak-anaknya yang datang dari luar negeri. Secara khusus untuk Evan sendiri, setelah dua tahun di London, baru kali ini dia pulang ke Jakarta.
"Anak-anaknya Mama."
Kedua tangan yang terbuka dan pelukan hangat dari Mama Sara menyambut Evan dan Eiffel. Ada rasa rindu karena bisa berkumpul dengan anak-anaknya. Terlebih ketika dewasa anak-anaknya justru memutuskan untuk kuliah di luar negeri.
"I Miss U, Ma," ucap Evan yang memeluk Mamanya. Sementara Eiffel sekarang memeluk Papanya. Setelahnya, Evan dan Eiffel duduk di dibelakang Mama dan Papanya. Eiffel yang baru memasuki Junior College di Singapura tampak duduk di dekat kakaknya.
"Kak, kamu keduluan sama Kak Elkan," bisik Eiffel kepada Evan.
"Biarin aja, Dik ... nikah gak perlu buru-buru. Kamu juga, jangan pacaran dulu. Sekolah dulu yang pinter. Jangan punya pacar bawa ke Kakak dulu, biar Kakak yang seleksi," balas Evan.
Eiffel tampak mengernyitkan keningnya. "Ish, Kak Evan ini kayak Papa banget. Mau diseleksi. Kak Elkan seneng banget tuh, Kak," ucapnya.
"Pasti senenglah... namanya juga cinta dari kecil," balas Evan.
Tentu Evan masih ingat bagaimana dulu mereka bertiga bermain bersama, dan Elkan memang tampak perhatian ke Mira. Walau ketika Elkan memilih sekolah di Singapura, Elkan mulai jarang membicarakan Mira.
"Aku gak nyangka, Kak Elkan beneran Kecil-Kecil Jadi Manten," ucap Eiffel dengan menggelengkan kepalanya.
Sementara itu hampir jam 20.00, seluruh acara sudah selesai. Hanya tinggal dua keluarga inti yang duduk bersama. Giliran keluarga inti menikmati Fine Dining termasuk Elkan dan Mira yang sejak tadi belum makan.
"Ayo, pengantinnya makan dulu biar kuat," goda Papa Abraham.
Pelayan mulai menyajikan hidangan pembuka, hidangan utama, dan penutup. Benar-benar sensasi makan yang lezat dan juga pelayanan yang sangat bagus. Terlebih berada di tengah-tengah keluarga, membuat suasana bahagia itu kian terasa.
"Lega, El?" tanya Papa Belva.
__ADS_1
Pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Lega, Pa. Walau hanya ceremony, tapi melengkapi akad yang dulu. Minggu depan kami tinggal berangkat ke Australia," balas Elkan.
"Udah gak sabar dengan segala macam gangguan kan?" tanya Papa Abraham. Tentu Papa Abraham bertanya demikian, karena Papa Abraham termasuk orang yang usil dan kala itu melihat bagaimana Elkan hendak mencium Mira.
Wajah Mira dan Elkan pun merona-rona. Sebenarnya Mira juga sudah memasang kontrasepsi yang ditanam di lengannya. Sebab, tidak mungkin memasang IUD, Mira saja masih gadis belum bisa memasangkan IUD dengan kondisi seperti itu. Waktu Dokter bertanya pun, Mira jujur mengakui sudah menikah dan hendak kuliah dulu, sehingga terpaksa menunda kehamilan. Kala itu, Mira menemui Obgyn didampingi Mama Sara dan Mama Marsha.
"Kecil-kecil udah jadi manten," celetuk Evan.
"Sorry ya Kak ... aku duluan," balas Elkan.
Mama Sara dan Papa Belva kemudian menatap kepada putra sulungnya. "Evan, nanti kalau kamu sudah menemukan pasangan yang cocok kenalkan sama Mama dan Papa. Tidak ada syarat khusus dari Mama dan Papa. Asalkan kalian saling mencintai dan mau berjuang bersama," ucap Mama Sara.
"Evan enggak keburu-buru, Ma ... nanti saja, Evan usai ini sekalian mau lanjut S2 dan setelah itu bantu Papa di perusahaan," jawab Evan.
Papa Belva menganggukkan kepalanya. "Yang ingin kamu capai, ya capai dulu. Kalau pacaran juga tidak apa-apa, kan kamu sudah dewasa."
"Evan gak mau pacaran, Pa. Nanti kalau sudah ada niat, langsung menikah saja," balasnya.
Ucapan Elkan mengundang gelak tawa dari seluruh keluarga. Sementara Evan terlihat santai dan biasa saja. Memang pembawaannya Evan itu cool, dia bahkan bisa ramah hanya dengan keluarganya saja dan orang yang sudah lama dia kenal.
Usai makan malam bersama, untuk kali pertama Elkan dan Mira diperbolehkan satu kamar. Bukan dengan dua ranjang, tapi hanya ada satu ranjang. Bahkan ada bunga Mawar yang mempermanis salah satu kamar di Villa itu.
"Capek, Ra?" tanya Elkan ketika mereka sudah memasuki kamar.
"Lumayan Kak, aku bersih-bersih dulu ya Kak," pamit Mira.
Elkan menganggukkan kepalanya. Mimpi apa sampai bisa sekamar di kamar pengantin kayak gini dengan Mira. Bahkan hanya ada satu ranjang di sana. Tentu saja, Elkan senang bukan main.
__ADS_1
Setengah jam kemudian, Mira keluar dengan mengenakan piyama panjang. Mungkin memang sudah disiapkan Mama Sara karena piyama itu memiliki warna yang sama, terbuat dari kain silk yang halus berwarna biru navy.
"Mandi sana, Kak," ucap Mira kepada Elkan yang sedang duduk di kursi yang ada di kamarnya.
Elkan kemudian tersenyum. "Mau malam pertama?"
Mendapatkan pertanyaan seperti ini, jujur saja Mira bingung. Masih ada rasa malu jika Elkan kadang kala membahas tentang malam pertama. Ya, walau sudah memasang kontrasepsi juga. Tetap saja sebagai gadis yang belum pernah tersentuh oleh siapa pun, Mira merasa malu.
"Maaf Kak, bukannya aku enggak siap ..., tapi aku baru berhalangan. Maaf," ucap Mira dengan jujur.
Bukan bermaksud menolak suami sendiri, tapi memang sekarang Mira sedang berhalangan. Haid yang datang di saat yang tidak tepat, agaknya harus membuat Elkan kembali gigit jari.
"Oh, tanggal merah yah?" tanya Elkan.
"Iya, maaf," balas Mira.
"Ya sudah, gak apa-apa. Aku mandi dulu yah. Jangan tidur dulu, tunggu aku."
Elkan segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selain itu, dia meminta kepada Mira untuk tidak tidur terlebih dahulu. Menunggunya sampai selesai mandi. Elkan yang sekarang berdiri di bawah guyuran air shower merasakan sensasi hangat dari air yang membasahinya. Pemuda itu tersenyum. Bisa satu kamar dan satu ranjang dengan Mira saja, sudah membuat Elkan bahagia. Lagipula, Elkan berencana untuk melakukan unboxing ketika di Australia nanti.
Elkan hanya berpikir, ingin membuat momen spesial. Tempat yang mereka tinggali bersama di Sydney nanti. Tidak ada gangguan. Bahkan, Elkan sudah menyusun semuanya di kepalanya.
Hampir lima belas menit, Elkan sudah keluar dari kamar mandi. Pemuda itu tersenyum mendapati Mira yang duduk di sofa dan menunggunya. Kemudian Elkan mengambil tempat duduk di sampingnya.
"Mikirin apa?" tanyanya.
"Enggak mikirin apa-apa sih," balas Mira.
__ADS_1
"Nanti kalau di Sydney, kita akan tinggal berdua seperti ini. Hanya ada aku dan kamu. Gak bosen kan?"
Mira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mungkin beberapa hari nanti dia akan merindukan rumah dan orang tuanya. Namun, Mira sangat yakin bahwa bersama dengan Elkan, dia tidak memiliki keraguan. Pasti bisa menjalani hari di negeri Kangguru nanti.