
Untuk pasangan muda dengan gejolak yang begitu membara tidak mudah untuk menahan hasrat hingga tiga pekan lamanya. Terlebih ketika sudah sama-sama sah dalam sebuah pernikahan. Ada hasrat yang seolah menuntun untuk melakukan lebih dan melakukan berbagai eksplorasi. Akan tetapi, selama tiga pekan ini Elkan justru berpuasa karena selama berada di Warrnamboll, rumah yang ditempati memiliki kamar yang berdekatan satu sama lain. Selain itu ada orang tua dan mertua sekaligus, walau memang tidak dilarang, tapi keduanya sepakat untuk menunda. Jika benar-benar rindu, paling mereka berciuman bibir. Beberapa menit pun tidak apa-apa. Namun, jika melanjutkan ke bercinta, memang keduanya memilih untuk menahan. Sungkan jika terdengar suara gaduh atau suara-suara dari kamar mereka.
Sekarang, ketika malam kita. Lampu di unit yang ditinggali Elkan dan Mira sudah temaram. Suasananya remang-remang. Ditambah dinginnya malam hari karena memang tengah musim dingin membuat pilihan yang tepat adalah ketika bisa menghangatkan satu sama lain.
Di sudut sofa, sepasang anak manusia itu tengah duduk bersama. Menikmati suasana yang menghadirkan kesan romantis itu. Ada tangan Elkan yang sekarang ditautkan di tangan Mira. Setiap jari-jari tangan saling mengisi sela bak saling melengkapi satu sama lain.
"Tidak perlu kemana-mana, di unit begini saja sudah begitu romantis ya, Honey," ucap Elkan dengan melirik Mira yang duduk di sebelahnya.
Wanita itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum, dia menolehkan kepalanya untuk bisa menatap Elkan dengan lebih jelas. "Iya, bersama kamu, semua yang aku lewati rasanya romantis," balasnya.
Itu adalah sebuah pengakuan yang jujur dari Mira. Banyak momen yang sudah Mira lewati bersama Elkan dan itu adalah momen romantis. Seperti ciuman kala senja di Desa Maritim Flagstaff, atau dulu sewaktu SMA ketika Elkan berusaha menciumnya, tapi justru kepergok oleh Papa Abraham, bagi Mira itu tetaplah suasana yang romantis. Begitu juga sekarang, sekadar duduk bersama dan tangan saling bertaut saja rasanya sudah begitu syahdu.
"Menurutmu seperti ini saja romantis, Honey?" tanya Elkan.
Mira dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Iya, sangat romantis. Kalau anak SMA berbuat kayak gini tidak senonoh ya Kak. Berbeda dengan kita yang sudah menikah dan legal dalam bercinta," ucap Mira.
Kemudian Elkan tersenyum kepada Mira. "Legal gimana coba? Honey, malam ini jadi kan?" tanya Elkan.
Mira menganggukkan kepalanya. "Setelah menikah, tepatnya setelah lulus SMA dan sejak di Sydney, mana aku pernah menolak kamu? Tidak pernah," balas Mira.
Sebab, Mira sudah belajar dengan Mamanya bahwa ketika sudah menikah, istri adalah milik suaminya. Berdosa ketika seorang istri menolak suaminya. Namun, kondisinya jika memang tidak baik seperti sakit atau tengah haid, bisa menyampaikan dengan baik.
"Kamu nurut banget sih, Honey. Aku jadi semangat nakalin kamu," balas Elkan.
"Yang penting jangan pernah nakal ma cewek lain. Cukup aku saja yang kamu nakalin, Kak," balas Mira.
__ADS_1
"Pasti, Honey. Itu pasti," jawab Elkan.
Tak ingin berlama-lama, Elkan kemudian membelai perlahan sisi wajah Mira. Pria itu memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa, kemudian dia mengecup bibir Mira dengan hati-hati. Percayalah, jika hanya satu kecupan rasanya sangat kurang. Lebih dari lima kali, Elkan mengecupi bibir Mira. Kedua mata mereka saling beradu. Ada senyuman yang tercetak di jawab keduanya.
Hingga akhirnya Elkan memejamkan matanya, dan menggerakkan bibirnya, dia ******* bibir Mira dengan napas yang lebih memburu. Kini, tak ada yang Elkan tahan. Beradu dalam setiap decakan. Menyapa dalam setiap usapan. Membuai dalam setiap pagutan, lu-matan, dan juga sapaan yang intens dan basah.
"Aku rindu," ucap Elkan dengan menarik bibirnya sesaat.
Kedua mata kembali beradu pandang, dengan napas yang sudah terasa berat. Kerinduan itu tentulah bukan sekadar kerinduan, melainkan adalah kerinduan karena ingin menikmati semuanya tanpa batas. Sehelai benang pun tidak.
"Aku juga rindu," balas Mira.
Kini semuanya sudah jelas. Keduanya sama-sama rindu, maka tak ada lagi yang Elkan tunggu. Pria itu menarik ke atas kaos yang dikenakan Mira. Dia ingin memuja Mira. Bahkan ketika ruangan menjadi temaram pun, Mira akan bersinar dengan kecantikannya. Tidak ingin begitu malu-malu seperti biasanya, Mira berusaha menatap Elkan. Tatapan yang menembus hingga ke manik mata suaminya itu.
Mira pun tersenyum. Hingga Elkan menarik ke atas kaosnya sendiri. Tampil shirtless sekarang. Elkan tidak ingin mengulur waktu, dia segera mendekat dan kembali mencium Mira dengan napas yang lebih memburu. Pria itu mengerang perlahan ketika telapak tangan Mira yang lembut mengusap perlahan bahu hingga punggungnya, lantas beralih dan sekarang memberikan usapan samar di dadanya.
"Honey," suara Elkan yang parau. Dia menikmati sentuhan samar dari istrinya itu.
Namun, Elkan juga tak mau berdiam diri, tangannya sekarang mengusap perlahan bahu, punggung, bahkan membawa dua tali yang menggantung di bahu itu sampai merosot hingga ke lengan Mira. Oh, kala itu di mata Elkan kecantikan Mira begitu luar biasa. Sehingga Elkan benar-benar terbius olehnya.
Maka Elkan mulai mendaratkan kecupan demi kecupan yang hangat dan basah di leher Mira yang jenjang. Menyisir leher itu, sembari menghirup aroma parfum yang begitu lembut di sekitar tulang belikat Mira. Wajahnya semakin turun dan memberikan jejak basah hingga di sembulan dada istrinya yang begitu ranum.
Tangan Elkan pun tak tinggal diam untuk memberikan remasan memutar, dan menelusup membiarkan telapak tangannya menyentuh bulatan indah itu. Hangat, lembut ketika Elkan menyentuhnya dan meremasnya perlahan.
"Kak Elkan."
__ADS_1
Mira menghela napas dan sedikit menundukkan wajahnya melihat apa yang Elkan lakukan atasnya. Rupanya Elkan sekarang tengah membuai bulatan indah itu dengan bibirnya. Memberikan hisapan, usapan, dan gigitan di puncaknya.
"Jangan ditahan, Honey," ucap Elkan dengan menggigit puncak bulatan indah itu hingga menegang.
Mira hilang kendali tangannya meremas perlahan helai demi helai rambut suaminya. Disertai dengan de-sahan yang lolos begitu saja dari bibirnya. Begitu juga dengan Elkan yang benar-benar melakukan semuanya all out. Seakan pria muda itu benar-benar menuntaskan semua, setelah tertahan tiga pekan.
Hingga akhirnya, Elkan meloloskan busana mereka. Membiarkan kepolosan mutlak yang menemani mereka. Elkan turun hingga ke lembah. Memberikan sapaan dengan lidahnya yang membuat Mira merasakan terpaan badai musim dingin. Dia menggeliat dalam sensasi yang indah. Hingga akhirnya, Elkan membimbing Mira untuk menyapa pusakanya. Sekadar membuatnya basah saja.
Lantas, Elkan sekarang bersiap untuk memasuki dengan perlahan. Cukup di sofa, semuanya terjadi di sana. Elkan mulai menghujam, menahan terlebih dahulu karena memang butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Terlebih dengan cengkeraman yang erat, hangat, dan basah yang menyapanya sekarang membuat Elkan berpeluh seketika.
"Honey ... Honey!"
Geraman Elkan terdengar sekarang disertai dengan hujaman dan gerakan seduktif keluar dan masuk, menghujam dan menusuk. Oh, itu sangat indah. Tiga pekan yang tertahan sekarang sudah terpuaskan. Terlebih Mira yang memang nurut dan membiarkan Elkan bereksplorasi seakan memberikan sensasi tersendiri.
Menahan bobot tubuhnya sendiri sesekali Elkan mencium bibir Mira, sesekali juga tangannya memberikan remasan di bulatan indah milik Mira. Atmosfer di dalam kamar pun seketika menjadi panas. Dinginnya angin musim dingin, tak membuat keduanya menggigil, melainkan berpeluh bersama. Merasakan surga yang bisa mereka nikmati dengan mata yang sepenuhnya terpejam.
Surga yang penuh dengan kilauan cahaya, di mana keduanya menjelma menjadi dewa dan dewi di sana. Mabuk dengan sihir dari Dewa Kama, sang Dewa Cinta. Indah. Sangat indah.
Hingga Elkan menggeram dan menambah kecepatannya. Benturan di dalam pun tak bisa dielakkan. Keduanya hanyut dalam pusara di kedalaman samudra. Sangat padu.
"Amazing, Honey. Amazing!"
Elkan kian menggeram dan akhirnya dia rubuh di atas tubuh Mira. Oh, sangat indah. Luar biasa. Gelora malam temaram yang indah.
Pun, Mira yang mendekap Elkan, keduanya menstabilkan napasnya dan mendinginkan tubuhnya sesaat. Sangat indah. Tidak ada lagi diksi untuk melukiskan keindahan itu.
__ADS_1