
Tepat seperti yang Elkan sampaikan sebelumnya bahwa dia ingin mengajak Mira ke rumahnya di malam hari. Di satu sisi, Mira memberikan tantangan kepada Elkan jika berani dia harus menjemputnya dan meminta izin kepada Mama dan Papanya. Rupanya, sebelum jam makan malam, Elkan benar-benar datang ke rumah Mira.
Pemuda itu sama sekali tak terlihat gentar. Justru Elkan mendatangi kediaman mertuanya dengan penuh rasa percaya diri. Asal berani jujur dan menyampaikan semuanya dengan terbuka, Elkan yakin izin dari Mama Marsha dan Papa Abraham akan didapatkannya.
"Assalamualaikum," sapa Elkan sembari mengetuk pintu rumah mertuanya.
Kali ini ada Marvel yang membukakan pintu. Marvel juga kaget kenapa Elkan datang ke rumahnya. Selain itu, juga Marvel memperhatikan Elkan yang sangat rapi. Pemuda itu mengenakan celana jeans panjang, kaos putih, dan dipadukan dengan Kemeja Kotak-kotak yang biasa disebut Flanel. Selain itu, Elkan rasanya lebih wangi kala itu, hingga Marvel pun menanyai Elkan.
"Kak Elkan ... cakep banget sih? Udah itu wangi banget. Mau ngajak dating Mbak Mira yah?" tanyanya.
"Ngajak ke rumah saja sih ... Mama dan Papa ada?" tanya Elkan kemudian.
"Ada kok, Kak ... masuk aja," balas Marvel.
Pemuda tampan itu dipersilakan masuk dan di ruang tamu ternyata ada Mama Marsha dan Papa Abraham. Elkan kemudian memberikan salam takzim, dengan menaruh punggung tangan mertuanya di kening sebagai bentuk tanda hormat. Mama Marsha dan Papa Abraham senyam-senyum saja melihat Elkan yang datang kali ini.
"Wis, cakep banget, El ... mau ke mana?" tanya Papa Abraham.
"Hm, Papa dan Mama ... sebenarnya Elkan datang ke mari karena ingin mengajak Mira sebentar. Elkan ingin mengajak Mira ke rumah," ucapnya dengan jujur.
__ADS_1
Faktanya memang hanya diajak ke rumah saja. Tidak perlu jauh-jauh. Namun, Elkan rupanya persiapan dengan begitu matang. Tampil rapi, keren, dan tentunya wangi.
"Serius ke rumah? Kok kamu keren banget, El?" Giliran Mama Marsha yang menggoda menantunya itu. Bahkan menurut Mama Marsha, Elkan sekarang terlihat keren. Penampilannya sangat berbeda ketika mengenakan seragam Putih Abu-Abu.
Pemuda itu tersenyum. Sebenarnya malu, tapi sudah kepalang tanggung. Niatnya tampil lebih keren tentu untuk Mira, tapi justru diledek oleh Mama dan Papa mertuanya. Sampai Elkan sedikit menggaruk kepalanya.
"Boleh ... kan Mira juga istri kamu. Hati-hati saja yah," balas Papa Abraham.
Elkan tentu sangat senang. Baginya, mendapatkan izin dari Papa Abraham dan Mama Marsha justru terbilang mudah. Asalkan jujur, pasti mertua pun merestui. Toh, Elkan juga pasti tidak akan aneh-aneh sebelum waktunya nanti. Sekarang cukup bersikap wajar, sembari menunggu UAN selesai.
"Kayak Papa dulu yah ... kalau apel cakep banget," ucap Mama Marsha dengan tiba-tiba.
"Keinget diapelin cowok cakep naik kuda besi ya, Ma?" balas Papa Abraham.
Pasangan menjelang paruh baya itu tertawa bersama. Melihat Elkan sekarang, seolah mereka teringat dengan masa lalu mereka dulu. Kemudian Mama Marsha berdiri dan memanggilkan Mira yang ada di dalam kamarnya. Sekarang, Mama Marsha turun bersama dengan Mira. Gadis itu juga terkejut karena Elkan sangat rapi. Selain itu, dari jarak sekian meter saja, bisa tercium aroma parfum Elkan yang meninggalkan kesan maskulin yang segar.
"Mau diajak Elkan tuh, Ra," ucap Mama Marsha.
"Iya, tadi Mira bilangnya kalau mau ngajak, datang ke rumah dan izin sama Mama dan Papa," balas Mira.
__ADS_1
Papa Abraham menganggukkan kepalanya sangat setuju dengan ucapan Mira barusan. "Benar, Nak ... Papa setuju. Pria harus berani, masak ngajak anak gadis aja tidak berani? Iya kan ... wah, Elkan lulus ujian nih dari Mira," balas Papa Abraham.
"Berani dong, Pa. Kan Elkan datang niatnya baik dan meminta istri sendiri," jawabnya.
"Tuh, istri sendiri, Ra ... ya sudah, sana. Jangan pulang malam-malam yah, besok masih sekolah," balas Mama Marsha.
Kemudian mereka berpamitan dengan Mama Marsha dan Papa Abraham. Elkan benar-benar mengajak Mira ke rumahnya. Bukan di taman atau di ruang tamu, tapi dia mengajak Mira ke rooftop rumahnya. Di sana sudah ada beberapa balon, lilin, bahkan sebuah boneka Minnie.
"Kak," ucap Mira dengan tercekat.
Elkan menganggukkan kepalanya. "Ya, semua ini aku siapkan khusus untuk kamu. Dulu, kita jadian dan aku sadar aku belum melakukan sesuatu yang romantis untukmu. Jadi, di sini ... aku ingin mengatakan bahwa aku sayang kamu, Ra. Rasa sayang yang aku miliki sejak dulu. Kita memang sudah menikah, ikatan di antara kita sudah sah. Namun, kita jalani dulu layaknya anak muda yang berpacaran."
Elkan kemudian memberikan sebuah boneka Minnie kecil yang membawa hati di tengahnya dan bertuliskan 'I Love U'. Mira yang berdiri tepat di depan Elkan pun, menerima boneka kecil itu, dan tersenyum menatap Elkan.
"Terima kasih banyak, Kak ... padahal waktu itu saja sudah romantis untukku," jawab Mira.
Elkan kemudian tersenyum. Pemuda itu mendekat dengan membawa kembang api kecil dan mengajak Mira menyalakannya. Senyuman di wajah keduanya mengembang. Menikmati kembang api yang nyalanya hanya sekian detik itu. Ketika Mira memegang kembang api, kemudian dia memutarnya perlahan. Elkan diam-diam memotret Mira yang tengah memainkan kembang api.
"Ra, aku ingat ... selain Minnie, dari kecil kamu menyukai kembang api. Namun, aku tidak ingin menjadi kembang api untukmu yang memercik sesaat dan memberi kebahagiaan. Melainkan aku ingin menjadi cahaya yang akan terus menyala, menerangi hidupmu, cahaya yang tidak akan membiarkanmu jatuh dan terantuk. Aku ... sayang ... kamu."
__ADS_1
Sisi romantisme seorang Elkan Agastya yang membuat wajah Mira tersipu malu dan memancarkan debaran pada pemuda yang kini berdiri di hadapannya. Ini adalah malam yang indah untuk Elkan dan Mira. Walau hanya di rumah, kedua bisa merasakan romansa yang membuat beribu kupu-kupu menghinggapinya.