
Dengan ditangkapnya Bagas, Papa Belva berharap bahwa proses hukum selanjutnya bisa berjalan dengan baik. Selain itu, proses pengadilan Bagas selanjutnya juga dilakukan di Jakarta sehingga keluarga Agastya dan Narawangsa bisa turut mengikuti proses pengadilannya. Mengawal sampai Bagas mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya.
Keesokan harinya, kedua belah pihak orang tua sama-sama berkumpul di kediaman Elkan. Tentu Papa Belva juga ingin memberitahukan kabar terbaru dari Bagas ini kepada Elkan. Menurut Papa Belva, Elkan juga berhak tahu siapa yang sudah mencelakainya dan update terbaru perkembangannya.
"Sudah semakin sehat, El?" tanya Papa Belva.
"Lumayan, Pa. Tinggal bekas-bekas luka di tangan ini, yang di wajah juga," balas Elkan.
Semua itu karena memang ada beberapa luka yang sekarang mengering di wajah dan tangan. Sering kali menimbulkan rasa gatal. Akan tetapi, Elkan berusaha tidak menggaruk atau sebaliknya supaya tidak ada bekas luka yang tertinggal terutama di bagian wajahnya.
"Gak usah buru-buru bekerja, El. Pastikan kamu sembuh dulu," kata Papa Belva lagi.
"Iya, Pa. Nanti kalau udah agak enakan badannya, libur terlalu lama janganlah, Pa. Elkan kan pria harus menghidupi anak dan istri," balas Elkan.
Mendengarkan balasan Elkan, semua yang ada di sana pun tertawa. Dari cara berbicaranya Elkan sudah membaik. Benar yang Elkan katakan bahwa tinggal dengan istri dan anak-anaknya membuat Elkan menjadi lebih sehat dan lebih pulih.
"Masih ada satu hal lagi, El. Bagas sudah berhasil ditangkap. Dia melarikan diri sampai ke Prabumulih, Sumatera Selatan. Walau begitu, semua proses penyidikan dan pengadilan akan dilakukan di Jakarta. Papa ingin mengawalnya sampai Bagas benar-benar mendapatkan hukuman berdasarkan tindakannya," kata Papa Belva.
Terlihat bahwa Papa Belva jika sudah seperti ini terlihat sangat tegas. Untuk Papa Belva, ketika seorang berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Sama seperti Bagas yang berusaha mencelakai Elkan dan pegawai Coffee Bay, karena itu Bagas juga harus bertanggung jawab untuk perbuatannya.
Hingga akhirnya, ketika seluruh keluarga berkumpul dan berbicara bersama terdengar bel rumah Elkan berbunyi. Biasanya hanya tamu saja yang memencet bel. Selain itu, para keluarga biasanya lebih memilih untuk mengetuk pintu.
"Siapa yah, Kak?" tanya Mira.
__ADS_1
"Kurang tahu, Honey. Aku aja yang bukain pintu," balas Elkan.
Akan tetapi, Papa Belva menyela. "Biar Papa aja, El. Kamu duduk aja. Kamu masih masa pemulihan."
Menurut, akhirnya Elkan memilih untuk duduk. Sementara Papa Belva yang berdiri dan membukakan pintu. Sekaligus untuk melihat siapa yang datang.
"Assalamualaikum, apa benar ini adalah rumahnya Elkan Agastya?" tanya seorang wanita.
"Iya, benar ... Elkan adalah putra saya. Anda siapa?" tanya Papa Belva.
Akan tetapi, di saat bersama ada Mama Sara, Mama Marsha dan Papa Abraham yang berdiri. Mereka ingin melihat siapa yang datang. Sebab, Papa Belva masih saja berdiri di depan pintu.
"Siapa, Pa?" tanya Mama Sara.
Hingga sekarang semuanya menjadi bertatap muka. Justru ada Mama Marsha yang tampak terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu sekarang. Walau usia sudah pasti menua, tapi wajah yang berdiri di hadapannya masih bisa dikenali oleh Mama Marsha.
Ya Tuhan, tak pernah Mama Marsha membayangkan sebelumnya bahwa sekarang dia berhadapan dengan seseorang dari masa lalunya. Seseorang yang pernah memggoreskan kisah yang sebenarnya cukup sedih untuk Mama Marsha. Kisah yang berbau pengkhianatan.
"Marsha ... kamu Marsha Valeria kan? Dulu, kamu ...."
"Kita dulu terhubung dengan mendiang Melvin Andrian," balas Mama Marsha.
Seketika Lista meneteskan air matanya. Dia benar-benar tidak tahu bahwa sekarang dia berhadapan lagi dengan Mama Marsha. Ada masa lalu yang sejatinya harus diselesaikan keduanya.
__ADS_1
"Sha, maafkan aku. Dulu aku menjadi selingkuhan mantan suamimu itu. Aku yang menemani malam-malamnya. Aku yang membuat dia lupa kepadamu, pulang syuting, dia tidak pulang ke rumah, tapi pulang ke unitku. Maafkan aku yang dulu, Sha."
Sekarang ada pengakuan yang terucap untuk kesalahan yang terjadi di masa lalu. Lista mengakui bahwa dulu dia yang menjadi orang ketiga di antara Mama Marsha dan mendiang Melvin Andrian.
"Lupakan saja masa lalu, Lista. Mungkin semua ini memang jalannya dari Allah. Tanpa pengkhianatan kalian berdua, aku mungkin tidak menemukan cinta sejatiku," balas Mama Marsha.
Sekarang Mama Sara dan Papa Belva saling pandang. Keduanya tidak mengira bahwa Lista berhubungan dengan Besannya di masa lalu. Terlebih ketika nama Almarhum Melvin Andrian disebut, sudah bisa menerka bagaimana kisah yang sempat terjadi di masa lalu.
Setelahnya Lista dipersilakan masuk terlebih dahulu. Sekarang di ruang tamu, Tante Lista bisa berhadapan langsung dengan Elkan selaku korban dari tindakan putranya yaitu Bagas.
"Nak Elkan, saya Mamanya Bagas. Sekarang, anaknya Tante berada di tahanan kepolisian. Apakah tidak bisa kita melakukan mediasi dan menyelesaikan semuanya secara kekeluargaan?" tanya Tante Lista.
Sebagai orang yang baik dan juga berhati lembut, Elkan juga tersentuh ketika seorang ibu datang dan meminta maaf. Seorang ibu datang untuk mengusahakan kebebasan anaknya.
"Maaf, Tante. Yang Bagas lakukan menyangkut nyawa. Sehingga, saya tidak bisa mencabut laporan tersebut," balas Elkan.
"Maafkan Bagas, Nak Elkan. Tolonglah, Bagas pasti akan bertobat dan tidak akan melakukan tindakan serupa lagi," balas Tante Lista.
"Pak Agastya, Anda juga sebagai orang tua ... tidak bisakah Anda memberi maaf kepada Bagas. Lagipula, Bagas masih seusia Elkan. Kasihanilah dia. Bagaimana masa depannya nanti kalau dia menghabiskan masa mudanya di balik jeruji besi."
Tante Lista benar-benar memohon dengan berlinang air mata. Semua yang ada di sana pun tentu terharu. Seorang ibu yang datang untuk kebebasan putranya sendiri.
"Maafkan saya, Bu Lista. Proses hukum akan tetap berlanjut. Yang Bagas lakukan sudah tidak bisa dimaafkan. Dia menjadikan Coffee Bay sebagai rival bisnis, mencopy resep dari Coffee Bay, lalu yang terakhir mencelakai Elkan dan dua pekerja saya. Yang dilakukan termasuk kejahatan dan harus dihukum," kata Papa Belva.
__ADS_1
Buliran air mata Tante Lista seketika mengalir. Dia datang dengan maksud untuk membuat keluarga Agastya memberikan maaf dan membebaskan Bagas. Sayangnya, keluarga Agastya tidak akan mencabut laporannya. Akan tetap menempuh langkah hukum.
Jika iba pasti saja iba. Akan tetapi, jika semua pelaku kejahatan dibebaskan dari tindakannya maka mereka tidak akan pernah belajar mengenai hukum dan konsekuensinya. Rulenya sudah jelas siapa yang taat hukum mereka bebas dari semua jerat hukum, sementara untuk yang melanggar hukum mereka berhak mendapatkan hukumannya. Yang Papa Belva harapkan bahwa Bagas nantinya akan belajar dari peristiwa ini dan lebih berhati-hati ke depannya.