Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Liburan Musim Dingin Berakhir


__ADS_3

Tidak terasa sudah tiga pekan berlalu, itu artinya liburan musim dingin di Warrnambool akan segera usai. Mira sudah kelihatan sedih karena itu berarti dia akan berpisah dari Mama dan Papanya lagi. Padahal, jika bersama dengan keluarga seperti ini rasanya hangat.


"Besok Mama dan Papa ada sudah harus kembali ke Jakarta yah?" tanya Mira.


"Iya, Sayang ... liburan ini, Mama dan Papa yang datang ke Australia. Selanjutnya, kalian yang pulang ke Jakarta yah. Mau ke rumah Mama Sara atau Mama juga tidak masalah. Kita keluarga kan?" balas Mama Sara.


Mira tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Memang mereka yang masih kuliah di Australia ketika di Jakarta belum memiliki rumah sendiri. Konsekuensinya harus ikut dengan keluarga mereka terlebih dahulu.


"Padahal Mira masih kangen Mama dan Papa," balasnya.


"Ada Elkan, dengan pria sebaik dia, kamu tidak akan sedih berlama-lama. Pesannya Mama, walau kalian masih muda, kamu mengenal Elkan sudah sejak lama. Selalu taruh rasa hormat kepada suamimu. Walau masih muda dan usia hanya selisih dua tahun, tetap harus menghormati Elkan," pesannya.


"Kalau Mama dan Papa selisih berapa tahun sih, Ma?" tanyanya.


"Selisih setahun saja, tapi dulu Mama dan Papa sama satu kuliah di Semarang. Berbeda fakultas saja," balas Mama Sara.


Mendengarkan cerita dari Mamanya, Mira juga baru menyadari bahwa selisih usia Mama dan Papanya hanya sedikit. Namun, sekarang Papanya terlihat lebih matang, bijaksana, dan berwibawa. Walau secara wajah dan penampilan Mama dan Papanya masih muda.


"Liburan semester depan, Mira yang akan pulang ke Jakarta, Ma ... itu pun kalau Kak Elkan memperbolehkan," balasnya.


Mama Mira menganggukkan kepalanya. "Baik, Ra ... tidak apa-apa. Yang penting saling memberikan kabar. Mama dan Papa seneng kamu dan Elkan bisa menjalin rumah tangga. Baik dan kurangnya rumah tangga itu biasa. Kehidupan rumah tangga berjalan lurus setiap hari juga tidak, ada saja masalah. Yang penting karena tidak akan pernah bosan dan terus menyelesaikan masalah yang muncul. Pernikahan pun bisa mendewasakan kalian berdua," nasihat dari Mama Mira.


Usai itu, Papa Abraham bergabung dengan istri dan anaknya. Mira yang memang dekat dengan Papanya, sudah berkaca-kaca melihat sang Papa.


"Besok Papa akan terbang ke Jakarta yah?" tanya Mira.

__ADS_1


"Benar, Nak ... Marvel juga membutuhkan kami. Dia memilih di rumah sendiri. Jika terlalu lama, kasihan adikmu juga," balas Papa Abraham.


"Kenapa Marvel tidak sekalian ikut, Pa?" tanya Mira lagi.


"Sekolah, Ra. Hanya libur seminggu saja. Dia memilih di rumah tangga. Walau jauh, Mama dan Papa tetap mengawasinya. Namun, Mama dan Papa juga tidak bisa berlama-lama. Marvel juga butuh kami. Sementara kamu di sini ada Elkan," balas Papa Abraham.


Mira menganggukkan kepalanya. Dia juga memahami bahwa Marvel juga membutuhkan Mama dan Papanya. Mendampingi Marvel juga penting. Selain itu, Mira juga sudah bersama Elkan. Hanya butuh waktu lagi untuk beradaptasi untuk bisa kembali lagi ke posisi semula.


"Yuk, kita makan bersama. Nanti tinggal packing dan besok kita kembali ke Sydney. Dari Sydeney, Mama dan Papa akan langsung menunggu saja untuk penerbangan ke Jakarta," balas Mama Sara lagi.


Akhirnya mereka keluar, dan keluarga Agastya sudah menunggu di luar. Ada Mama Sara, Papa Belva, Elkan dan Evan. Semuanya sekarang dudu mengitari meja makan. Hari ini pun masakan yang tersedia spesial buatan Mama Sara dan Mama Marsha.


"Tidak afdol rasanya kalau kumpul bersama tidak memakan seafood. Selain itu, Elkan juga sangat suka Seafood. Kami masakkan dulu, sebelum Mama dan Mama Marsha kembali ke Jakarta," ucap Mama Sara.


"Makasih, Mama dan Mama Marsha," balas Elkan.


"Iya, sama-sama, El," balas Mama Marsha.


"Seperti kalau Mama ke London yah, sebelum kembali ke Indonesia, pasti membuatkan masakan kesukaan Evan," sahut Evan.


Mama Sara pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Benar, Van ... Mama memperlakukan kalian berdua sama. Kamu, Elkan, dan Eiffel sama. Nanti kalau Eiffel mulai kuliah ke Paris juga begitu, Mama akan memasakkan untuk dia," balas Mama Sara.


"Eiffel ingin kuliah apa di Paris, Ma?" tanya Mira.


"Kuliah mode dan kecantikan di Paris. Memang Mama proyeksikan nanti Eiffel bisa mewarisi SaVa Beauty Care dengan kamu, Ra. Kalian bisa bekerja sama. Mama nanti kalau sudah punya cucu, mau pensiun saja. Ngasuh dan mengurus cucu."

__ADS_1


Impian yang sangat sederhana dari Mama Sara. Di mana dia memilih untuk segera pensiun dari berbagai bisnis miliknya usai memiliki cucu nanti. Entah nanti akan dikarunia cucu dari Elkan atau Evan dulu. Sebab, Elkan dan Mira sudah sama-sama mengatakan menunda tidak memiliki anak selama kuliah.


"Kak Evan duluan saja, Ma," balas Elkan yang tertawa melihat kakaknya yang sejak tadi begitu cool.


"Kakak kamu jodoh saja belum punya, El. Nunggu kamu dan Mira masih empat tahun. Pengennya Papa itu, Papa dan Mama masih muda bisa memiliki cucu. Pasti menyenangkan sekali," balas Papa Belva.


"Ya, semoga sebelum Elkan lulus Kak Evan sudah mendapatkan kekasih hati. Kan tidak lama lagi kuliahnya Kak Evan juga selesai S2, sembari memimpin perusahaan Agastya Properti, bisalah mendapatkan jodoh," balas Elkan.


Papa Belva tersenyum perlahan. "Amin, semoga saja. Papa juga mengharapkan itu dan mendoakan sosok gadis dengan tipe seperti Mama kamu segera muncul yah, biar kakakmu mendapatkan jodohnya."


Semua yang ada di sana pun tersenyum Termasuk Mama Marsha dan Papa Abraham, "Santai saja, Van ... percaya saja jodoh gak akan kemana," balas Papa Abraham.


"Iya, Om ... doakan saja. Nanti kalau sudah kelihatan hilalnya, pasti Evan akan memberitahu kepada semuanya," balas Evan.


"Elkan dukung Kakak. Mau produk lokal atau interlokal, Kak?" tanya Elkan dengan begitu absurdnya.


Evan menatap tajam adiknya itu. "Jelas yang lokal saja. Cintai produk dalam negeri," balas Evan.


Raut wajah Evan yang datar, tapi ucapannya justru membuat gelak tawa. Termasuk Elkan yang sekarang justru tertawa. Tidak mengira kakaknya bisa memberikan jawaban seperti itu.


"Om doakan ya, Van ... kamu segera memiliki pendamping yang sesuai dan sepadan. Bisa mendampingi kamu, dan bisa saling mengisi satu sama lain," ucap Papa Abraham dengan tulus.


"Amin, terima kasih, Om Bram," balas Evan.


Sebelum esok berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Sekarang banyak ucapan doa dan harapan untuk semuanya. Papa Belva dan Mama Sara serta Papa Abraham dan Mama Marsha, juga Elkan besok akan kembali ke Jakarta. Usai dari Sydney, Evan memang akan pulang ke Jakarta dulu. Menghabiskan sisa liburan musim dingin di Jakarta. Sementara Elkan dan Mira akan kembali ke Sydney ke unit mereka untuk menghabiskan sisa liburan sebelum nanti kembali masuk kuliah.

__ADS_1


__ADS_2