Romansa Pengantin SMA

Romansa Pengantin SMA
Mengunjungi Obgyn


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, Elkan dan Mira menuju ke Dokter Obgyn. Tidak sendiri, tapi ada Mama Sara yang turut menemaninya. Elkan pun mengemudikan mobilnya dan menuju ke Rumah Sakit yang sudah ditunjukkan lokasinya oleh Mamanya.


"Dokternya baik enggak, Ma?" tanya Mira.


"Baik kok, sudah sepuh sih, Ra. Namun, kepercayaan Mama untuk melahirkan Evan, Elkan, dan Eiffel. Pokoknya yang terbaik deh," balas Mama Sara.


Mira menganggukkan kepalanya. Dia sepenuhnya mempercayai Mamanya. Sebenarnya Mira deg-degan. Bagaimana pun, dia belum pernah mengalami hal ini, tapi bersama dengan suaminya dan dengan ada dukungan dengan Mama Sara, Mira yakin bisa menjalani semuanya.


Elkan mendaftarkan nama istrinya dan kemudian mereka menunggu untuk dipanggil dan berkonsultasi dengan Dokter Indri. Kali ini memang hanya sekadar konsultasi terlebih dahulu. Setelah menunggu lebih dari setengah jam barulah nama Mira dipanggil.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Indri yang rambutnya sudah bercampur hitam dan putih itu. Kendati begitu, sang Dokter masih cantik. Masih ramah.


"Siang Dokter Indri. Saya, Sara ... dulu Dokter yang membantu saya untuk melahirkan anak-anak saya," kata Mama Sara.


Maklum, faktor usia dan juga sudah begitu banyak pasien yang dia tangani membuat Dokter Indri tidak begitu ingat. Akan tetapi, Dokter Indri tetap merespons dengan baik, dan ramah dengan setiap pasiennya.


"Iya ya, Bu ..., maaf, faktor usia, kadang sudah lupa," balas Dokter Indri.


"Tidak apa-apa, Dokter," balas Mama Sara.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Indri.


"Ini saya mau mengantar anak saya untuk melepaskan kontrasepsi implan, dan melakukan pemeriksaan mungkinkan untuk melakukan bayi tabung," kata Mama Sara.

__ADS_1


Dokter Indri kemudian tersenyum melihat pasangan yang masih sangat muda di hadapannya itu. Elkan dan Mira masih muda. Mira saja sekarang baru berusia 22 tahun. Tergolong masih muda untuk memiliki anak untuk ukuran anak muda zaman sekarang.


"Ingin bayi tabung kenapa, Nak?" tanya Dokter Indri.


"Jika memungkinkan ingin memiliki bayi kembar, Dokter," balas Mira.


"Tidak ada riwayat genetika bayi kembar sebelumnya?" tanya Dokter Indri.


"Tidak ada," jawab Mira.


"Pernah keguguran sebelumnya?"


"Belum pernah, karena dulu waktu usai nikah langsung memasang implan di lengan dan saya melanjutkan kuliah dulu, Dokter. Sekarang, sudah lulus, makanya saya ingin program untuk memiliki buah hati," jawab Mira.


Usai itu, Mira dipersilakan untuk duduk di brankar terlebih dahulu. Lantas, Dokter Indri memberikan suntik anestesi, dilanjutkan dengan membuat sayatan kecil pada tempat pemasangan sebelumnya. Mira refleks memejamkan matanya, takut sebenarnya, ya dia takut kala sang Dokter mulai membuat sayatan dan mengeluarkan implannya.


"Tahan napas sebentar yah Nak," kata Dokter Indri.


Beberapa menit saja, dan implan sudah selesai dikeluarkan. "Nah, implan sudah saya lepas. Nanti setelah implan dilepas akan terasa nyeri di lengan, sama saat dulu memasangnya. Bahkan ada yang sedikit bengkak. Gejala lainnya. adalah terjadinya sakit kepala, kondisi ini terjadi lantaran steroid yang terkandung dalam hormon di dalam implan itu sendiri, sehingga menyebabkan hormon jadi tidak stabil. Usai dilepas, maka tubuh akan berada dalam fase mengembalikan kadar hormon yang normal, sehingga proses ini menyebabkan sakit kepala. Yang terakhir adalah siklus menstruasi tidak langsung kembali. Jadi kemungkinan membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan untuk mengembalikan masa subur. Akan tetapi, jika Nak Mira sudah bisa langsung menstruasi artinya tidak ada kendala dalam masa subur."


Walau usia sudah semakin sepuh, Dokter Indri tetap memberikan penjelasan dengan begitu detailnya. Hal itu menjadi pengalaman yang menarik untuk Mira. Dia masih awam mengenai kontrasepsi dan kondisi reproduksi, tapi ada Dokter Indri yang menjelaskan dengan sangat detail.


"Lalu, kita lakukan pemeriksaan kondisi rahim dulu yah. Saya akan menggunakan USG Transva-ginal yang bisa melihat hingga ke rahim dan indung telur," jelas Dokter Indri lagi.

__ADS_1


Lantas transducer sepanjang 2-3 inci diberikan gel pelumas terlebih dahulu dan kemudian dimasukkan ke dalam alat reproduksi Mira. Wanita itu memejamkan matanya karena rasanya sangat aneh, dan sedikit nyeri.


"Tahan napas yah. Jangan berpikir yang aneh-aneh karena ini hanya transducer yang dimasukkan saja. Hasil dari keadaan rahim, bisa dilihat di monitor," kata Dokter Indri dengan tersenyum.


Mira, Elkan, dan Mama Sara kemudian memperhatikan monitor dan juga menjelaskan penjelasan dari Dokter Indri. "Baiklah, ini adalah rahimnya Nak Mira yah. Alhamdulillah, rahimnya bersih. Kalau ada kista atau endometriosis akan terlihat di sini yah. Namun, ini sangat bersih. Lalu ini adalah indung telor ada di kanan dan kiri. Sayangnya, bentuk rahimnya Nak Mira menukik ke belakang, sehingga nanti kalau ingin hamil normal juga sukar karena posisi rahim yang menukik ke belakang."


Mendengar penjelasan Dokter Indri, barulah Mama Sara dan Elkan tahu bahwa Mira juga memiliki bentuk rahim yang menukik ke belakang. Seolah-olah pasangan muda itu sudah memiliki firasat bahwa memang sebaiknya melakukan bayi tabung saja.


"Nah, untuk program itu tidak bisa dilakukan sekarang juga. Akan tetapi, nanti saya akan berikan obat kesuburan dulu untuk mendapatkan ovum terbaik. Setelah itu, ada observasi dan melakukan pengambilan ovum dan sel pria, nanti kita temukan di luar. Jika sudah terjadi pembuahan dan membentuk embrio, barulah embrio itu akan kita tanam di dalam rahim. Alatnya berbentuk seperti tabung, jadi namanya bayi tabung," jelas Dokter Indri.


"Baik, Dokter," balas Mira dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Usai itu, Dokter Indri mencabut transducer dengan hati-hati. Mira diminta kembali menahan napas. Usai itu, transducer disterilisasi dan juga Mira dibersihkan. Usai itu, Mira bergabung dengan Mama mertuanya dan Elkan.


"Ada pertanyaan tidak, Nak Mira?" tanya Dokter Indri.


"Kalau rahim menukik itu tidak bisa dibenahi yah Dokter?"


"Orang zaman dulu melakukan pijat untuk membenarkan posisi rahim, tapi secara medis itu tidak dibenarkan. Rahim menukik ke belakang belum tentu tidak bisa hamil, hanya sedikit sukar saja karena sel pria akan sukar menembus ke dalam," jelas Dokter Indri.


Mendengarkan penjelasan Dokter Indri, Mira tahu memang ada pijat tradisional seperti itu. Namun, memang secara medis tidak disarankan.


"Saya akan berikan obat, rutin untuk diminum. Banyak konsumsi makanan bergizi dan juga istirahat yah. Nanti dua pekan lagi, kita observasi jika memang hasilnya baik kita akan lakukan pengambilan ovum."

__ADS_1


Usai itu, mereka berpamitan. Lebih lega sekarang. Sembari berharap hasilnya baik, dan nanti bisa mendapatkan ovum terbaik. Setelah itu, proses inseminasi juga berlangsung dengan baik dan tidak ada kendala sama sekali.


__ADS_2