
"Sore itu pukul 16:30 cuaca begitu cerah di Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah mendarat jet pribadi sepasang suami istri paruh baya dengan di dampingi oleh Asisten yang hanya berselisih beberapa tahun saja usia nya serta beberapa para pengawalnya, mereka berjalan menuju pintu keluar bandara.di depan bandara telah menunggu 3 mobil mewah untuk menjemput mereka sang sopir pun langsung membuka pintu mobil di saat melihat rombongan tuan Besar mengarah kepada nya.
"Langsung ke Mansion Tuan muda yang baru, perintah nya kepada supir ketika sudah berada dalam mobil.
"Baik' Tuan" jawab sang supir.
Iring iringan mobil mewah pun berangkat ke Mansion dimana adik tirinya yaitu Khabil Ardana yang meninggal di bawa di Mansion Tuan muda Harsya atas perintah dari Tuan Besar beserta Tuan muda Harsya. !Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih! mereka pun tiba di kompleks perumahan Elit Pondok Indah kota Jakarta.! Rombongan mobil mewah pun langsung menuju Mansion paling ujung dan tiba lah di gerbang pintu pagar tersebut.
"Di halaman Mansion kini tampak lah mobil mobil mewah yang sedang berbaris dengan rapi di area parkir dengan berbagai merek dan jenis.
Mobil Toyota Fortuner SUV kedua mobil mewah lainnya membelokkan setir nya lalu memasuki Area parkir di Mansion tersebut dan tepat berhenti bersebelahan dengan mobil mewah Toyota Alphard.
"Para pengawal pun berlarian dan berjalan serta berbaris rapi, saat ketika supir membuka mobil mewah tersebut turun lah satu pasangan suami istri paruh baya beserta Asisten kepercayaan.
"Para pengawal pun membungkuk seraya berkata.
"Selamat datang Tuan Besar dan Nyonya Besar" kata para pengawal serentak sambil membungkuk hormat.
"Terima kasih silahkan kalian kembali kepada posisi masing masing," kata Tuan besar seraya berjalan melangkah menuju pintu masuk.
Tiba tiba mobil Mewah Lamborghini Aventador berserta Marcedez Benz yang sudah di modifikasi berserta tiga mobil mewah lainnya meluncur menuju parkiran dan berhenti tepat di mobil Toyota Fortuner.
Ketika Rombongan mobil itu sampai tampak beberapa pengawal berlarian dan membuka kan pintu untuk mobil yang sangat mewah.
"Tampak pemuda tampan keluar di ikuti oleh Riyan dan dua gadis cantik memakai kerudung hitam keluar dari mobil dan di sambut oleh Maman Tomat Iwan kupluk, Ken Liem, Rex Ryu dan Inah Ineh beserta Syamsul sekeluarga yang terlebih dahulu keluar dari mobil rombongan tersebut.
__ADS_1
"Selamat datang Tuan muda Harsya" kata para pengawal serentak.
"Harsya hanya mengangguk seraya berjalan kearah kakek dan neneknya.
"Kakek Nenek, dan paman Alex" Harsya memberi hormat kepada kalian bertiga" kata Harsya ramah seraya memeluk Paman Alex, lalu, Kakek Abdullah dan yang terakhir Nenek Aisyah.
"Terima kasih Cucuku" jawab Kakek dan Nenek nya bersamaan.
"Setelah Harsya memberi hormat dan memeluk kedua orang tua ayahnya, Halimah dan Fatimah pun di ikuti oleh mereka yang ikut bersama rombongan Tuan muda Harsya pun ikut membungkuk hormat kepada Tuan Besar serta Asisten nya yaitu Alex Brian.
"Selamat Datang Tuan Besar Abdullah dan Nyonya Besar Aisyah beserta Tuan Alex kami semua Adalah para pengawal bayangan dari Tuan muda" kata mereka serentak...!
"Mereka bertiga hanya mengangguk beda halnya dengan Abdullah dan Alex ada sedikit kecurigaan terhadap dua pengawal yang mereka tahu adalah pengawal nya Tuan Suhardi Pemilik perusahaan Anugrah Zahra group, tapi tidak langsung di utarakan karna posisi sekarang sedang berduka.
"Kabar meninggal nya Khabil Ardana hanya tersebar di orang orang Tuan muda Harsya saja tidak di boleh kan ada liputan atau pun pemberitaan, atau pun media sosial lain nya, karna satu alasan yang sedang di jalani oleh Tuan muda Harsya.
"Senja pun masih terbilang dini untuk di ucapkan di kediaman Tuan Muda Harsya sudah sangat ramai dengan para tamu tamu penting di tiga perusahaan tersebut, di antara nya Nyonya Elisabeth, Tuan Suhardi berikut orang orang nya dan Tuan Besar beserta para pengawalnya.
"Kakek, Nenek, Paman, Alex ayo kita masuk sama sama " ajak Harsya kepada mereka bertiga serta kepada rombongan yang ikut bersama Harsya.
"Mereka bertiga pun masuk mengikuti pemuda tampan yang di sebut tuan muda Harsya.
"Di saat pemuda tampan itu menghampiri Suhardi beserta istri dan kedua anaknya serta Billy dan Anita, Harsya pun buru buru mengedipkan mata nya agar tidak membungkuk dan bersikap biasa saja.
"Kakek, Nenek dan Paman Alex perkenalkan ini adalah Rijki Fadilah dan yang ini Ariani mungkin kalian bertiga telah mengenal dengan Tuan Suhardi dan Billy serta Anita, tapi tidak kenal dengan mereka berdua adalah teman Harsya waktu di Jakarta" kata Harsya panjang lebar, dan sedikit kebohongan untuk memperlancar rencananya.
__ADS_1
"Salam Tuan Besar Nyonya Besar dan Tuan Alex saya Rijki Fadilah Suhardi dan ini Adik saya Ariani Suhardi " kata Rijki Fadilah dengan ramah sambil membungkuk hormat.
"Salam kenal kembali Nak, dan terima kasih banyak kepada Tuan Besar Suhardi beserta istri dan kedua anak nya serta Tuan Billy dan Nona Anita sudah mau datang ketempat saya untuk sekedar belasungkawa atas kematian adikku " kata Abdullah ramah.
"Ahk....! Tuan Besar Abdullah anda terlalu sungkan, balas singkat Suhardi karna tidak mau lama lama mengobrol dengan Kakek nya Tuan muda Harsya takut nya keceplosan.
apakah ini yang di maksud dengan mimpiku waktu di rumah Kiayi Sepuh bila tidak buru buru di satukan dua perusahaan tersebut akan terjadi nya perang saudara, tatapan sorot paman Alex pandangan mata kakek Abdullah kepada paman Suhardi begitu menakutkan gumam pemuda yang bernama Harsya dalam gejolak batinnya.
"Untuk mencairkan suasana di antara dia keluarga tersebut, pemuda tampan itu pun mengajak kakek dan nenek beserta Paman Suhardi dan keluarga nya untuk segera masuk kedalam sekedar untuk mengaji kan pada almarhum Khabil Ardana.
"Kakek, Tuan Suhardi ayo kita masuk kedalam untuk melihat jenazah Khabil Ardana untuk yang terakhir kalinya, kata Harsya seraya berjalan dan diikuti oleh semua tamu penting yang di luar untuk masuk.
"Lestari membuka mata nya sayup sayup terdengar suara riuhnya orang orang yang sedang mengaji di luar kamarnya. Perlahan dia mengumpulkan kesadaran nya, mengingat dia pingsan saat dalam pelukan Mami Elisabeth.
"Sayang,! Akhirnya kamu sadar" ucap Elisabeth yang sedari tadi menemaninya pingsan.
"Lestari tidak menjawab, dia hanya langsung mencoba beranjak dari tidur nya.
"Sayang Istrahat lah, Badanmu sangat lemah.!
"Lestari melihat Mami, hingga tak terasa air mata kembali menetes.! Namun dia segera menyeka.
"Aku ingin keluar dan melihat jenazah ayah.
"Berat Sungguh berat yang di rasakan oleh Lestari saat ini, Mami melihat kesedihan teramat dalam dari mata dan suara anak tirinya dia lalu mengangguk, sambil mencoba membantu untuk berdiri.
__ADS_1
Bersambung.