
Sementara masih waktu yang sama hanya berbeda tempat tapi tidak jauh dari Fander dan yang lainnya sedang melancarkan serangan kepada pihak yang akan menangkap keluarga Beni.
Suasana di halaman rumah milik keluarga Ucok sungguh jauh berbeda dengan halaman rumah keluarga Beni.
Ujang Suparman dan anggota macan putih dengan seni beladiri yang ia tampilkan di malam itu menghadapi Rohichan dan para pengawal nya. Terasa membosankan untuk di tonton. Karna hanya suara yang terdengar di telinga malam itu.
"Hiaat..............!!
"Trak............! Trak............! Prak..........! Prak.......!
"Bugh........! Bugh..........!
Sungguh berbeda dengan suara yang ada di halaman rumah Beni.
Para Warga sangat antusias dan begitu semangat melawan musuh dari keluarga Beni dengan beragam cara jurus dia keluarkan di malam itu.
Seorang warga yang terinspirasi dari film-film jaman dulu mulai di keluarkan di pertempuran malam itu, dengan mencontohkan satu pemeran utama yang dia sukai dengan senjata wajan di tangan nya.
"Hei.......... Kau sedang apa.?" Tanya anak buah mister Kong Kong.
"Sebentar gue mau berubah dulu menjadi power ranger merah." Jawab salah satu warga.
"Hahahahaha." Khayalan tingkat tinggi." Ledek lawan nya itu.
"Kita buktikan diantara kita berdua siapa yang berkhayal." Kata warga tersebut, mulai menjulur kan tangannya persis pemain film power ranger sedang berubah.
"Baik siapa takut.! Kalau boleh tahu dengan siapakah saya berhadapan.,?" Tanya Lelaki sipit anak buah mister Kong Kong.
"Perkenalkan nama saya Junaedi. Saya anggota dari power ranger merah yang di tugaskan untuk melawan monster monster seperti kalian." Kata warga yang mengenalkan dirinya dengan bangga.
"Satu Anugrah buat saya bisa melawan power ranger merah. Tapi sayang nya kau tidak memakai baju power ranger." Kekeh Lawan dari Junaedi.
"Hei.......... Junaedi banyak ngomong loe cepat hajar. Lelaki sipit itu." Teriak warga lainnya mungkin dia tetangga nya.
"Santai brow........ Loe sudah berubah menjadi Satria Baja Hitam belum.?" Tanya Junaedi kepada seorang yang berteriak.
__ADS_1
"Waduh.......... Junaedi terlalu banyak menghayal film film anak anak tahun sembilan puluhan." Junaedi ini dunia nyata bukan dunia khayalan." Teriaknya menasehatinya.
"Ahk........... Banyak bacot kalian berdua.........!! Hiatt....." Seru anak buah mister Kong Kong mulai menyerang Junaedi.
"Santai........ Santai......... Woy....... jangan dulu menyerang.!! Ucap Junaedi........! Dengan gerakan tangan nya Ia pukulkan Senjata andalannya yaitu Wajan untuk memasak.
"Breeng............... Breeng........... Breeng..........! Pukulun Junaedi telak kearah kepala lelaki sipit oleh senjata yang di miliki oleh salah satu warga yang bernama Junaedi.
"Hahahaha....! Hahahahaha.....! Junaedi tertawa terbahak bahak.........!
"Hiat......................!!
"Bugh..................!!
"Braak................!!
"Adaawww................. Pekik Junaedi terkena tendangan dari arah belakang tiba tiba hingga Junaedi tersungkur kedalam Pot bunga yang ada di penataran halaman itu.
"Sialan......... Bedebah....... siapa yang berani membopong dari belakang. Sungguh bukan sikap Kesatria yang di milikinya." Kata Junaedi bangkit dari tersungkur nya itu.
Sementara Fander dengan sangat membabi buta menghajar kedua musuh yang tadi bertarung di awal nya dengan menggunakan pedang samurai yang di rampas dari pihak musuh.
"Macan putih segera selesaikan dan jangan biarkan satu orang pun lolos dari cengkeraman kita." Teriak Fander seraya menusuk lelaki sipit yang sudah tidak berdaya itu.
"Siap Tuan Fander.............. Ucap macan putih serentak.
Para anggota macan putih yang tadi nya hanya santai melawannya dengan cara menangkis dan bertahan dari serangan lawan. Kini mereka semua anggota macan putih mulai mengeluarkan taring seni beladiri yang di ajarkan oleh guru nya yaitu Kiayi Sepuh.
Dalam waktu hitungan menit sepuluh orang telah tumbang di tangan sembilan anggota macan putih dan lima orang tewas di pedang Fander.
Sementara dua orang lagi menjadi bulan bulanan komandan kepolisian beserta para anggota kepolisian. Tinggal sisa tiga orang yang sudah muka nya babak belur berwarna merah kehitaman tanda di pukul melalui alat alat dapur hingga merasakan seluruh tubuh berdenyut denyut menahan kesakitan.
Setelah mereka semuanya tumbang, para warga pun bersorak gembira. Fander bersama para anggota macan putih mengucapkan beribu ribu terima kasih atas bantuan dari pihak warga dan kepolisian.
"Komandan dan para warga saya sangat berterima kasih atas bantuan dari kalian semua. Hingga tugas yang di berikan oleh tuan Muda untuk melindungi keluarga Tuan Beni berjalan lancar." Ucap Fander kepada mereka yang telah membantu.
__ADS_1
"Sama sama Tuan Bule. Itu sudah menjadi tugas kami memberantas kejahatan dan meresahkan para warga." Jawab Komandan kepolisian itu.
"Baiklah kalau begitu komandan. Saya bersama para anggota Macan Putih. Mohon ijin untuk menuju rumah Tuan Ucok. Untuk para penjahat saya serahkan kepada anda." Kata Fander membungkuk hormat.
"Silahkan........ Tuan Bule....... Untuk urusan pembersihan. Serahkan kepada kami sebagai pengayom masyarakat." Kata komandan.
Fander bersama beberapa anggota Macan Putih lalu berlari menuju kampung sebelah meninggalkan mereka yang menjadi tugas pembersihan oleh pihak kepolisian.
************ Sementara di kampung sebelah pertarungan Macan Putih yang di ketuai oleh Ujang Suparman begitu alot dan masih sama sama kuat di antara mereka yang ada di halaman rumah keluarga Ucok.
"Rohichan yang bertarung bersama dengan Ujang Suparman. Begitu kewalahan setelah terus menerus menghadang serangan serangan yang di lancarkan oleh ketua macan putih itu.
"Bugh...................!!
"Plak...................!!
"Plak....................!!
Rohichan kini terkena pukulan telak dan tamparan dua kali oleh ketua macan putih itu. Hingga dia merasakan mual dan panas di wajahnya serta terlihat dari sudut bibir mengeluarkan darah segar.
"Bajingan..............!! Lumayan juga ini orang." Gumam Rohichan seraya menyeka darah nya lalu meminum nya.
"Ayo.......... Bangsat saya belum kalah." Tantang Rohichan mengeluarkan sangkur dari arah belakang.
"Silahkan kau maju." Jawab Ujang Suparman seraya melepas kan ikat kepalanya untuk di gunakan senjata oleh nya.
"Wuzzzzzzz...................!! seraya mengepalkan tangannya membelit kan ikat kepala. Ujang Suparman mengeluarkan kekuatan tenaga dalam yang pernah di ajarkan oleh Kiayi Sepuh.
"Hiat...................!! Rohichan maju dengan tangan menggunakan sangkur yang di arahkan kepada ketua macan putih itu yang akan mengenai jantung nya itu. Lalu Ujang Suparman dengan sekali hentakan mengibaskan ikat kepala kearah Rohichan dengan di bantu tenaga dalam yang sudah di pokuskan kepada pihak musuh. Dengan satu kali kibasan saja Rohichan langsung terpental jauh tepat mengarah dinding rumah Ucok
"Bugh........................!!
"Ahkh.................... Ambruk dalam tanah hingga keluar darah segar dari mulut nya.
"Alhamdulillah. Akhir nya aku berhasil Kiayi Sepuh mengeluarkan jurus Jeblag." Lirih Ujang Suparman dengan wajah menadah keatas.
__ADS_1
Salah satu ilmu beladiri yang dipelajari di padepokan Macan Putih ini adalah jurus jeblag. Jurus jeblag ini merupakan salah satu ilmu beladiri Islam dengan tekhnik gerakan dan juga pernafasan, sehingga kalau seseorang sudah menguasai Ilmu jeblag ini dia akan mampu menghindari serangan musuh dan juga mampu memukul musuhnya dari jarak jauh.
Bersambung.