
Halimah yang merasa semakin kedinginan karena cuaca di luar sangat dingin akibat hujan yang sangat deras, tanpa Halimah sadari bahwa kini kepalanya sudah berada di dada bidang suaminya dengan tidur pulas. Harsya pun memeluk nya seperti biasa Harsya dan Halimah ketika tidur. Keduanya terbawa mimpi masing masing. Sampai sampai Halimah dan Harsya lupa dengan posisi tidurnya yang sama sama saling memeluk.
Halimah yang mulai merasa cukup dengan waktu tidurnya. Dengan pelan ia membuka kedua mata nya, sedikit demi sedikit kedua matanya pun terasa berat untuk di buka nya. Halimah sendiri masih belum tersadar diri sepenuhnya. Ia pun mencoba meraba di sekeliling nya. Kedua matanya pun mendadak membelalakkan kedua bola matanya itu. Ia tersentak kaget di buatnya.
"Tidakkkkk.!! Teriak Halimah sekencang mungkin.
"Siapa kamu cepat pergi dari kamar ini.?" Berani beraninya kamu tidur di kamar ini. Pergi!! Cepat." Teriak Halimah. Harsya pun terbangun karena kaget.
"Sayang. Aku suami kamu. Aku Harsya. Aku bukan penjahat." Kata Harsya sambil memegangi kedua tangan istrinya. Halimah pun segera menepis nya.
"Kamu pasti siluman. Atau kamu Jin dan tidak lain telah menjelma menjadi suamiku. Pergi.!! Cepat.!! Aku tidak mau melihat mu. Atau aku akan membacakan ayat kursi agar kau terbakar." Bentak Halimah dengan tatapan penuh kekesalan.
"Kamu mimpi apa semalam sayang....... Nyebut sayang istighfar. Aku ini suamimu bukan siluman atau pun Jin. Semalam aku pulang bersama Kak Gandi. Sesampai di kamar rupanya kamu sudah tertidur pulas. Mana aku tega membangunkan yang sudah tertidur pulas, sayang." Jawab Harsya yang masih memegang kedua tangan istrinya.
Halimah pun memegangi kedua pipi milik suaminya. Ia mencoba memastikan bahwa di hadapannya itu bener bener suaminya bukan siluman. Setelah di lihat lekat lekat bahwa di hadapannya bener adalah suaminya.
Seketika itu juga Halimah langsung memeluk suaminya dengan sangat erat. Seakan dirinya tidak ingin melepaskan. Halimah merasa takut akan kehilangan suami nya. Kedua matanya pun menitikkan butiran Air mata. Dan membasahi kedua pipi mulusnya.
Harsya mengusap punggung istrinya dan melepaskan pelukan nya itu.
Di usapkan nya air matanya dengan jari jemarinya, Harsya tersenyum melihatnya. Kemudian Harsya mendaratkan ciumannya kepada kening Halimah dengan lembut.
"Maapkan aku yang mengagetkan dan tak memberi kabar kepadamu ketika aku pergi ke Negara Jepang untuk membebaskan Abang Ucok dan Beni. Aku punya alasan, kalau aku meminta ijin kepada mu. Pasti kamu tidak akan mengijinkan aku pergi. Bagaimana sekarang perasaan mu. Setelah aku bener bener nyata di depanmu. Tidak hanya itu. Mulai sekarang aku akan memulai kehidupan kita yang baru. Aku akan langsung turun ke perusahaan dan menampakkan jati diri ku yang sebenarnya sebagai pemilik perusahaan terbesar se-Asia." Ucap Harsya sambil menatap lekat wajah istrinya.
__ADS_1
Halimah kaget kedua tangannya langsung membekap mulutnya. Apakah semua rahasianya sudah di ketahui oleh pihak pihak musuh akibat ulah ketiga sahabatnya.
"Sayang kau tak usah terkejut dan kaget. Insyaallah semua akan selesai dengan sendirinya. Kamu tidak usah khawatir dan cemas. Kita di kelilingi orang orang hebat dan orang orang yang setia kepada ku." Kata Harsya Agar istrinya tidak merasa mencemaskan dirinya.
Isterinya mengangguk dan memeluknya erat erat. Ia percaya dengan ucapan suaminya.
"Janji ya. Kamu tidak akan pergi tanpa meminta ijin dulu kepadaku dan calon buah hati kita ini. Aku pun akan berusaha memberi ijin dan menjadi istri yang lebih baik lagi. Kamu tahu.? Aku sangat bahagia memiliki suami seperti mu. Bahkan saking bahagianya aku bisa gila tanpa ada kamu di sampingku. Jawab Halimah. Kemudian melepaskan pelukannya dan menatap kembali wajah suaminya dengan lekat.
Kemudian Halimah segera memegangi kedua tangan milik suaminya. Senyum mengembang terlihat sangat jelas pada keduanya. terlihat seperti rembulan tanpa tertutup Awan yang menghalangi nya.
Setelah mereka berdua cukup beradu pandang. Harsya atau pun Halimah segera bangkit dari posisinya yang masih berada di atas tempat tidur.
"Sudah pagi rupanya. Aku sangka masih tengah malam. Tidak tahu nya sudah jam lima pagi. Rupanya benar benar pulas tidur ku semalam." Ucap Halimah. Lalu pergi ke kamar mandi untuk berwudhu dan menjalankan kewajiban nya.
"Aku hampir gila karena mu sayang. Tidak ada sosok yang aku cintai di dekatku. Bahkan otakku bisa konslet tanpamu." Ungkapan hati Harsya kepada istrinya sambil meletakkan dagunya di atas pundak Halimah.
Halimah segera melepaskan pelukannya, kemudian membalikkan badannya dan membuat keduanya kembali saling tatap menatap.
"Aku percaya dengan mu Kak." Ucap Halimah kemudian ia kembali memeluk suaminya. Tiba tiba Halimah merasakan ada rasa mual pada perutnya dan terasa pusing pada bagian kepalanya.
"Sayang kamu kenapa? Kita ke Dokter ya.?" Tanya Harsya sambil mengusap punggung istrinya dengan cemas.
"Tidak perlu Kak. Nanti juga membaik lagi. Kak Harsya tau kan aku tidak tahan dengan AC. Rasanya tidak nyaman di badan ku." Jawab Halimah dengan jujur. Harsya baru menyadari nya.
__ADS_1
"Maapkan aku sayang. Aku bener bener lupa. Semalam aku merasa gerah saat memasuki kamar. Kemudian hujan begitu deras aku lupa mematikan nya." Ucap Harsya yang merasa bersalah.
Tubuh Halimah mendadak lemas dan mengeluarkan lendir yang begitu pahit. Membuat Halimah semakin tidak karuan rasa lidahnya, wajah nya pun berubah terlihat pucat.
Harsya yang melihat kondisi istrinya semakin bingung dan cemas. Tanpa pikir panjang langsung menggendong Halimah sampai di tempat tidur.
"Tunggu sebentar sayang. Aku akan mengambil Air hangat, agar rasa mual pada perut kamu semakin membaik. Ucap Harsya. Sedangkan Halimah mengangguk.
Harsya langsung bergegas keluar dari kamarnya. Ia segera mengambil Air minum yang hangat. Ia bener bener menghawatirkan dengan kondisi istrinya.
Sesampai di dapur. Harsya langsung mengambil Air minum yang hangat.
"Cucuku kamu sudah bangun.?" Tanya sang Nenek mengagetkan nya.
"Sudah Nek. Tadi perut Halimah mual mual hingga muntah dan mengeluarkan lendir yang kuning. Hingga terasa pahit di bagian mulut Halimah. Harsya sendiri tidak tega melihatnya." Ucap nya dengan cemas.
"Tanyakan pada istrimu, siapa tahu ada sesuatu yang di minta nya." Ucap Aisyah mengingat kan.
"Hmmmmmmm. Aduh teringat permintaan mangga muda waktu itu." Ucap Harsya dalam hatinya.
"Baik Nek. Kalau begitu Harsya mau masuk ke kamar lagi. Kasihan Halimah yang sudah menunggu. Harsya bener tidak tega melihatnya." Jawab Harsya segera kembali ke kamarnya. Sang Nenek tersenyum mengembang saat melihat Cucu nya begitu perhatian dengan istrinya.
"Cucuku kamu memiliki dua sipat yang berbeda. Mana saat menjadi pemimpin di perusahaan. Ada saat nya jadi pemimpin dalam rumah tangga. Nenek sangat beruntung memiliki Cucu seperti dirimu. Perhatian benar benar sangat besar terhadap Istri mu. Pantas saja Halimah sangat begitu murung tanpa adanya kamu di sampingmu. Nenek hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kebahagiaan akan selalu menyelimuti rumah tangga kalian." Batin Sang Nenek.
__ADS_1
Bersambung.