
"Kriiiiing''.........!
"Kriiiiing".........!
"Sebentar Gue angkat telepon dulu.'' Kata Harsya kepada Riyan dan yang lainnya.
"Assalamualaikum" Kata seorang lelaki di sebrang telepon.
"WaallAikum Salam." Jawab penelpon yang menjawab telepon masuk nya.
"Harsya' Sudah saya beritahu kan kepada Lintah darat itu bahwa keluarga nya Bapa Toyib akan melunasi nya malam ini." Kata Herman teman seperjuangan di saat Harsya menjadi tukang ojeg tampan.
"Baiklah Kang Herman. Nanti sahabat saya yang bernama Riyan Anak nya Pak Asep Supriatna akan datang dan langsung membayar lunas hutang piutang Keluarga Pak Toyib.
"Inah dan Ineh yang sedang duduk bersama keluarga majikannya dan seketika membekap mulutnya seakan tidak percaya dengan ucapan yang di dengar oleh telinga kedua nya bahwa Tuan muda Harsya sedang menelepon dengan kang Herman dan akan membayar seluruh hutang keluarga nya.
Aden Harsya tahu dari mana tentang masalah keluarga Inah mungkin Abang Ucok memberi tahukan, ucap Inah dalam hati. Dan Ineh juga berpikiran sama dengan apa yang dirasakan oleh Ineh.
"Baiklah Harsya." Nanti kabari saja bila sahabat loe sudah sampai di rumah Bapak nya atau nomor gue kasih aja sama Riyan." Ucap Herman dalam sambungan telepon nya.
"Ok." Kang kalau begitu gue tutup telepon nya. Loe sibuk lah disana cari penumpang." Kekeh Harsya.
"Sialan loe." Harsya." Mentang mentang loe sudah jadi OOT. di Jakarta." Kekeh Herman dan telepon pun berakhir.
"Saat Pemuda tampan itu selesai dengan sambungan telepon nya. Dan wa Ijah pun datang membawa secangkir kopi lalu menyajikan kepada Riyan.
"Makasih Wa..." Kata Riyan.
"Sami sami Aden.'' Balas wa Ijah
"Brow....! Diminum kopi nya." Kata Harsya kepada Riyan....
"Sue....! Loe masih panas." sungut Riyan.
"Hahahahaha" Harsya tertawa lepas. dan di ikuti oleh mereka Bersama.
__ADS_1
"Hening sejenak sesaat mereka tertawa dan Harsya pun mulai mengutarakan lagi niatnya untuk meminta tolong kepada sahabatnya tentang permasalahan keluarga Bapak Toyib yang anak nya sedang bekerja di Mansion milik nya.
"Brow.....! Loe sama Mang Jaka berangkat hari ini juga ke padepokan macan putih bawa dua mobil.'' Kata Harsya.
"Loe sesudah di padepokan Macan Putih temui nanti teman gue kang Herman langsung menuju rumah Inah dan Ineh untuk membereskan masalah internal dengan lintah darat.'' Harsya pun menjelaskan kabar yang di tarima oleh Mang Jaka saat Ucok dan Inah mengobrol waktu itu. Dan langsung memberi tahukan kepada Kiayi Sepuh beserta Orang Tua nya untuk membantu mereka berdua. Mereka pun menyetujui niat baik pemuda tampan itu.
"Apakah loe sudah mengerti.? Tanya Harsya.
"Riyan pun mengerti dan mengangguk seraya jempol nya iya acungkan kepada sahabatnya.
"Harsya pun mengeluarkan dompet nya dan memberikan satu kartu ATM dan menyerahkan nya kepada Riyan untuk mengurus permasalahan keluarga Toyib.
"Brother.' Pin nya tanggal lahir gue." Kata Harsya.
"Baiklah kalau begitu gue berangkat dulu." Kata Riyan.
"Eit......! Loe tuh minum kopi belum juga di minum udah main mau berangkat dasar sableng loe." Kekeh Harsya.
"Sialan loe...' Kau yang sedeng.," Sungut Riyan Seraya menghabiskan kopi nya dengan hampas nya.
"Sahabatnya hanya nyengir kaya kuda.
"Ehk Riyan loe sama mang Jaka bawa mobil Avanza Veloz dua dua nya karna nanti sesudah urusan loe bersama lintah darat. Loe membawa beberapa murid paman Kiayi Sepuh. sepuluh orang." Kata Harsya mengingatkan nya.
"Siap." Riyan. Seraya mencium tangan Kiayi Sepuh dan Umi Aminah Serta Abah Jaeludin.
"Brother....! Gue berangkat dulu ya." Kata Riyan Seraya memeluk sahabatnya.
"Ok." balas Harsya seraya melepaskan pelukan sahabatnya itu.
"Wa. Ijah Apakah Mang Jaka sudah siap." Tanya Harsya setelah melepaskan pelukan sahabatnya.
"Atos siap dari tadi juga Aden Harsya." Jawab Ijah memakai dua bahasa.
"Riyan pun lalu melangkah ke depan Mansion dan menghampiri mobil yang sudah di sediakan oleh pengawalnya.
__ADS_1
"Sedangkan Kiayi Sepuh bersama kedua Orang Tua angkat nya masuk untuk memberi kan Ruang kepada Inah dan Ineh yang sedari tadi tidak henti hentinya menangis walau pun tidak terdengar tapi air mata nya jatuh los seketika dan mereka berdua pun menyeka sesekali.
"Halimah yang saat itu sedang bersama dengan Inah dan Ineh sesekali bertanya mengapa tidak secara langsung mengutarakan permasalahan tersebut kepada pemuda tampan yang bernama Harsya dan majikan kalian berdua.
"Inah menjawab pertanyaan dari Halimah kekasih majikannya itu.
"Tidak enak hati kerja juga baru satu bulan pun belum sedangkan permasalahan yang sedang di alami keluarga bernilai ratusan juta.
"Apakah teh Inah dan Ineh tidak merasa bahwa kalian berdua sangat berjasa buat keluarga Tuan muda Harsya. Karna telah menyelamatkan kedua Anak Oma Elisabeth yang notabene nya masih saudara majikannya." Kata Halimah.
*
*
*
"Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia dimana Anton Sideka sedang menerima tamu dari seorang wanita paruh baya dan di dampingi oleh dua anak nya yang salah satu anak nya juga anggota kepolisian.
"Menurut laporan yang di terima kepada Brigadir Anton Sideka bahwa suaminya menghilang sudah hampir seminggu lebih dan terakhir dia bersama asistennya yang bernama Bimo.
"Wanita paruh baya itu pun langsung menjelaskan kepada Brigadir Anton Sideka tentang posisi suaminya yang sebelum menghilang dia akan mengakusisi kan perusahaan milik Elisabeth Ardana menjadi milik nya dengan menahan kedua anak majikannya. nasi sudah menjadi bubur kata istrinya Direktur Rony.
"Anaknya Direktur Rony pun seketika kaget dengan kelakuan yang menjadi ayah nya bahwa selama ini dia hidup sampai bisa masuk menjadi anggota polri atas jerih payah ayahnya menghalalkan seribu cara dan karna ketidakpuasan nya ingin memiliki perusahaan yang bukan milik nya.
"Bu Rony dan Nak Surya beserta Nona Sri kasus yang ibu laporkan kepada kepolisian dan hilangnya suami ibu beserta Asisten nya. Mungkin ada kaitannya dengan Genk Kobra beracun. Menurut penyelidikan yang selama beberapa hari ini. Sebelum Kedua anak Nyonya Elisabeth hilang dan di Sekap oleh Anggota Genk Kobra beracun.'' Dan sampai terbunuh nya Tuan Khabil Ardana yang masih Misteri oleh pihak kepolisian saat ini.'' Kemungkinan Suami ibu berada dalam sekapan Genk Kobra." Kata Brigadir Anton Sideka memberikan ilusi.
"Pak Jendral apakah sebaiknya kita lakukan penyelidikan kepada anggota Genk Kobra untuk menemui titik terang keberadaan ayah saya.'' Tanya Surya Gunawan yang baru satu tahun ini dia menjadi anggota polri.
"Penyelidikan untuk Anggota Genk Kobra sedang saya lakukan dengan beberapa Intel terlatih saat ini. Dan Kasus ini tidak bisa gerasak gerusuk di kerjakan untuk senyap agar kita bisa mengikis pertahanan milik Genk Kobra. Kita bisa saja secara brutal menangkap dan membasmi organisasi tersebut. Tapi itu akan buruk citra kita di kalangan masyarakat dan internasional. " Anton Sideka memberi petuah kepada Surya Gunawan karna tahu jiwa patriot nya sedang menggebu gebu. Terutama Ayahnya yang menjadi korban.
"Baiklah." Pak jendral.'' Kata Surya.
"Untuk kasus hilangnya Suami Ibu Rony saya terima dan akan saya pelajari terlebih dahulu serta secepatnya pihak kami akan segera mencari keberadaan suami ibu yang seminggu lebih menghilang." Kata Brigadir Anton Sideka.
"Terima kasih Pak. Atas bantuannya kalau begitu saya mohon ijin pamit." Pinta Istri Direktur Rony.
__ADS_1
"Bersambung.