
"Kriiiiing'' Kriiiiing'' Kriiiiing''.
Suara panggilan telepon berdering keras di pagi menuju siang itu. Azis yang mengetahui bahwa pemanggil itu Gandi. Ia acuhkan dan hanya menekan tombol diam agar suara nya tidak terdengar.
"Kriiiiing" Kriiiiing'' Kriiiiing.
Lagi dan lagi ponselnya berdering kembali dan di lihat pemanggil nya nomor yang sama. Ia hanya memencet tombol diam kedua kalinya.
Hampir sepuluh kali Gandi menghubungi Azis tapi satu pun dia tidak di angkat. Dalam hatinya dia sudah menjadi buronan orang orang dari perusahaan milik Harsya menantu dari gurunya itu Kiayi Sepuh.
Ia sangat prustasi saat ini. Akibat menuruti keiinginan pacarnya dan tidak bisa menahan hawa napsu nya. Disaat rasa prustasi yang sedang di alami oleh Azis. Hani pun keluar dari Kamar vila yang ia sewa dengan keaadaan memakai pakaian segitiga Bermuda dan pembungkus dua gunung. Berjalan menghampiri pacar nya yang sedang garuk garuk kepalanya.
"Sayang kamu kenapa. Apakah di rambut kepalamu banyak ketombe." Tegur Hani dari arah belakang lalu memeluknya.
Azis membalikkan badannya. Dia terkejut pacar nya belum memakai bajunya dan hanya ada dua yang menempel di di seluruh tubuhnya. Seketika pusaka warisan nya mulai bangun dan menempel tepat di segitiga bermuda yang di pakai oleh Hani.
"Hmmmmmmmm. Kok kamu belum memakai baju." Ucap Azis dengan mata menatap kearah Hani tanpa berkedip.
"Awww.......... Ahk...... Sayang." Pekik Hani.
"Kenapa sayang.?" Tanya Azis kaget.
"Pusaka warisan mu menempel tepat di Goa sigotaka yang terbungkus segitiga bermuda kepunyaan ku. Hingga merasakan Ngilu dan geli." Kekeh Hani seraya menggodanya kekasihnya di pagi hari itu.
"Kamu menggoda ku. Mau aku bawa ke surga rupanya." Ucap Azis dengan senyuman. Sedangkan Hani mengangguk sambil mengedipkan mata sebelah kiri nya. Tanda ia ingin di bawa ke surga.
Tak di lama lama lagi oleh Azis. Ia langsung menarik paksa pacarnya untuk masuk kedalam kamar vila di pagi hari itu. Pertempuran antara dua insan yang berbeda kelamin itu. Tampa ikatan perkawinan, sungguh sangat bergelora. Saling balas membalas serangan antara Hani dan Azis di dalam kamarnya.
__ADS_1
Hingga Lima belas menit berlalu Azis pun mengeluarkan senjata rahasianya yang menjadi candu buat Hani.
"Ayo Kak.............. Azis sayang......... Segera arahkan senjata mu kepada Goa sigotaka milikku." Ucap Hani memelas karna sudah tidak tahan lagi dengan serangan serangan yang di lancarkan oleh Azis melalui permainan mulutnya.
"Sebentar sayang. Aku sedang mengumpulkan tenaga dalam dulu." Ucap Azis seraya memegang pusaka warisan leluhur nya untuk di arahkan ke mulut goa sigotaka milik Hani.
Hani sudah siap dengan gaya nya. Ia siap menerima serangan mematikan yang akan di lancarkan oleh kekasihnya. Serangan yang akan membawa mereka berdua ke puncak alam nirwana.
Sungguh jiwa muda mereka berdua sangat menggelora di pagi hari itu. Tampa ada rasa lelah sama sekali. Dengan beberapa perbekalan yang di siapkan oleh Hani malam itu. Hingga sampai siang hari mereka berdua tak kunjung keluar dari kamarnya. Entah berapa ronde mereka berdua melakukan pertarungan di dalam kamarnya.
Keaadaan di dalam kamar vila yang di sewa oleh mereka berdua sungguh sangat memprihatinkan. Sprei dan bantal serta guling berserakan dimana mana. Sementara mereka berdua keringat bercucuran satu sama lain.
*****
Sementara di salah satu Mansion di kawasan Bintaro Jakarta Selatan. Dua unit mobil dengan berbeda merek dan tipe baru saja tiba di halaman Mansion milik Tuan Muda Harsya.
Kedua Orang Tua Indah' dan Dewi tersentak kaget setelah sampai di salah satu bangunan yang begitu besar dan mewah bak Istana kerajaan dengan beberapa para pengawal yang sedang berjaga di setiap sudut di halaman Mansion itu.
Bu Komariah segera bertanya kepada Indah, yang duduk di depan jok mobil.
"Indah Apakah kita sudah sampai.?" Tanya Komariah Ibu kandung nya Dewi.
"Betul Wa Komariah. Di Mansion ini Kak Harsya dan Istrinya tinggal." Jawab Indah.
"Kita bener celaka Indah. Telah menyinggung Anak angkat Aminah dan Jaeludin." Timpal Ayah nya Dewi yang duduk di kursi belakang.
"Betul Pak. Kardi." Timpal lelaki sebelahnya yaitu Ayah nya Indah.
__ADS_1
Tak lama kemudian ketika kecemasan dua keluarga yang masih berada di dalam mobil yang membawanya dari kampung menuju kediaman Tuan Muda Harsya. Ketukan pintu mobil pun terdengar.
"Tuk........ Tuk........ Tuk..........
Pintu mobil pun langsung di buka oleh Indah dan di ikuti oleh dua Wanita Paruh Baya yang duduk di kursi jok tengah. Kini mereka berlima sudah turun dan Dewi pun langsung menghampiri nya.
"Nona Indah dan Nona Dewi bersama yang lainnya. Silahkan masuk sudah di tunggu oleh Tuan Muda Harsya bersama yang lainnya.'' Titah Mang Jaka.
Sementara Riyan sendiri sudah masuk terlebih dahulu mengabarkan kepada sahabatnya dan menjelaskan tentang obrolan semalam bersama Tuan Alex dan Suhardi beserta beberapa orang orang penting perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP. Harsya dan Halimah bersama kedua Nenek dan Kakeknya mengerti lalu segera memerintahkan Mang Jaka untuk segera masuk kedua Orang Tua sahabatnya itu.
"Terima Kasih Mang Jaka. Silahkan Mang Jaka untuk jalan di depan." Jawab Dewi dengan tersenyum manis.
"Mari..................! Ucap Mang Jaka. Lalu berjalan di depan di ikuti oleh mereka berenam dengan wajah yang sangat cemas dan ketakutan melanda dalam hati mereka masing-masing.
Sesampai di ruangan tamu mereka pun langsung duduk di kursi yang telah tersedia. Sementara Mang Jaka langsung berjalan keruangan keluarga bahwa tamu yang di bawa oleh Riyan sudah berada di ruangan tamu.
"Nak Indah. Nak Dewi. Sapa Wanita Paruh Baya. Yang datang bersama suaminya dan di ikuti oleh Riyan.
"Nyon..... Nyony...... Nyonya...... Besar..... Tuan.... Besar....." Jawab Mereka berdua terbata bata karna rasa ketakutan melanda dalam dirinya. Bukan mereka berdua saja Kedua Orang Tua nya tidak berani menampakkan wajahnya saat itu.
Nyonya Aisyah tersenyum manis melihat mereka yang sedang duduk di kursi. Beda dengan Abdullah Ia menatap tajam sorot mata mereka berdua penuh dengan kebencian. Seandainya dia tidak memandang Cucu nya sudah di maki maki oleh nya.
Tatapan mata dari Tuan Besar tertangkap oleh mereka berdua Indah dan Dewi. Sehingga kata kata nya terbata bata dan keringat bercucuran di seluruh tubuh mereka.
"Sayang ayo kita duduk. Pandangan dan amarah mu. Redakan, mereka datang kesini atas permintaan dari Suhardi beserta besan kita. Kiayi Sepuh." Ucap Aisyah.
Abdullah hanya mengangguk. Dia tidak menjawab. Amarahnya masih tertahan dalam tubuhnya. Karna ulah mereka berdua dan satu lagi yaitu Hani. Dua Keluarga Ucok dan Beni hampir melayang nyawanya. Bukan Dua keluarga saja. Ucok dan Beni pun hampir mati di tangan pihak musuhnya. Untung nya Cucu dan orang orang nya berhasil membebaskan.
__ADS_1
Bersambung.