
"Kriiiiing'' ................!
"Kriiiiing'' ................!
"Kriiiiing'' ................!
Suara ponsel berdering membuyarkan obrolan malam di salah satu rumah yang jauh dengan hiruk pikuk perkotaan dan tidak jauh dari padepokan Macan Putih.
"Alex ponselmu berbunyi sebaik nya angkat dulu, barangkali ada hal yang penting." Titah Abdullah.
"Baik' Tuan' Besar seraya beranjak menuju ponsel yang di simpan di meja yang tidak jauh dari mereka mengobrol.
"Hmmmm." Gandi gumam Alex setelah melihat layar ponsel tertera nama nya.
"Gandi........... Ada apa kau menelepon ku malam ini.?" Tanya Alex menjawab telepon.
"Gandi pun langsung menjelaskan tentang obrolan barusan bersama Dirga dan Azis menolak keras rencana yang sedang di jalani oleh Tuan Muda Harsya.
"Hmmmmmmm." Biarkan saja Gandi yang penting kau pantau terus mereka berdua seandainya Dirga dan Azis hanya mengutarakan kekesalan tentang urusan hati nya yang di kengkang oleh Tuan muda tidak jadi masalah. Tetapi bila dia bertindak yang lain sampai mencelakakan Tuan Muda saya sendiri yang akan membunuh mereka berdua tanpa ampun." Ucap Alex dalam sambungan telepon.
"Baiklah Tuan, saya akan memantau mereka." Jawab Gandi lemes dan tidak bergairah lalu mengakhiri panggilan telepon bersama Tuan Alex.
Kenapa bisa kacau begini." Ucap Alex seraya berjalan kearah ruangan keluarga.
"Alex ada apa?" Dan kenapa wajah mu kusut.!! Tanya Abdullah.
__ADS_1
Alex pun langsung duduk kembali bersama Tuan Besar Abdullah dan Nyonya Besar Aisyah serta Kiayi Sepuh yang ada di ruangan keluarga.
"Tuan Besar dampak dari rencana yang di jalankan oleh Tuan Muda beberapa orang berontak tidak menerima keputusan yang di perintahkan nya, terutama anakku dan murid Kiayi Sepuh yang bernama Azis Nazmudin esok akan langsung datang dan berbicara kepada Tuan Muda Harsya. Sebelumnya ketiga sahabat Tuan Muda yaitu Dewi dan Hani beserta Indah dengan terang terangan mencaci maki Tuan Muda di saat mereka bertiga sedang mengobrol bersama dengan Tuan Iskandar di kafe yang tidak jauh dari kampus." Alex secara rinci dan detail menjelaskan kepada Tuan Besar Abdullah beserta Nyonya Aisyah dan Kiayi sepuh.
"Kiayi Sepuh hanya tersenyum kearah lelaki yang telah mengikuti Abdullah sahabatnya dari berusia delapan tahun itu. Lalu berkata.
"Tuan Alex biarkan saja mereka berontak karna jiwa muda nya masih labil, mereka tidak berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Mereka tidak mengetahui musuh di depan kejam nya seperti apa." Jawab Kiayi Sepuh, membuat mereka bertiga tenang hatinya yang tadi was was merasakan ketakutan akan terpecahnya hubungan di antara orang orang Tuan Muda.
"Kita yang sudah tua hanya bisa memantau dan mendukung penuh nahkoda yang sedang di kendarai oleh majikannya, rintangan dan badai yang akan menerjang bahtera yang di nahkodai oleh Harsya, saya yakin akan melesat dan sampai di tempat tujuannya.
"Kita semua hanya perlu dukungan secara lahiriah dan batiniah kepada orang orang yang tidak goyang dan rapuh pendirian dan percaya kepada pemuda itu." Ucap Kiayi Sepuh memberi nasehat dan petuah kepada Asisten sahabatnya.
"Kiayi boleh kah saya bertanya.? Tanya Alex dengan wajah tertunduk.
"Apakah Kiayi mengetahui rencana yang di buat oleh Tuan muda selaku menantu Kiayi.?" Tanya Alex.
Lelaki paruh baya itu tersenyum kearah nya dan dia hanya menggeleng kan kepala nya.
"Alex saya sendiri tidak mengetahui rencana apa yang di buat oleh menantu ku sendiri, dan bila harus jujur dan saya katakan kepada kalian bahwa Harsya tidak mempunyai rencana sama sekali, dia hanya mengikuti arus air yang mengalir dan berusaha untuk tidak di bendung air yang mengalir. Karna bila air yang mengalir itu di bendung maka akan mengakibatkan kebanjiran karna meluap nya air tersebut. Sama halnya yang dilakukan oleh Cucu sahabat ku Harsya, dia berusaha untuk melindungi Hani dan Dewi serta Indah agar tidak menjadi target orang orang perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dengan memanfaatkan kelemahan dari pihak kita. Karna target musuh untuk menghadapi kita mereka mencari kelemahan kelemahan pihak lawannya. Sedangkan kelemahan dari Tuan Muda Harsya ada di ketiga sahabatnya itu.
"Seandainya dari awal mereka bertiga tidak berpacaran dengan anak mu yaitu Dirga Brian dan murid saya Azis Nazmudin. Harsya tidak akan mengekang atau ikut campur urusan masalah hati dari mereka bertiga. Begitulah kira kira yang ada dalam pikiran dan mungkin rencana dari Tuan Muda Harsya." Kata Kiayi Sepuh.
Alex serta Abdullah beserta Aisyah mendengar kan penuturan dari Kiayi Sepuh dia sedikit mengerti tentang apa yang di bicarakan oleh seorang tokoh yang di segani oleh masyarakat dan para pejabat di kota kecil itu.
Malam semakin larut obrolan pun kini telah usai di antara mereka berempat karna rasa kantuk menyerang, Kiayi sepuh sudah kembali ke padepokan Macan Putih untuk beristirahat.
__ADS_1
*******************************
Malam pun telah berubah menjadi siang. Tidur panjang di malam itu terasa segar ketika mereka berdua bangun di pagi hari. Setelah mereka berdua mempersiapkan segala sesuatu nya seraya berpamitan kepada Orang Tua Cok Ben serta para saudara mau pun kerabat nya. Kini mereka berdua telah berada di Bandar Udara Internasional Kualanamu yang tidak jauh berada di jantung kota Medan.
Keberangkatan mereka berdua ke negara Jepang belum di ketahui oleh Tuan Muda. Karna Cok Ben saat ini masih dalam pemantauan dan gerak gerik orang orang dari ketiga sahabat almarhum Dani Rustandi.
"Tuan Ucok dan Tuan Beni, pesawat sudah siap mengudara. Saya Rohichan bersama orang orang hanya bisa mengantar sampai sini." Kata Satu dari sepuluh orang yang malam datang bertamu.
"Kenapa kalian tidak mengantar kami langsung menghadap mister Kong Kong dan Naga Saki Sempur serta Tuan Simon.?" Tanya Ucok penasaran.
"Mohon maap. Tuan Ucok saya tidak bisa menemani perjalanan kalian berdua. Karna saya dan seluruh pengawal lainnya akan langsung berangkat menuju kota Jakarta untuk segera ke kantor KOBRA COMPANY GRUP dan mempersiapkan tempat untuk kalian berdua tempati." Jawab Rohichan berbohong.
Ini ada yang tidak beres dan ada yang di sembunyikan oleh mereka, aku harus berhati hati." batin Beni bergejolak.
"Baiklah kalau begitu kita berdua akan segera berangkat." Kata Ucok tanpa mau berkata lagi.
"Silahkan Tuan Ucok." Jawab Rohichan seraya membungkuk hormat.
Beni dan Ucok pun lalu berjalan menuju landasan pesawat terbang yang akan membawa mereka berdua mengudara menuju negara Jepang, dalam berjalan kaki mereka Beni mengeluarkan ponsel dan mengirim kepada para anggota Macan Putih untuk bersiaga di rumah kedua orang tuanya, karna ada yang mereka sembunyikan.
Sementara Rohichan bersama sembilan orang orang suruhan mister Kong Kong kembali menuju hotel tempat mereka menginap guna mengatur rencana untuk menangkap dan menyandera Orang Tua dan adik adik Cok Ben. Atas perintah dari majikan nya itu.
#PlasbakOn#
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
__ADS_1