
Tuan Tsubasa........ Apakah mereka bertiga atau salah satu dari mereka bertiga Simon dan Kong Kong atau pun Naga Saki Sempur sudah mengetahui tentang anak buah nya yang sudah di bantai oleh orang orang saya.?" Tanya Harsya kepada penelepon di sebrang sana.
"Apa..............!! Kaget Tsubasa dalam sambungan telepon tersebut.
"Tuan Tsubasa kenapa anda berteriak sangat kencang sekali. Membuat telinga saya berdengung.
"Mohon Maapkan saya Tuan Muda. Saya sangat terkejut mendengar perkataan dari anda bahwa anak buah mister Kong Kong telah anda bantai.
"Tuan. Itu tidak terlalu kita bicarakan dalam forum pembantaian kepada anak buah yang di kirim mereka bertiga dalam telepon ini. Apakah mereka bertiga sudah mengetahui atau belum.?" Tanya Harsya menunggu jawaban.
"Tuan Muda kemungkinan terbesar mereka belum mendapatkan informasi atau pun mengetahui tentang para pengawal yang di tugaskan untuk menangkap keluarga Tuan Beni dan Tuan Ucok." Jawab Tsubasa yakin.
"Kalau begitu, segera bergerak untuk melepaskan Cok Ben saat ini juga. Sebelum Simon dan Kong Kong serta Tuan Naga Saki Sempur datang dan mencelakai kedua Abang saya." Titah Harsya memberi perintah kepada Tsubasa orang jepang itu.
"Siap Tuan muda........ Perintah dari anda segera akan saya laksanakan. Anda tinggal tunggu kabar baik." Kata Tsubasa dengan yakin tugasnya itu mudah.
"Baiklah Tuan Tsubasa. Saya tunggu kabar baiknya. Berhati-hatilah dalam menyelamatkan mereka berdua dan saling tukar informasi kepada saya." Kata Harsya mengingatkan.
Setelah mengakhiri obrolan panjang di telepon bersama Tsubasa. Harsya pun langsung melanjutkan obrolan nya lagi bersama Abah Sepuh dan yang lainnya. Tapi pikiran dan hatinya tertuju kepada Cok Ben yang sedang di sekap oleh pihak musuh.
"Cucuku Apakah ada sesuatu yang perlu Abah bantu dalam menghadapi permasalahan yang menimpa mu." Kata lelaki paruh baya itu bertanya.
"Entah lah Abah pikiran dan hatiku sedang memikirkan dan menghawatirkan keselamatan Abang Ucok dan Abang Beni yang sedang di sekap di negara Jepang." Keluh Harsya.
"Cucuku Kau tenang kan lah, insyaallah permasalahan dan kecemasan mu kali ini mereka akan bisa mengatasi nya. Sebaiknya kau bersama orang orang yang setia dengan anda mempersiapkan untuk pertempuran yang sangat dahsyat di kemudian hari." Kata Abah Sepuh.
__ADS_1
"Maksud Abah Sepuh. Bisakah di perjelas ucapan yang baru di katakan." Pinta Harsya' penasaran walaupun dia sendiri sudah mengetahui ke depannya akan banyak darah yang akan mengalir dalam pertempuran dengan perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP.
"Abah hanya bisa melihat dari mata batin. Bahwa musuh kali ini yang akan di hadapi jumlah kekuatan dan koneksi nya melebihi dari musuh yang telah membunuh kedua orang tua mu. Maka dengan ini Abah bersama Padepokan dan pondok pesantren yang telah di bantu oleh Kedua Orang Tua mu. Akan ikut andil membantu dan melindungi dirimu sebagai balas Budi dari kedua orang tua mu." Ucap Abah Sepuh. Lalu melanjutkan perkataannya setelah diam sejenak.
"Abah bersama anak didik di padepokan Cimande akan mengundang mereka yang mempunyai padepokan pencak silat dan pondok pesantren yang mengajarkan ilmu beladiri. Untuk di ikut sertakan dalam lingkup keamanan di perusahaan yang sedang kamu jalani.
"Cucuku tinggal tunggu kabar dari Abah. Kapan orang orang terlatih dalam pengamanan dan pengawalan untuk di berangkatkan ke perusahaan milik mu." Ucap Abah panjang lebar. Membuat Harsya dan Alex serta dua Srikandi Cimande Inah dan Ineh manggut manggut dan tersenyum manis.
**************************************
"Sementara Di Bandar Udara Tokyo seorang lelaki berusia 40 tahun sudah mendarat dan turun dalam pesawat kelas ekonomi. Lelaki itu lalu berjalan kearah pemeriksaan di bandara tersebut.
Tak lama setelah itu, lelaki yang di panggil dengan sebutan Pak Hutabarat yang bekerja sebagai kuasa hukum nya Nyonya Windi dan Winda, kini berjalan kearah pintu keluar bandara internasional Tokyo Jepang.
Tidak butuh lama dia menunggu mobil mewah pun kini sudah berhenti tepat di samping lelaki itu, dan keluar lah dua orang lelaki berdasi dengan mata yang sipit menghampiri Pak Hutabarat.
"Terima Kasih Tuan. Apakah saya boleh tahu siapakah nama anda." Kata Hutabarat sebelum masuk ke dalam mobil jemputan.
"Panggil saja saya Cong dan yang di samping saya Li. Tuan bisa memanggil kami berdua Congli." Ucap satu lelaki yang memperkenalkan dirinya. Membuat Hutabarat tersenyum dan tertawa dalam hatinya.
"Hahahahahaha Ada ada saja itu nama mereka berdua.! Kalau kata Orang sunda artinya Congli itu Conge Dina celi.
""Baiklah Tuan Congl,. Mari kita jalan."Pinta Hutabarat.
"Mari Tuan............! Ucap Cong dan Li membuka pintu mobil nya.
__ADS_1
***********
"Paman Simon apakah sudah ada kabar dari Rohichan yang di tugaskan untuk menangkap kedua keluarga penghianat itu.?" Tanya Anastasia yang sedang berada di restoran menunggu kedatangan pengacara Ibu kandung dan Tante nya itu.
"Belum Keponakan ku. Mungkin Rohichan bersama yang lainnya sedang beristirahat." Terka Simon, padahal dalam hatinya dia merasakan kecemasan karna tidak ada kabar dari pagi dan nomor ponsel nya tidak aktip.
"Apakah biasanya Rohichan suka begitu bila di beri tugas oleh Paman Simon atau pun Paman Kong Kong dan Naga Saki Sempur.?" Tanya Anastasia, karna melihat dari sorot matanya mereka bertiga sedang berbohong.
Mister Kong Kong menjawab pertanyaan dari keponakan yang paling cantik." Kata Kong Kong yang menjawab.
"Anastasya, biasanya Rohichan kalau sudah di beri tugas oleh kami bertiga, dia langsung mematikan ponselnya untuk tidur dan baru akan di aktipkan lagi bila senja sudah datang. Kemungkinan nanti malam dia akan menelepon di antara kami bertiga dan yakin tugas yang di berikan oleh kita kita akan berhasil.
"Hmmmmmmmm." Begitu ya Paman..........!! Mudah mudahan tidak ada halangan ya." Ucap Anastasya dengan seringai kecil.
Tidak lama kemudian di saat mereka sedang mengobrol di restoran mewah di kota Chiyoda. Orang yang di tunggu tunggu oleh mereka pun kini telah datang di bawa oleh kedua pengawal mister Kong Kong yang biasa di panggil dengan Congli.
"Tuan Besar. Nona Muda serta tuan Besar lainnya. Pak Hutabarat sudah berada dalam mobil apakah langsung di bawa kesini atau menunggu di hotel untuk beristirahat.?" Kata Supir yang menjemput pengacara Winda dan Windi itu.
"Sebaiknya bawa kesini sekalian untuk menyantap makan siang.! Bukan kah begitu Kong Kong dan Naga Saki Sempur serta keponakan ku.?" Tanya Simon. Kepada mereka bertiga meminta pendapat.
Mereka bertiga hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaan dari Simon.
"Cong Bawa saja kesini dan temani oleh mu untuk menyantap makanan. Saya khawatir dia belum makan." Kekeh Simon cekikikan.
"Siap Tuan Besar. Kebetulan saya dan Li belum sarapan." Jawab Cong antusias, seraya beranjak meninggalkan mereka berempat.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya