TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Kegelisahan Abdullah dan Suhardi


__ADS_3

"Ohk tuhan............. Apakah aku akan menjadi seorang ayah." Ucap Harsya dalam hati seraya bersandar di dinding.


Jelas dia tidak percaya dengan semua ini.


Semenjak dia di asuh oleh pasangan Paruh Baya yang jauh dari serba kekurangan, hinaan dan cacian ia dapatkan semua itu sampai akhirnya semua terungkap dan menjadikan satu satu nya pewaris tunggal perusahaan milik Kakek dan ayahnya. Dengan keberanian dan rasa percaya diri serta dukungan finansial yang Ia miliki. Harsya pun mengungkapkan isi hatinya dan langsung melamar Halimah di depan kedua Orang Tua nya.


"Ini Anugrah.! Ya ini Anugrah yang tidak bisa di ungkapkan oleh kata kata.


"Aduh........ Cucuku malah melamun.! Suhardi.......! Woy Harsya. Mengapa kau hanya diam saja. Cepat temui istrimu." Kata Kakek Abdullah setelah berpelukan dengan Paman Suhardi.


"Oh..... Iya.. Iya.... Kek.... Aku hanya tidak percaya. Apakah ini nyata." Kata Harsya seraya menampar pipinya sendiri.


"Dasar....... Kau persis seperti ayahmu yang suka lamban dalam berpikir." Sindir Abdullah.


"Pergi temui istrimu sekarang.!!


"Mari kita saja duluan. Biarkan Harsya sendiri saja." Ajak Aisyah kepada mereka yang ada di sana.


"Hmmmm." Orang orang hanya tahu hasilnya saja. Tidak tahu proses pembuatan adonan hingga Halimah bisa hamil. Harus nya mengucapkan kata selamat itu kepada burungku yang ada di dalam celana, seraya di elus elus." Kekeh Harsya cekikikan.


"Sialan kau anak Kuya. Sini burung mu kakek elus pake tongkat ini." Kata Abdullah seraya mengejar Harsya.


"Ampun........... Ampun......... Ampun....... Kek....! Seraya berlari menjauhi Kakek Abdullah pergi menuju kamar istrinya yang sedang berbaring.


***********


"Kriiiiing''...............!

__ADS_1


"Kriiiiing''...............!


"Kriiiiing''................!


"Halo..!!


"Tuan Muda Harsya. Ada informasi yang sangat penting untuk saya sampaikan malam ini.?" Tanya si penelepon yang bernama Tsubasa.


"Oh. Silahkan katakan informasi penting apakah yang mau di sampaikan kepada saya." Jawab Harsya.


"Begini Tuan Muda. Cok Ben saat ini sebentar lagi akan mendarat di bandar udara internasional Tokyo Jepang. Sedangkan orang orang dari perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP sudah bersiaga untuk menangkap dan membawa langsung mereka berdua untuk di interogasi tentang mereka berdua berhianat dan di balik dalang kematian Dani Rustandi dan Ruli Siregar Rusady. Apakah ada perintah dari Tuan Muda kepada saya dan lima teman saya.?" Tanya Tsubasa dalam sambungan telepon.


"Hmmmm." Sudah aku duga dan kira Tuan Tsubasa bahwa kedua Abang saya Cok Ben di jemput nya sudah di siapkan jauh jauh hari oleh mereka bertiga." Kata Harsya.


"Ohk bukan begitu Tuan Muda. Tadi nya Simon dan Kong Kong serta Naga Saki Sempur tidak mengetahui tentang penghianatan yang di lakukan oleh mereka berdua, tetapi setelah menerima telepon video call dari Nona Sintia dan Anastasia, lalu mereka bertiga mengubah alur untuk menangkap mereka berdua dan mengorek informasi dengan ancaman orang tua nya Cok Ben akan di jadikan tameng buat kelemahan nya." Tsubasa menjelaskan pendapat tentang informasi yang di dapatkan.


"Akan saya usahakan Tuan Muda." Jawab Tsubasa.


"Terima Kasih banyak sebelumnya Tuan. Kalau begitu saya akhiri percakapan dengan anda, silahkan anda beraktifitas di sana." Kata Harsya kepada penelepon yang ada di negara Jepang itu.


"Baik." Tuan muda.!!


"Tut..........! "Tut.........! Tut........! Telepon pun berakhir.


***********


"Siapa yang menelepon mu Cucu ku Harsya.?" Tanya Abdullah.

__ADS_1


"Ohk itu adalah orang orang dari Naga Saki Sempur yang tertangkap waktu di tugaskan mengawal Ketua Gareng, dia memberi kabar tentang di jemput nya Cok Ben." Jawab Harsya tidak di jelaskan detail karna takut merasa khawatir.


"Hmmmm." Aku baru tahu kau sudah melangkah lebih jauh memahami musuh yang akan menyerang mu." Kata Abdullah.


"Terkadang Kek dan Paman Suhardi, sesuatu yang aku rencanakan dengan matang dan demi kebaikan semua, selalu salah di mata orang orang yang punya pemikiran dangkal dan hanya menggugu hawa napsu sesaat. Perombakan di perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY yang aku lakukan tidak semua orang menerima, terkadang mereka mencaci maki dengan perkataan yang sangat tidak pentas di ucapkan, padahal niat ku hanya untuk melindungi mereka dan perusahaan agar tidak menjadi target dari pihak musuh." Keluh Harsya kepada dua orang yang sangat di hormati.


"Kakek dan Paman serta Kak Rijki Fadilah, ada beberapa hal yang harus di beritahu kepada orang orang kita, dan beberapa hal yang tidak boleh tahu orang orang kita. Rencana yang aku buat sudah aku terima konsekuensi dan segala resiko nya, yang penting ke tiga sahabat ku dan perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY tidak sepenuhnya menjadi target utama orang orang dari Naga Saki Sempur serta Tuan Simon dan Kong Kong, yang lebih kejam dari Dani Rustandi dan Ruli Siregar Rusady.


"Perlu Kakek dan Paman Suhardi serta Kak Rijki, saat ini yang sedang aku khawatir kan adalah Cok Ben." Lirih Harsya.


"Kenapa kamu menghawatirkan mereka berdua. Bukan mereka menjadi orang kepercayaan dari mereka bertiga sekaligus mata dan telinga bagi kita di sini.? Tanya Suhardi.


"Tadinya. Aku juga berpikiran sama seperti Paman. Tapi malam kemarin saya mendapat kan kabar dari Matih sembilan yang langsung menerima pesan singkat dari Abang Ucok untuk melindungi dan mengamankan keluarganya karna curiga menjadi target dari anak buah mister Kong Kong dan barusan kabar dari Tuan Tsubasa bahwa Cok Ben sebentar lagi akan mendarat di bandar udara Tokyo dan langsung akan di bawa serta di tahan di markas Besar TRI FUTURE COMPANY GRUP untuk di interogasi." Kata Harsya dengan wajah penuh dengan kecemasan.


"Apa........... Teriak Kakek Abdullah setelah mendengar penuturan dari Cucu nya tentang Cok Ben yang saat ini sedang dalam bahaya. Paman Suhardi dan Rijki Fadilah pun terkejut dengan wajah keluar keringat dada berdetak kencang.


"Jadi rencana untuk menyelamatkan mereka bagaimana.?" Tanya Suhardi menatap tajam kepada Harsya.


"Kita harus tenang Ayah, aku yakin Tuan Muda sudah memikirkan cara nya untuk menyelamatkan paman Ucok dan Beni." Ucap Rijki Fadilah menenangkan.


"Iya....... Paman dan Kakek sebaiknya kita harus tenang dan tidak gerasak gerusuk. Aku sedang memikirkan cara nya. Tunggu lah Tunggu lah banyak berdoa." Ucap Harsya, walaupun dirinya juga kebingungan.


Harsya segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan suara kepada Ken dan Rex untuk segera datang ke Mansion bersama dengan Riyan.


"Ken dan Liem serta Riyan segera datang ke Mansion malam ini juga tidak ada pakai lama." Pesan suara grup pun di kirim oleh Harsya.


"Baik' Tuan' Muda saat ini saya bersama Rex segera meluncur ke Mansion anda." Balas Pesan suara dari Ken. Tak lama berselang Riyan pun membalas pesan dari sahabatnya itu.

__ADS_1


!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya


__ADS_2