TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Sipat Asli Hani keluar


__ADS_3

"Sebentar Kak. Simpan dulu pertanyaan mu. Hani mau menelepon Dewi atau Indah. Karna ada hal penting yang ingin di tanyakan." Ucap Gadis itu tidak melirik kearah kekasihnya.


Apakah sipat aslinya. Hani begini, seakan akan tidak ada rasa penyesalan sedikitpun setelah melakukan hal yang begitu intim dan merusak masa depan dirinya." Azis bergejolak saat ini dalam hatinya.


"Baiklah. Aku menunggu mu di luar." Jawab Azis.


Gadis itu hanya mengibas kan tangannya.Tanda pemuda itu untuk segera menyingkir di hadapannya.


Nada dering terdengar di telinga Hani. Ketika menelepon Indah. Tapi sampai nada itu berhenti tidak ada jawaban sama sekali. Yang ada hanya jawaban dari operator.


"Nomor tujuan anda sedang tidur." Kata operator.


"Sialan sarindah tidak di angkat telepon gue." Geram Hani. Aku coba telepon Dewi, mudah mudahan di angkat telepon nya.


"Tut............!! " Tut...............!! "Tut..............!! Wajah prustasi kini terlihat oleh Hani, setelah sama telepon nya tidak di angkat oleh Dewi. Beribu pertanyaan kini ada dalam benak gadis berusia 20 tahun itu. Seketika amarahnya memuncak. Kalian berdua ingin bermain main dengan ku." Geram Hani dalam kesendirian di kamarnya.


Sementara di sisi lain di dalam mobil Indah dan Dewi sedang kebingungan dengan beberapa kali Hani menelepon nya di pagi menjelang siang itu.


Kegelisahan Dewi terlihat oleh kekasih nya dengan keringat yang bercucuran di wajahnya. Walaupun AC mobil sudah di hidupkan.


"Sayang...... Kamu kenapa.?" Kamu sakit.? Atau sekedar masuk angin hingga membuat mu keringatan.?" Tanya Riyan heran mendadak gadis di sampingnya itu keringatan.


"Hmmmmm. Anu.... Itu ..... Ehk..... Hani beberapa kali menelepon ku. Aku bingung jawab atau jangan." Kata Dewi terbata bata seraya mengelap keringat bercucuran nya.


"Angkat saja sayang.!! Riyan memberi saran mata nya menatap kearah jalan.


"Tapi......... Kak. Aku bingung seandainya Hani menanyakan tentang pertemuan malam tadi." Lirih Dewi. Riyan pun mengerti dengan kebingungan yang di rasakan oleh kekasihnya.

__ADS_1


"Telepon balik sekarang sayang. Kamu tidak usah bingung ikuti aja alur obrolan Hani. Kau tinggal menjawab nya." Saran Riyan.


Ketika mereka berdua sedang mengobrol di mobil tiba tiba Hani pun menelepon lagi.!!


"Kak......... Hani menelepon lagi." Kata Dewi.


"Angkat sayang, buruan." Titah Riyan. Jangan lupa loadspeker dan volume nya di tinggi kan.


Dewi mengangguk lalu memencet tombol jawab.


"Halo.


"Dewi............ Sedang apa yang kau lakukan.?" Kenapa kau lama sekali mengangkat telepon diriku.?" Tanya Hani dengan nada suara tinggi di sebrang telepon.


"Mohon Maapkan saya, sahabatku. Aku ketiduran di dalam mobil. Emang ada sesuatu penting kah hingga kau menelepon ku berkali kali.?" Tanya Dewi berbohong.


"Malam di rumah Indah. Ada sesuatu hal yang sangat penting. Mereka mau menarik gue dan indah serta loe Hani untuk ikut bergabung di perusahaan milik Harsya. Tapi aku tolak dan mau merundingkan terlebih dahulu bersama mu." Ucap Dewi merekayasa ucapannya.


"Kenapa loe tolak sih Dewi. Bukan kah itu kesempatan baik buat kita kita untuk masuk ke dalam perusahaan lelaki biadab itu, jadi kita bisa tahu kelemahan kelemahan nya. Ahk kau sungguh bodoh." Kata Hani dengan nada menghina. Hingga Dewi pun tersulut emosi nya. Untung Riyan memberi kode agar jangan sampai terpancing oleh nya.


"Hani......... Kan gue dah ngomong sama loe. Kita perlu berunding dulu bersama Indah dan kau. Bila kita bertiga setuju. Baru aku putuskan." Bela Dewi.


"Baiklah.............!! Kalau begitu esok malam kita bertemu di tempat biasa. Terus Dewi kedua Orang Tua mu dan Orang Tua Indah mau ngapain ke Jakarta.?" Tanya Dewi.


"Begini Hani.......... Kita berdua Indah sudah berbicara sama Orang Tua ku masing masing bahwa sekarang kita bertiga tidak tinggal lagi di kos kosan, tapi tinggal di apartemen yang di berikan oleh Nona Muda Shintia. Makanya mereka ingin melihat dan sekedar menginap di apartemen. Bagaimana rasa nya menginap di lantai atas gedung yang tinggi." Kata Dewi berbohong agar tidak di curigai oleh Hani sahabatnya.


"Hahahaha. Dasar orang udik kampungan. Biarkan mereka menginap di apartemen kita. Sekalian bawa jalan jalan ke Mall agar kedua Orang Tua mu dan Orang Tua Indah. Bisa merasakan bagaimana hidup orang kaya." Kata Hani dengan hinaan yang sangat menyakitkan di hati Dewi.

__ADS_1


Riyan hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar sipat asli dari sahabat kekasih nya itu. Sungguh benar benar tidak menyangka. Hani yang begitu sopan dan santun dalam tutur sapa, bisa berubah seratus persen setelah di berikan kemewahan oleh pihak musuh Tuan Muda.


Dewi pun hatinya begitu sakit setelah nada hinaan di tunjukkan kepada Orang Tua nya oleh sahabat nya sendiri. Ia menitikkan air mata di dalam obrolan telepon tersebut.


"Baiklah. Hani....... Aku akan mengajak mereka jalan jalan di waktu esok bila ada luang waktu. Dan kalau tidak ada pembahasan lagi sebaiknya aku tutup telepon nya." Kata Dewi yang sudah tidak tahan dengan obrolan itu.


"Bentar Dewi...........!! Jangan dulu di tutup telepon nya. Gue mau bertanya sama loe. Apakah loe punya duit untuk membawa jalan jalan Orang Tua mu.?" Tanya Hani.


"Ohk........ Itu Hani....... Kamu tenang aja aku ada kok." Jawab Dewi.


"Bagus lah kalau kamu ada. Takutnya kamu dan Indah tidak mempunyai uang. Tadinya aku akan memberikan uang untuk kalian berdua." Kata Hani dengan nada menghina.


"Terima Kasih banyak Hani. Aku ada kok. Baiklah kalau begitu aku akhiri telepon ini. Silahkan kau beraktivitas kembali." Ucap Dewi. Lalu mematikan telepon seluler nya.


"Kak........ Aku bener bener menyesal. Telah terpedaya oleh Hani. Sehingga aku menghianati Kak Harsya." Lirih Dewi setelah selesai menelepon.


"Sakit sungguh sakit hati ini.......... Setelah mendengar kata kata di telepon dari sahabatnya itu. Dengan terang terangan menghina Kedua Orang Tua nya.


"Kamu yang sabar ya....... Biarkan Hani dengan dunianya yang penting kamu menyadari kesalahannya dan buru buru meminta maap kepada Tuan Muda. Mudah mudahan Harsya memaafkan mu dan Indah." Kata Riyan memberi nasehat.


"Iyaa........ Kak Terima Kasih banyak." Ucap Dewi dengan mata yang sayu dan wajah sedih.


"Sudah........! Kau jangan sedih gitu. Kalau kamu masih bersedih. Hati kakak sakit. Sebaiknya rekaman obrolan barusan dengan Hani kau kirim kepada Indah. Untuk di dengarkan olehnya." Titah Riyan.


"Takut nya Indah di telepon Oleh Hani. Obrolan tidak sama dengan mu. Jadi bila rekaman percakapan mu di kirim kepada Indah. Seandainya Hani menelepon Indah. Maka dia akan menjawab seperti kamu menjawab pertanyaan dari Hani." Riyan memberikan alasannya.


"Siap Kak. Riyan." Balas Dewi dengan senyuman manis. Membuat hati Riyan tenang.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2