
Tiga unit mobil beriringan membelah jalanan di sore itu di kawasan pesisir kota Jakarta. Lalu lintas yang cukup padat membuat ketiga mobil tersebut sedikit terlambat mencapai titik lokasi yang di berikan oleh majikan nya.
Sementara Harsya pemuda yang sedang mengintip di samping bangunan berlantai tiga, sudah hampir menunggu tiga puluh menit, mereka belum juga tiba. Yang di takutkan oleh pemuda itu, orang orang yang di bawa oleh Azis akan segera meninggalkan bangunan tersebut, dan bila Harsya membuntuti dengan memakai Motor si Dukun sudah jelas pasti di ketahui oleh mereka.
Harsya mulai gelisah dan mulai mengeluarkan ponselnya untuk menelpon Gandi atau pun Kang Ujang Suparman menanyakan apakah mereka sudah sampai mana.
"Disaat. Harsya mulai memencet tombol teleponnya. Suara klakson mobil terdengar oleh dirinya. Harsya pun mengurungkan niat menelepon dan mata nya mengarah kearah mobil yang sudah terparkir tepat di hadapan pemuda yang sedang bersembunyi di depan Gang dengan sepeda motornya.
Harsya. Pun langsung masuk kedalam mobil Pajero Sport warna hitam. Sebelumnya Ia memberi kode agar jangan turun untuk menghilangkan kecurigaan pihak orang orang yang di bawa oleh Azis atau pun Azis sendiri.
Ketika Harsya sudah berada dalam mobil mewah tersebut. Gandi pun langsung berkata.!!
"Tuan Muda. Mohon maap sedikit lama. Karna jalanan begitu ramai.!
"Iya. Tidak apa apa kak.!
"Ada perintah apa hingga anda memanggil saya dan Kang Ujang Suparman serta Matih Matih.?" Tanya Gandi.
"Kak. Gandi sudah lama tidak berolahraga kan. Sama kang Ujang dan Para Matih.?" Tanya Harsya tersenyum Licik.
"Hehehehe. Siap Tuan Muda. Otot Otot juga sudah kaku bila tidak di olahraga kan.!!
"Tapi. Kak jangan sampai mereka mati. Yaa bonyok dan sedikit patah pulang tidak jadi masalah lah." Kata Harsya.
"Siap. Tuan Muda. Tapi kalau boleh tahu siapa yang akan saya dan Kang Ujang Suparman bantai malam ini.?" Tanya Gandi penasaran.!!
"Dia mantan murid Ketua Macan Putih. M Azis Nazmudin. Dia membawa beberapa temannya untuk melawan pihak kita. Sebelum mereka bergabung dan bertemu dengan organisasi Genk Kelalawar Hitam. Apa salahnya kita kasih pelajaran terlebih dahulu." Kata Harsya memberitahu kan.
"Hahahaha. Berarti hanya seekor Anjing yang telah menjilat Tuan nya. Ada dimana mereka keberadaan sekarang Tuan Muda.!!
"Di samping bangunan ini. Mereka baru saja beberapa orang orang kampung Umi Aminah, tiba dan di jemput oleh temannya Azis yang bernama Udin. Dia pernah belajar menimba ilmu di padepokan mertua saya kak Gandi." Jawab Harsya.
__ADS_1
"Apakah kita akan bergerak sekarang.!! Atau menunggu mereka keluar menuju kediaman Apartemen yang ada di kawasan Cawang.?" Tanya Gandi.
"Sebaiknya kita menunggu di sini untuk memantau pergerakan mereka. Bila Azis dan orang orang nya tidak kunjung keluar maka malam ini kita bantai di tempat ini saja. Apakah Kak Gandi kenal dengan pemilik penginapan yang sedang mereka tempati.?" Tanya Harsya.
"Kalau kenal tidak. Tapi bangunan ini terasa familiar. Sebentar saya akan tanya sahabat ku yang ada di kawasan ini Tuan Muda." Kata Gandi. Harsya mengangguk. Lalu mengeluarkan ponselnya untuk Kang Ujang Suparman segera masuk ke mobilnya Gandi seorang diri.
Sementara. Di dalam kamar bangunan yang di tempati oleh orang orang yang baru datang. Pemuda tengil berusia 23 tahun itu sedang menerima telepon yang sangat serius.
Jadi bagaimana sayang. Apakah mereka menginap di sini dulu atau langsung bawa menuju markas Besar Kelalawar Hitam.?" Tanya Azis dalam sambungan telepon.
"Jangan Kak Azis. Karna malam ini ada pertemuan dengan Nona Muda Shintia dan Anastasya beserta Tuan Simon dan Kong Kong Serta Naga Saki Sempur yang akan membahas kedatangan dua Mafia asal dari Negara Singapura." Kata satu suara dari sebrang telepon.
"Kakak. Boleh ikut nggak.! Atau nunggu di sini menemani mereka.?" Tanya Azis.
"Kakak. Di sana aja temenin mereka. Nanti esok langsung bawa ke markas. Aku dan yang lainnya menunggu di markas besar Kelalawar Hitam." Jawab Hani.
"Siap. Sayang kalau begitu. Kakak nunggu di sini aja. Nanti kabarin malam juga hasil pertemuan malam ini." Pinta Azis.
############################
Sementara di kawasan Bintaro Jakarta Selatan tepatnya di salah satu Mansion Mewah milik seorang pemuda yang mempunyai aset miliaran dollar Amerika. Satu unit mobil mewah masuk kedalam gerbang dan melaju dengan perlahan.
Tepat di samping mobil Lamborghini Aventador mobil mewah yang baru masuk itu berhenti, beberapa para pengawal berlarian untuk membuka kan pintu mobil tersebut.
Tak lama setelah itu pintu mobil pun terbuka dari arah samping kiri dan kanan serta tengah secara bersamaan.
"Selamat datang Nyonya Besar Elisabeth dan Nona Muda Lestari serta Nona Muda Friska di kediaman Tuan Muda Harsya." Ucap Mang Jaka salah satu kepala pengawal di Mansion itu.
"Terima Kasih. Apakah kedua cucuku Halimah dan Fatimah ada di dalam.?" Tanya Nyonya Elisabeth.!
"Ada Nyonya besar. Mari saya antar bertemu dengan mereka." Kata Mang Jaka.
__ADS_1
"Mari....... Silahkan. Ayo Lestari. Friska kita temui Cucu Mami." Ajak Elisabeth. Dua wanita seumuran pun mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki kepala pengawal Mansion Harsya.
Tak lama setelah mereka tiba di dalam Mansion. Wanita paruh baya itu pun tersenyum mengembang dan langsung menyapa dengan suara yang sedikit keras.
"Cucuku. Kesayangan ku. Halimah dan Fatimah.!!
"Halimah yang sedang membelakangi wanita itu langsung membalikkan badannya berbeda dengan Fatimah yang sedang berhadapan.
"Oma Elisabeth." Kata Halimah Ia berjalan sedikit berlari-lari kearah wanita paruh baya itu.
"Jangan berlari sayang. Kamu sedang hamil muda." Pinta Elisabeth.
"Maap Oma. Imah terlalu bersemangat.!! Lalu memeluk wanita paruh baya itu, Air mata nya jatuh seketika tanpa di sadari oleh Halimah dan yang lainnya. Ada perasaan haru bahagia bertemu dengan Elisabeth Ardana.
"Kamu kenapa sayang. Jangan menangis.!! Kamu itu wanita yang hebat." Puji Elisabeth. Lalu menyeka air mata wanita yang sepantaran dengan kedua anaknya.
"Oma. Air mata ini. Air mata rindu sama Oma yang sudah lama terpisah." Lirih Halimah.
"Hmmmmmmmm. Baru juga tiga bulan sayang kita tidak bertemu. Oma janji mulai saat ini Oma akan tinggal disini menemani Cucu Oma yang sedang hamil." Kata Elisabeth.
"Beneran Oma. Mau tinggal disini. Menemani Imah." Kata Halimah antusias senang menyambut nya.
"Iyaa. Sayang.!!
"Asyik. Dede utun. Eyang Elisabeth mau tinggal di sini menemani Bunda." Ucap Halimah sambil mengelus ngelus perutnya yang mulai sedikit membesar.!!
Lestari dan Friska serta Fatimah hanya tersenyum manis, melihat exfresi wajah bahagia istri dari Tuan Muda Harsya.
"Cucuku. Apakah kita semua akan berdiri saja.?" Tanya Elisabeth.
"Hehehehe. Maap Oma. Ayo kita duduk di ruangan keluarga." Ajak Halimah.
__ADS_1
Bersambung.