TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Kesulitan Inah dan Ineh


__ADS_3

"Dua Orang yang sedang duduk bersama di ruangan keluarga Tepat nya di Mansion milik majikannya itu sedang mengobrol begitu serius salah satu dari mereka berdua saling tanya dan saling jawab.


Bang Ucok boleh kah Inah meminta tolong kepada Abang." Tanya wanita berusia 30 tahun itu bersatatus janda tidak punya anak.


"Insyaallah bila Abang mampu." Pasti Abang bantu dengan segenap jiwa ragaku." Kekeh Ucok seraya terkekeh cekikikan.


"Abang.'' Inah serius.'' Kata nya.


"Silahkan." Balas Ucok.'


"Begini.'' Seandainya Abang punya simpanan uang." Bolehkan Inah meminjam dulu...! Pembayarannya. Nanti Inah sama Ineh cicil dari gajih menjadi pelayan di Mansion Aden Harsya." Lirih Wanita Bernama Inah.


"Aku kaget Sumpah mendengar nya waktu itu.'' Terasa ada beban berat di hati wanita yang bernama Inah itu. Mungkin kau juga merasakan hal yang sama melihat sorot mata Ineh yang ikut bersamamu menemani Tuan muda Harsya.


"Beni mengangguk dan berkata untuk melanjutkan lagi pembicaraan Ucok dan Inah.


"Berapa yang kau butuh kan." Tanya Ucok kepada Inah.


"Cukup Besar.'' Lirih Inah.


"Iya..'' Katakan saja tidak usah malu.'' Tanya Ucok.


"Begini Abang Ayah Inah tadinya membuka usaha di pinggir jalan membuka matrial. Tapi karna minim nya pengalaman dan terlalu percaya kepada bawahannya. Sehingga membawa malapetaka buat keluarga Ayah. Toko Material yang di buka oleh ayah lumayan rame banyak pembeli sampai ayah Inah memperluas usahanya dan menggadaikan sertifikat rumah dan sawah kepada seorang rentenir dengan bunga yang tinggi.


"Inah sesaat terdiam menarik napasnya dalam dalam lalu dia menghentakkan keluar dengan keras dan lalu dia mulai melanjutkan nya lagi.


Satu bulan Dua bulan sampai enam bulan cicilan kepada lintah darat itu lancar." Ketika menginjak tujuh bulan Angin badai pun menerjang keluarga Inah. Toko yang di jalani oleh Ayah mengalami omset penurunan secara drastis. Akibat ulah para pegawai nya. Dengan sengaja memanipulasi data pengeluaran Barang barang material. Setelah di telusuri uang hasil pinjaman dari lintah darat itu tidak di belikan kepada barang barang material tetapi oleh orang kepercayaan ayah di pakai buat kepentingan pribadinya untuk memperkaya diri nya sendiri.


Setelah mengetahui kebusukan orang kepercayaan ayah. kami sekeluarga pun mendatangi dan hasilnya nihil mereka sekeluarga sudah tidak berada di rumahnya dan rumahnya pun sudah di sita oleh lintah darat itu. Karna waktu ayah menjamin kan semua harta benda nya. Irfan nama orang kepercayaan ayahnya. Juga ikut meminjam dengan jaminan rumah milik nya.


"Seminggu kemudian setelah kabur nya Irfan. Lintah darat itu datang dengan membawa para Preman untuk memberi peringatan bila dalam kurun waktu satu bulan tidak bisa membayar pokok dan bunga nya maka kami sekeluarga harus segera angkat kaki dari rumah dan toko material serta tanah berpindah nama kepada lintah darat itu. Karna setelah Inah dan Ineh membaca dalam perjanjian itu tertulis bahwa dalam jangka waktu 8 bulan bila bunga dan pokok tidak di lunasi nya maka seluruh harta milik ayahnya akan berpindah nama ke pemilik yang baru.


Inah menjelaskan semua nya Beni kepada saya secara jelas dan detail seketika itu hatiku tersentuh untuk membantu nya. Bukan membantu karna gue cinta pada wanita itu. Tapi murni ini jiwa sosial gue sendiri." Kata Ucok dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apakah loe sudah tanya berapa yang harus di bayar oleh keluarga Inah pada lintah darat itu." Tanya Beni

__ADS_1


"Sudah sama bunga nya 300 juta." Kata Ucok.


"Yaa......! Sudah loe setengah gue setengah." Balas Beni beranjak menarik Ucok untuk kembali ke kamarnya karna kita sudah lama duduk di lobby hotel ini.


*


*


*


"Sementara di negara Indonesia tepatnya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta satu Lelaki setengah tua bersama para pemuda berusia 30 tahun sedang menunggu pemberangkatan menuju Bandara Kulonprogo Yogyakarta yang secara langsung di beri tugas oleh Tuan muda Harsya untuk menyelinap masuk di kantor pusat XFRES GROUP. untuk membuntuti gerak gerik tikus tikus kantor di perusahaan milik Tuan muda Harsya.


"Gandi selaku penanggung jawab pemberangkatan Ujang Suparman dan 10 macan Putih telah memberitahukan kepada Tuan Alex untuk meminta rekomendasi masuk nya Ujang Suparman dan 10 muridnya yang akan di tempatkan sebagai OB dan penjaga keamanan guna memperlancar rencana Tuan muda.


"Tuan. Tuan Pesawat siap mengudara." Kata pilot memberi tahukan kepada Gandi dan Ujang Suparman beserta yang lainnya.


"Terima kasih." Balas Gandi dengan senyuman manis.


"Ketua setelah sampai langsung hubungi Tuan Alex." Suruh Gandi.


"Siap." Tuan Gandi seraya membungkuk hormat di ikuti oleh 10 orang bergelar Macan putih.


"Disaat sampai di halaman parkir bandara internasional Soekarno-Hatta. Gandi pun teringat obrolan malam dari Tuan Muda Harsya. Lalu dia mengeluarkan ponsel nya dan mengirim suara pesan dalam grup nya.


"Untuk Dirga dan Azis segera datang ke Markas Besar XFRES GROUP ada hal penting untuk saya bicarakan kepada kalian berdua. Ingat untuk tidak membawa ketiga sahabat Tuan muda Harsya.


"Tidak lama berselang balasan dari mereka berdua pun di terima dan dalam pesan suara tersebut sekarang juga akan segera berangkat menuju Markas Besar XFRES GROUP.


"Gandi pun tidak membalas nya lalu dia masuk kedalam mobil dan langsung melesat pergi menuju Markas Besar.


*


*


*

__ADS_1


"Mobil Toyota Sport dengan modifikasi bawah cever dan knalpot racing masuk di penataran Mansion mewah yang berada di kawasan Jakarta Selatan dan Berhenti tepat di samping mobil Lamborghini Aventador.


"Para penjaga pun berlarian untuk membuka kan Pinto mobil mewah tersebut dan membungkuk hormat kepada nya.


"Aden Riyan..! Kata tiga penjaga Mansion majikan nya yang bernama Harsya.


"Terima kasih Paman paman." Kata Riyan ramah dan sopan.


"Apakah Tuan muda Harsya ada? Tanya Riyan.


"Ada Sedang di taman samping bersama keluarga nya." Jawab Mang Jaka salah satu penjaga dari tiga orang.


"Terima kasih Paman." Saya permisi dulu untuk menemui mereka." Kata Riyan.


"Mereka bertiga pun membungkuk hormat seraya kembali ke posisi masing-masing.


"Hanya beberapa menit saja Riyan pun sampai di halaman samping rumahnya dan bener sahabatnya sedang berkumpul bersama keluarga nya bahkan Inah dan Ineh pembantunya juga duduk bersejajar dengan majikannya tidak membedakan antara bawahan dan atasan.


"Assalamualaikum." Ucap Riyan setelah sampai di samping halaman Mansion mewah milik sahabatnya.


"WaallAikum Salam" Jawab mereka serentak dan beberapa orang membalikkan badannya.


"Nak.....! Sini duduk." Pinta Umi Aminah kepada pemuda yang baru datang itu.


"Riyan pun mengangguk dan melangkah untuk duduk bersama mereka.


"Brow.....! Kopi, Susu, atau teh.'' Tanya Harsya setelah Riyan duduk di samping kanannya sedangkan di samping kirinya ada Halimah.


"Kopi Aja." Brother." balas nya dengan gaya persahabatan nya.


"Ok." Siap. Brow....! Wa Ijah bikinkan kopi hitam buat sahabat saya.'' Suruh Harsya kepada wanita yang sedang duduk bersama Umi Aminah.


"Siap." Aden seraya beranjak pergi menuju dapur Mansion.


"Kiayi Sepuh, Abah dan Umi serta yang lainya melihat keakraban dua sahabat yang sudah terjalin 7 tahun lama nya merasakan ke kagumannya masing-masing.

__ADS_1


"Brow....! Gue mau minta tolong. Hari ini juga loe berangkat ke padepokan macan putih." Pinta Harsya.


Bersambung.


__ADS_2