
"Baiklah untuk acara selanjutnya yaitu sungkeman kepada kedua orang tuanya masing masing." Ucap pembawa acara melanjutkan acara nya setelah selesai Ijab Qobul.
Pasangan suami-istri yang baru beberapa menit itu kini mereka berjalan kearah kedua Orang Tua nya yang sudah duduk di kursi samping pelaminan.
"Silakan pengantin untuk bersimpuh kepada Ibunda tercinta. (Pengantin merunduk sambil mencium tangan Ibunda masing-masing).
"Rasa haru di rasakan oleh Harsya dan kedua Kakek dan nenek nya, harus nya Ismail dan Zahra yang ada dalam sungkeman seorang pemuda tampan itu.
Harsya berjongkok di hadapan Nenek Aisyah sedangkan Halimah berjongkok di hadapan Ambu Siti Zulaikha.
"Ibu.. kini kami bersimpuh di pangkuanmu sebagai tanda bakti atas segala pengorbanan mu. Terima kasih telah merawat kami hingga hari ini. Mohon ma’af bila kami selalu merepotkan mu. Kini kami harus menapaki hidup baru, menjalani sunah Rasul yang Mulia. Kini kami menjadi istri. Kini kami telah menjadi suami. Do’akan kami agar dapat mengarungi bahtera rumah tangga. Do’akan kami untuk dapat memecahkan seluruh masalah yang ada nantinya. Do’akan kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.
"Peluk cium untuk Ibunda tercinta.
"Terima kasih, terima kasih Ibu.
"Kini dipersilahkan keduanya berpindah untuk mohon do’a restu kepada Ayanda tercinta.
"Ayah… terima kasih telah menafkahi kami dengan nafkah halalan thoyyiban. Terima kasih telah menjadi Ayah yang terbaik untuk kami. Terima kasih telah memberikan pendidikan yang terbaik untuk kami. Kini kami harus merepotkanmu sekali lagi. Do’akan kami menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Do’akan kami mempunyai putra-putri yang sholeh dan sholehah nantinya.
"Peluk cium untuk Ayahanda tercinta.
"Kini kini dipersilahkan berpindah untuk mohon do’a restu kepada Ibu mertua tercinta.
"Ibu…ini adalah persimpuhan kami yang pertama di pangkuanmu. Setelah kami syah jadi putra dan putrimu. Jangan bedakan kami dengan putra dan putrimu yang lain. Ingatkan kami jika kami salah. Dukung kami jika kami benar. Do’akan kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Silakan berpindah kepada Ayah tercinta.
"Ayah…ini adalah persimpuhan kami yang pertama di pangkuanmu. Terima kasih telah mengizinkan kami untuk menikah hari ini. Terima kasih telah memberikan restu kepada kami. Do’akan kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
Peluk cium untuk Ayahanda tercinta.
Baik, Bapak Ibu yang kami mulyakan dan keluarga yang berbahagia. Usai sudah rangkaian sungkeman kepada kedua Orang Tua masing masing, kini acara selanjutnya yaitu SAWERAN.
"Maka dengan hormat kepada Ibu Rokayah selaku Sinden yang akan menyampaikan atau pun menyanyikan, waktu dan tempat di persilahkan untuk naik ke panggung pengantin." Ucap pembawa acara pernikahan.
Tak lama setelah itu sinden pun lalu naik dan berdiri di belakang pengantin. Dengan posisi duduk di kursi sambil dipayungi, upacara penyaweran pun dilakukan pada pengantin. Orang tua memberikan nasehat diiringi kidung. Pemberian nasehat diiringi pelemparan uang logam, beras, kunyit yang diiris tipis-tipis, dan permen.
Uang logam dan beras melambangkan kemakmuran, kunyit sebagai simbol kejayaan, sedangkan permen melambangkan manisnya kehidupan berumah tangga.
Kapara tamu sadayana
Warga wargi nu araya
Abah nyelang nyawer heula
Antosan da moal lila
Ujang nyai sami gandang
Sami calik dina ranjang
Ujang masih keneh bujang
Nikah kanu geulis lenjang
Ujang teh perlu bisa
Siga cara abah ka ema
__ADS_1
Ayeunamah geus waktuna
Mindeng ge moal doraka
Lamun meneran parawan
Rada hese mamatahan
Ku Sabab can pangalaman
Ujang kudu lalaunan
Tapi mun ujang ka randa
Tangtu moal lila-lila
Molompong moal sulaya
Lantaran urut baheula
Bisi bojo udah-aduh
Mangkade ulah geruh
Hudang bae subuh-subuh
Da moal karasa tunduh
Mun si nyai geus ngalempreh
Ujang omat ulah leweh
Sanajan nepi kasoeh
Lamun bojo keur bungkiang
Omat ujang ulah hariwang
Keureuyeuh wae titukang
Dedetkeun wae sing tenang
Nyai teh kedah ngartikeun
Mun caroge geus hayangeun
Ku nyai geuwat berekeun
Bari rada diburukeun
Lamun nyai keur di gawe
Mangkade sing hade gawe
Itung-itung mayar gawe
Ngarah ngeunah kana hate
Mimiti mah rada nyeri
__ADS_1
Nepi kana sirah nyai
Tapi mun enggeus sakali
Tangtu matak menta deui
Poman nyai ulah talangke
Kudu **** ka caroge
Kujalan masihan gawe
Najan caroge tas balik gawe
Sakitu bae ti abah
Mangkade ulah gareuwah
Tangetkeun ulah gagabah
Ngarah caroge teu seuhah
Setelah acara saweran pun beres lalu pembawa acara di pernikahan Harsya dan Halimah pun di tutup oleh MC.
"Baik, Bapak Ibu yang kami mulyakan dan keluarga yang berbahagia. Usai sudah rangkaian acara akad nikah pada pagi hari ini. Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran Bapak, Ibu dan keluarga besar dari kedua mempelai yang berbahagia.
"Segenap do’a dan restu kami panjatkan untuk kedua mempelai. Semoga menjadi keluarga Sakinah mawaddah wa rahmah. Dan insyallah nantinya dikaruniai putra dan putri yang sholeh dan sholehah. Barakallahulaka wa baraka alaika wa jama’a bainakuma fi khair.
Setelah serangkaian acara pernikahan yang di bawakan oleh MC dari acara pertama dan sampai akhir selesai. Kini wajah kedua pengantin terlihat bersinar dan bahagia. Tuan' Muda tak henti hentinya tersenyum kepada siapa saja yang menyapa.
"Sayang, ayo kita beri ucapan selamat kepada kedua pengantin. " Ucap Suhardi kepada istrinya.
Istrinya mengangguk dan mereka berjalan menuju pelaminan.
"Anakku selamat ya..... semoga jadi keluarga sakinah mawadah warahmah. " Ucap Suhardi menyalami Harsya, Kemudian kedua nya berpelukan. Rasa haru dan bahagia menghinggapi keduanya.
"Terima Kasih banyak Paman." Ucap Harsya lalu melepaskan pelukan nya itu.
"Anakku Halimah selamat ya." Ucap Istri Suhardi menjabat tangan Halimah lalu memeluknya.
Setelah Suhardi dan istrinya memberikan selamat kepada kedua pengantin, pesta berlangsung sangat meriah banyak sekali tamu undangan yang hadir.
Ini adalah pesta pernikahan yang luar biasa di desa tempat tinggal seorang Kiayi Sepuh yang sangat di hormati dan di segani oleh kota kecil itu.
Orang orang Tuan Muda tampak mengatur para pelayan dan para tamu yang hadir di acara pernikahan bos besar itu.
Sementara anak buah Brigadir Anton Sideka mengawasi agar tidak terjadi kericuhan atau datang nya seorang yang tidak suka kepada pernikahan anak Kiayi Sepuh, walau bagaimana pun Halimah banyak yang melamar tetapi selalu ia tolak, lamaran dari teman teman ayahnya itu.
"Sayang apakah kau capek.! Ucap Harsya kearah Halimah.
Sejak tadi mereka berdua berdiri dan menyalami para tamu undangan yang datang.
"Kaki ku terasa pegal Kak.! Jawab Halimah.
"Kau duduklah biar aku yang menyapa mereka." Ucap mereka.
Halimah duduk di kursi pengantin, Harsya pun duduk di kursi sebelahnya.
Sore pun kini telah datang meninggalkan waktu siang, tapi para tamu masih datang silih berganti. Tak lama setelah itu langit pun sudah tertutup Awan, waktu senja akan tiba sebentar lagi, kedua pengantin kini sudah turun dari pelaminan nya dan menuju kamar pengantin yang sudah di hias dengan hiasan nuansa warna putih.
__ADS_1
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.