
"Kriiiiing''..................!!
"Kriiiiing''..................!!
"Kriiiiing''.................!!
"Assalamualaikum.!! Halo. Kak lagi dimana sekarang.?" Tanya satu suara yang menelepon di malam itu.
"WaallAikum Salam. Kakak sedang berada di kawasan pinggiran kota Jakarta. Ada apa sayang menelepon malam malam ini.?" Tanya seorang lelaki menjawab telepon masuk.
"Kak. Harsya kapan pulang. Apakah urusan nya sudah selesai. Di rumah ada Oma Elisabeth dan Lestari serta Friska.?" Tanya suara perempuan.
"Insyaallah. Kakak sebentar lagi juga pulang. Ohk Oma sama anak anak nya ada di rumah. Yaa udah bilangin nanti kakak pulang sebentar lagi." Kata pemuda yang di panggil Harsya.
"Yaa. Sudah Nanti Imah bilangin kepada mereka.! Kakak hati hati di jalan. Assalamualaikum." Kata Wanita dari sebrang telepon.
"WaallAikum Salam. Iya makasih sayang." Jawab Harsya lalu mengakhiri panggilan telepon nya itu.
Setelah panggilan telepon itu berakhir bersama istri tercinta. Harsya pun langsung keluar setelah orang orang yang datang atas tawaran dari Azis untuk bergabung ke Genk Kelalawar Hitam di bawa masuk kedalam mobil untuk di jadikan tahanan dan di interogasi oleh Anton Sideka.
Sementara Azis sendiri di bawa ke rumah sakit yang tak jauh dari tempat perkelahian untuk di tangani lebih lanjut karna luka yang begitu parah. Penjagaan ketat pun di lakukan oleh Para Matih di rumah sakit rakyat.
"Kang Ujang. Kak Gandi. Aku akan kembali dulu ke Mansion. Segera beritahu kalau ada kabar dari Jhon Koplak melalui pesawat telepon, kalau tidak sempat saya angkat ponselku." Kata Harsya mengingatkan dan memberitahu kan.
"Siap. Tuan Muda. Kalau begitu hati hati di jalan." Kata Gandi dan anggukan kepala Ujang Suparman.
"Terima Kasih Kak.! Kalau begitu saya duluan.! Ucap nya. Gandi dan Ujang Suparman pun mengangguk dengan senyuman.
************
Sementara dalam perjalan pulang menuju Mansion mewah yang ada di kawasan Bintaro Jakarta Selatan. Ponsel Harsya beberapa kali berdering, akan tetapi tidak terdengar oleh Harsya karna pokus mengendarai motor nya.
Empat puluh menit kemudian, satu unit Motor Honda Beat yang di beri nama si Dukun pun sudah memasuki area halaman Mansion mewah tersebut.
Beberapa para pengawal Mansion pun menghampiri nya di antara nya Mang Jaka kepala Pengawal Mansion mewah tersebut.
__ADS_1
"Tuan Muda. Anda sudah kembali." Kata Mang Jaka.
"Iyaa. Mang. Tolong masukin motor si Dukun ku. Aku mau menemui Oma Elisabeth dan yang lainnya." Titah pemuda yang di sebut Tuan Muda.
"Siap Tuan Muda.!! Lalu melangkah mendorong motor itu masuk kedalam bagasi yang ada di Mansion itu.
Harsya sendiri berjalan sambil mengeluarkan ponselnya dan tampak terlihat empat panggilan tak terjawab dari sahabatnya yang sedang berada di Mansion milik Dani Rustandi sedang mengadakan pertemuan dengan para petinggi musuhnya.
Pemuda itu lalu menelepon balik dan terdengar nada indah ketika ponsel itu telah menempel di daun telinga Harsya.
"Halo. Brow. Sory ganggu gak gue telepon malam malam begini.?" Tanya seorang pemuda di sebrang telepon.
"Tidak Brow.! Sory tadi telepon dari loe gak ke angkat gue sedang di motor." Jawab Harsya yang menelepon.
"Ohk. Pantes.! Gue telepon berkali kali nggak di angkat.! Di kira loe sedang mencicil sama istri mu di kamar hahahaha." Tawa Riyan berkata meledek.
"Hahahahah. Sialan loe. Sahabat gak ada ahklak.! Ketus Harsya.
"Sory. Gue canda. Hahahahaha." Kekeh Harsya.
"Brow. Gue ada kabar penting yang harus di sampaikan langsung kepada loe." Kata Riyan mulai serius berbicara nya.
"Lanjutkan Riyan. Aku mendengar kan nya.!! Pinta Harsya.
"Begini Harsya. Hasil pertemuan tadi. Dua Mafia yang akan datang ke negara kita melalui jalur atas dan akan mendarat di bandara internasional Kulonprogo Yogyakarta tepat tengah malam, karna untuk mengelabuhi pihak pihak kepolisian. Atas informasi yang di berikan oleh pihak kepolisian yang bisa di sogok sama persis dengan bebas nya Windi dan Winda kedua wanita dari Ibu kandungnya Shintia dan Anastasya." Kata Riyan berhenti sejenak.
"Teruskan Riyan aku masih mendengar kan nya.!!
"Kedatangan mereka akan di kawal oleh seratus orang Genk Kelalawar Hitam dengan komando Firza selaku wakil dari organisasi tersebut.
"Sementara ketiga petinggi perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP dan kedua anak dari petinggi Genk Kobra Beracun yaitu Shintia dan Anastasya, mereka akan menunggu di vila yang berada di kawasan puncak Bogor.
Jadi kemungkinan terbesar kedua Mafia itu akan melakukan perjalanan darat dari Yogyakarta menuju Vila yang ada di puncak Bogor melalui jalur Barat." Riyan menjelaskan panjang lebar informasi yang Ia dapat hasil pertemuan malam itu.
"Terima Kasih Brow. Atas informasi nya, Gue akan mendiskusikan bersama dengan orang orang kita untuk menghadang perjalanan mereka agar bisa mengikis kekuatan dari pihak musuh." Kata Harsya.
__ADS_1
"Sama sama Harsya. Bagus...... Segera kau diskusikan. Nanti kalau ada kabar terbaru akan saya informasikan lagi." Kata Riyan.
"Siap saya tunggu kabar selanjutnya. Kalau begitu kita akhiri obrolan malam ini. Loe hati hati di sana jangan sampai ada yang mengetahui bahwa kita saling tukar informasi." Harsya berkata mengingatkan sahabatnya.
"Ok." Brow. Loe santai saja. Saya sudah tahu." Jawab Riyan.....!
Panggilan telepon malam itu pun berakhir. Harsya segera melangkah masuk menuju pintu utama. Setelah masuk tampak terlihat beberapa orang yang sedang tersenyum kearah pemuda yang baru tiba itu.
"Assalamualaikum. Istriku sayang ku cintaku." Rayu harsya dengan gombalan maut. Hingga mereka yang ada di sana terkekeh.
"WaallAikum Salam. Suamiku si raja' gombal sudah datang Dede utun." Jawab Gadis berkerudung hitam sambil tangan nya mengelus ngelus perutnya yang sudah tampak berubah besar.
"Oma Elisabeth. Lestari dan Friska.!! Sapa pemuda itu.!!
"Cucuku Harsya." Jawab Elisabeth.!!
"Harsya tersenyum." Sayang bikin kan kopi ya. Kakak mau ada yang di obrolkan bersama Oma dan Lestari." Titah Harsya kepada istrinya.
"Siap. Kak." Ucap nya. Friska temani Halimah." Titah Elisabeth Ibu kandungnya.
"Iya. Mami. Kak Imah Ayo. Kita bikin kopi sekalian kita bikin gorengan." Ajak Friska. Halimah mengangguk dan merentangkan tangannya kepada Friska.
Kini mereka bertiga sudah berada di ruangan keluarga, duduk bersama di sopa yang telah tersedia dengan di temani tiga cangkir kopi yang telah di buat oleh istrinya.
Pemuda itu mengeluarkan sebuah rokok pilter dan mulai membakar nya satu batang dan asal pun keluar dari mulut dan hidung nya.
"Oma Elisabeth dan Lestari. Entah meninggal atau tidak Azis di tanganku tetapi saat ini dia sedang berada di IGD." Kata Harsya memulai obrolan nya.
Lestari dan Elisabeth tersentak kaget mendengar nya.
"Aaa..... Apakah bener yang di katakan barusan Tuan Muda." Ucap Lestari terbata bata.
"Harsya mengangguk lalu menjelaskan panjang lebar pertemuan tanpa sengaja dengan Azis malam ini.
Bersambung.
__ADS_1