
Pondok Indah adalah kawasan permukiman elite di wilayah Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kawasan ini mulai dibangun sejak tahun 1970-an oleh kelompok usaha Pondok Indah Group yang berada di bawah naungan pengusaha muda tempo dulu.
"Mansion megah dengan halaman yang luas dan desain bergaya Eropa menandakan ke tampanan dan kecantikan Mansion milik Tuan Muda Harsya yang baru satu bulan ia terima dari kakek nya Abdullah Rojak.
Kini di dalam Mansion megah tersebut lelaki paruh baya sedang memberikan instruksi kepada 10 orang yang baru malam tiba di bawa oleh Mang Jaka dan sahabat Tuan muda Harsya yaitu Riyan.
Dalam memberikan instruksi yang sesekali di baluti canda tawa oleh Fatimah karna keakraban nya dengan sepuluh orang yang di bawa dari padepokan macan putih untuk membantu misi dari Tuan muda Harsya. sepuluh orang itu yang senantiasa mengajarkan kepada Fatimah seni bela diri milik kiayi Sepuh.
"Apakah kalian mengerti." Tanya Kiayi Sepuh.
"Kami semua mengerti dan akan selalu tunduk kepada perintah tuan muda." Kata sepuluh Macan Putih.
"Baiklah kalau begitu silahkan kalian semua beristirahat terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugas malam ini." Titah Kiayi Sepuh.
"Siap." Serentak mereka menjawab lalu mencium tangan guru nya untuk menuju tempat yang sudah di sediakan oleh tuan muda Harsya.
"Setelah sepuluh orang bubar dan kembali menuju tempat yang sudah di sediakan khusus buat mereka. Kiayi sepuh pun berjalan menghampiri kedua lelaki yang bergelar sahabat sejati.
"Nak, Syamsul dan Nak, Bimo mari ikut Abah keruangan keluarga ada yang mau di obrolkan kepada kalian berdua." Ajak Kiayi Sepuh.
"Mari Kiayi Sepuh." Kata mereka berdua menundukkan wajahnya.
"Fatimah telepon kakak mu suruh datang kesini malam ini." Teriak Kiayi Sepuh kepada anaknya.
"Siap.," Abah. balas Fatimah seraya merogoh celana nya untuk mengambil ponsel yang di simpan dalam saku celana.
"Tak lama Kiayi Sepuh sampai di ruangan keluarga Mansion mewah ini dan duduk di ikuti oleh Syamsul dan Bimo.
"Tidak lama kedua orang tua Syamsul pun datang membawakan kopi untuk di suguhkan kepada mereka bertiga dan ikut duduk atas perintah dari Kiayi sepuh.
"Nak Bimo....! Apakah kau nanti bersedia untuk di timbulkan dalam rencana dari Tuan muda untuk memberikan bukti bukti tentang kejahatan majikan mu yaitu Direktur Rony yang saat ini masih di tahan oleh Genk Kobra Beracun di Markas besar Kota Palembang. Dan hanya butuh tanda tangan mu bahwa harta milik Rony yang dia korupsi dari perusahaan GELORA BUANA GRUP kembali kepada khas keuangan perusahaan tersebut." Kata Kiayi Sepuh.
"Insyaallah Kiayi Sepuh saya bersedia dan akan mematuhi setiap perintah dari Tuan muda Harsya." Jawab Bimo dengan tegas dan berwibawa.
"Terima Kasih. Nak Bimo semoga Allah selalu menunjukkan jalan yang lurus buatmu." Kata Kiayi Sepuh di iringi jawaban Amiin yaa robball allamiin oleh mereka yang hadir di ruangan keluarga itu.
"Sejenak mereka terdiam untuk saat itu. Kiayi Sepuh menarik napas nya dalam dalam dan berkata kepada Syamsul.
__ADS_1
"Nak Syamsul apakah sudah siap untuk rencana malam ini." Tanya Kiayi Sepuh.
"Siap Kiayi." Balas singkat Syamsul.
"Anakku...! Tugas ini sangat berisiko apakah Syamsul bersedia." Tanya Kiayi Sepuh lagi. meyakinkan pemuda itu agar tidak ada keraguan dalam dirinya.
"Kiayi Sepuh.....! Insyaallah saya sudah siap dan dengan ikhlas menerima konsekuensinya." Kata Syamsul dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu....! Abah percaya kepada mu Nak. Bahwa kalian berdua bisa di harapkan oleh Abah." Kata Kiayi Sepuh
"Kiayi sepuh pun memberikan wejangan dan nasehat kepada mereka berdua karna jalan yang mereka berdua adalah jalan kebenaran dalam menumpas nahi mungkar." Insyaallah dari pihak-pihak kepolisian juga akan ikut serta dalam menjalankan rencana dari Nak. Harsya yaitu majikan kalian berdua.
*
*
*
"Kriiiiing........!
"Kriiiiing........!
"Kriiiiing........!
Tidak jauh dari ponsel itu lelaki setengah tua sedang tertidur lelap dalam dekapan seorang gadis berusia cukup jauh.
Terdengar dengkuran halus di antara kedua menandakan bahwa pasangan berbeda usia itu dalam keadaan lelah dan sangat lelap.
"Kriiiiing.......! "Kriiiiing........! "Kriiiiing.......!
"Suara panggilan telepon itu kembali terdengar membuat lelaki yang bernama Sugeng yang sedang tertidur lelap itu terbangun.
"Dia yang masih belum seratus persen menguasai kesadaran nya meraba kesana kemari untuk menemukan ponsel nya.
"Setelah ujung tangannya menyentuh ujung ponsel. Dia segera meraih dan dengan menyipitkan sebelah matanya. Lalu melirik ke layar ponsel dan melihat siapa yang mengganggu tidur nya.
"Hmmmm" Bocil...! Gumamnya.
__ADS_1
"Lelaki setengah tua itu buru buru mengusap layar ponsel nya dan berdiri bangkit dari pembaringannya. setelah mendapat teguran dari sahabatnya.
"Sugeng. Apa yang sedang kau lakukan? Mengapa lama sekali mengangkat panggilan telepon ku? Tanya salah satu suara dari sebrang telepon.
"Bocil... Maapkan aku. Aku terlalu lelah dan cape sehingga ketiduran sehabis tempur bersama seorang gadis." Kata Sugeng tidak ada rasa malu sedikit pun memberitahu kan kepada sahabat nya.
"Hmmmmm'' Pantas kau begitu susah di hubungi dari tadi." Kata Bocil.
"Aku pusing kepala.'' Mencari keberadaan Jabar dan Brewok makanya tadi aku tuntaskan saja pada gadis yang di kasih oleh Mami Club malam." Keluh Sugeng.
"Ok.....! Ok......! Ok......! Malam ini kita ketemu di Kobra kafe.....! Aku mempunyai insting bahwa malam ini akan terjadi bentrok besar di Kobra kafe tersebut dan beberapa pengawal lainnya sudah berjaga jaga di Kafe tersebut." Kata Bocil memberitahu kan kepada sahabatnya.
"Baiklah.....! Biasa nya insting loe selalu tepat sasaran. Aku jam tujuh sudah ada di Kobra Kafe....! Jawab Sugeng.
"Ok." Saya tunggu silahkan lanjutkan lagi pertempuran masih ada waktu sekitar tiga jam lagi." Goda Bocil langsung menutup teleponnya.
"Sialan." Kau Bocil....! Tut...." Tut..." Tut...."
"Dasar kampret....! Gerutu Sugeng seraya naik ke tempat tidur untuk mulai melanjutkan lagi pertempuran nya bersama wanita bayarannya.
*
*
*
"Sementara di ruangan manajer kafe. Black In Resto Kafe. Satu lelaki tua memperkenalkan diri nya Tuan Iskandar. Kini sedang berhadapan dengan Harsya, Gandi, dan Fander, Lia serta Sahabat nya Riyan.
"Tuan muda Harsya apakah anda sudah bertemu dengan Sahabat ayah kamu orang yang dia percayakan." Tanya Iskandar di sela obrolan nya setelah mereka duduk di ruangan itu.
"Siapakah gerangan sahabat ayah saya kalau boleh saya mengetahui nya." Pinta Harsya' dengan ramah dan wajah penasaran.
"Suhardi. Pemegang kekuasaan penuh perusahaan milik ayah anda yang bernama Anugrah Zahra group." Kata Iskandar memberi tahukan kepada anaknya Ismail.
"Alhamdulillah" Sudah." Tuan sebelum saya bertemu dengan Kakek Abdullah dan Nenek Aisyah. Terlebih dahulu bertemu dengan Tuan Suhardi. Dan Anugrah Zahra group sudah di akusisi kan atas nama saya. Lalu menjelaskan semua nya kepada Tuan Sugianto dan Ini juga jawaban yang di tunggu tunggu oleh Gandi, dan Riyan serta Fander.....! Sedangkan gadis yang di bawa oleh Fander cukup terkesima dan kaget bahwa lelaki yang pakaian biasa biasa adalah orang terkaya yang mempunyai tiga perusahaan besar di Asia tenggara.
"Sungguh luar biasa dan sangat takjub bahwa seorang pemuda berusia 21 tahun yang yang dua Minggu lagi adalah pemuda yang luar biasa" Kata hati Lia.
__ADS_1
bersambung