
Rumah Sakit Rakyat Tangerang.
"Alex menjawab pertanyaan dari Kiayi.!!
Saat itu ketika kami sedang membuntuti dari arah belakang rombongan Gareng, tiba tiba Tuan Muda, mengirim pesan suara grup untuk menyuruh menepi terlebih dahulu untuk membawa dua tersangka yang sudah berada dalam genggaman tangan Fander serta kedua warga asing yaitu Ken Liem dan Rex Ryu.
Sedangkan yang mengantar dua tersangka Windi dan Winda berikut anak anak mereka adalah Maman Tomat dan Iwan kupluk serta di bantu oleh beberapa pengawal.
Sedangkan saya bersama Dirga langsung berjalan membuntuti mobil di belakang Tuan Muda ketika mobil Pajero sport yang di kendarai oleh Mang Jaka melaju dengan cepat menyalip mobil yang di depan yaitu mobil Gareng. Kami bersama Ujang Suparman menghadang tiga mobil yang di belakang mobil rombongan lainnya. Serta Gandi dan lainnya menyekat jalanan terlebih dahulu agar tidak ada mobil yang lewat di bantu beberapa anak buah dari Brigadir Anton Sideka.
Karna rasa takut nya rombongan Gareng semakin jauh maka Tuan Muda Harsya lalu melesat dengan mobil yang di pakainya sedangkan kami bersama Dirga dan Ujang menyalip tiga mobil lalu membantai enam dari dua puluh pengawal Ketua Genk Kobra Beracun itu. Yang lumayan jauh dari Tuan muda di pukuli.
Setelah enam orang yang saya dan Ujang serta Dirga bantai sudah tidak bernyawa, kami bertiga pun lalu berlari menuju dimana Tuan Muda Harsya sudah ambruk kedalam aspal jalan.
"Mungkin seandainya tidak ada Nona Halimah dan dua pembantu nya itu Inah dan Ineh, kemungkinan Tuan Muda Harsya sudah tidak bernyawa.
#######
Setelah mendengar kan penuturan dari Alex asisten Tuan Abdullah, mereka kini meratapi kecemasan yang teramat dalam.
Cukup lama juga Tuan Besar Abdullah dan yang lainnya menunggu dengan gelisah, terutama adalah Nenek Aisyah yang tak henti henti nya mengeluarkan Air mata nya, beliau begitu mendapat kan kabar bahwa Harsya Cucu nya mendapatkan musibah langsung mengikuti suaminya bersama rombongan ke rumah sakit.
Abdullah dan Suhardi yang tampak dari tadi mondar mandir seperti strika butut. Menarik napas lega begitu melihat kearah pintu ruangan unit gawat darurat perlahan lahan terbuka.
Tampak seorang dokter yang masih memakai sarung tangan warna putih dan sarung tangan nya sudah menjadi warna merah di ikuti oleh beberapa staf keluar dari ruangan itu dan langsung di sambut oleh Abdullah dan Suhardi beserta yang lainnya. Dengan pertanyaan.
"Dokter bagaimana dengan Tuan Muda Harsya." Tanya Suhardi.
"Maap sebelum nya dengan siapa saya berbicara dan apa hubungan anda dengan pasien?" tanya dokter tersebut.
__ADS_1
"Nama saya adalah Suhardi, dan pasien adalah Tuan Muda Harsya pemilik tiga perusahaan terbesar se-Asia tenggara, oh iya dokter ini Tuan Besar Abdullah adalah kakek dari pasien. " Kata Suhardi sambil menunjuk kearah Tuan Besar Abdullah.
"Ma, Maa, Maapkan saya yang buta ini, Tuan Besar Suhardi dan Tuan Besar Abdullah." Kata dokter membungkuk hormat dengan rasa kaget dan tak percaya bahwa orang yang bertanya dan di hadapannya adalah orang orang yang punya pengaruh besar.
"Tidak apa apa dokter, bagaimana keadaan Cucu saya.? Tanya Abdullah penasaran.
"Begini Tuan Besar, saat ini pasien sedang melalui tahap kritis. Namun kami harus segera menjalankan operasi secepatnya, Karna pasien mengalami pendarahan di otak, geger otak akibat benturan benda yang begitu keras, dan banyak pembuluh darah yang tersumbat. Jika tidak segera menjalani operasi, maka di khawatir kan pasien akan meninggal dunia atau pun terkena dengan amnesia, " Kata dokter menjelaskan panjang lebar, sehingga Aisyah dan Abdullah serta Umi Aminah menangis histeris.
"Baik' dokter anda lakukan yang terbaik saya mohon, dan untuk pembayaran saya akan melakukan sekarang juga ke bagian administrasi." Kata Suhardi memohon serta di angguki oleh Abdullah dengan wajah cemas.
"Baiklah, Tuan' Besar, Jika demikian saya akan berusaha semaksimal mungkin, dan Ijin kan saya meminta diri untuk melakukan persiapan, " Kata dokter tersebut.
"Silahkan Pak dokter, " Kata Suhardi dengan hormat.
"Tuan' Besar ingat lah, Untuk tidak mengunjungi pasien, selama paska operasi sedang berlangsung, ini demi kebaikan pasien ini sendiri. " Kata dokter mengingat kan nya.
"Anda tidak perlu khawatir Pak dokter. " Kata Suhardi.
*********************************************
Pelabuhan Merak kota Cilegon.
Kalian dengar kan perintahku." Kata Gandi setelah mereka tiba di salah satu halaman luas tempat muatan kapal laut terparkir.
"Silahkan Tuan Gandi.
Fander, Ken dan Rex serta sahabat Tuan muda Harsya memantau dari kejauhan Cok dan Ben sedang berada di Kafe yang tidak jauh dari pelabuhan tersebut dan sudah saling kirim pesan singkat kepada Tuan Besar Dani Rustandi berjanji bertemu dengan nya di kafe tersebut.
Ujang Suparman bersama para Matih menyamar menjadi pelayan kafe di tempat Ucok dan Beni menunggu kedatangan Dani Rustandi.
__ADS_1
Sedangkan saya bersama Halimah serta Inah dan Ineh dan beberapa pengawal mengintai dari ujung halaman kafe yang tersembunyi dan tidak terlihat dari orang orang yang sedang mengobrol di dalam kafe.
Ketika Dani Rustandi datang usahakan untuk memprovokasi kepada Dani Rustandi, agar emosi nya meluap luap dan dia lalu melakukan tindakan kriminal dalam kafe tersebut.
Ketika provokasi pertama tidak mempan dengan dalih Cok Ben menenangkan Dani Rustandi, maka Inah dan Ineh masuk kedalam Kafe bersama dengan Ken Liem dan Rex Ryu dengan mesra.
Maap kan saya Cok dan Ben, tapi ini untuk keberhasilan rencana kita." Tutur Gandi memberi pengertian.
"Siap Tuan' Gandi." Jawab Cok Ben serentak.
Tidak lama setelah itu orang orang yang di tunggu akhirnya tiba, Dani Rustandi dan beberapa para pengawal dengan muka yang begitu sangar berjalan kearah Kafe yang berada di dekat pelabuhan merak itu.
"Kak Gandi..........! Apakah orang yang mempunyai bekas lemparan senjata di pipi sebelah kanan yang bernama Dani Pedrosa itu.? Tanya Halimah......!
"Benar sekali Halimah...........! Aku tidak habis pikir di kira Dani Rustandi akan datang hanya seorang diri, tapi kini terlihat lelaki bangsat itu membawa beberapa pengawal kemungkinan di luar sedang berjaga jaga pengawal lainya." Kata Gandi.
"Coba kak Gandi tanya kepada mereka berempat yang sedang memantau, apakah di luar banyak yang berjaga jaga." Titah Halimah.
"Baiklah Halimah aku akan mengirim pesan singkat kepada salah satu dari mereka berempat. Seraya mengirim pesan singkat.
"Fander bagaimana hasil pemantauan kalian di lokasi tersebut. Pesan chat singkat di kirim dari Gandi.
"Aman.........! Hanya orang orang yang masuk kedalam, saja. Balas dari Fander.
********
Dalam Kafe.
Tuan Besar selamat datang kembali ke negara kita. " Ucap Beni dan Ucok bersamaan seraya membungkuk hormat.
__ADS_1
"Terima Kasih Cok Ben, duduk kembali tak usah sungkan begitu saja." Jawab Dani Rustandi.
Bersambung.