
Siang itu suasana di Aula madrasah ibtidaiyah sungguh sangat ramai sampai di halaman madrasah tersebut berdesakan orang orang untuk melihat acara lamaran dari murid didiknya melamar putri orang paling terhormat dan paling di segani di desa maupun sampai tingkat kecamatan yaitu Halimah Ihsan Permata putri dari pendiri padepokan Macan Putih. Yaitu Ihsan Sidiq atau biasa menyebut dan memanggil nya Kiayi Sepuh.
Siang itu pukul 02 Harsya sedang memakai kan cincin lamaran nya kepada jari manis gadis memakai gaun warna putih tersebut.
"Eits...... Belum boleh di cium kan belum sah." Protes Umi Aminah melihat mereka berdua saling tatap menatap.
"Ihk...... Umi siapa juga yang mau di cium." Protes Halimah memasang bibir manyun, membuat Harsya cekikikan.
" Nah..... Silahkan kalian duduk kembali ke posisi masing masing kami akan membicarakan tanggal pernikahan nya.
"Bagaimanapun kalau sudah naik kelas dua SMA Fatimah saja. " Saran Halimah.
"Tidak........ Itu kelamaan." Sekitar 7 bulan lagi nunggu naik kelas adikmu.? Tolak Siti Zulaikha.
"Minggu depan saja Ambu.?" Ucap Harsya'
"Buru buru banget loe, sudah gak kuat ya." Ledek Riyan sahabatnya.
"Sudah........ Sudah........ Sudah......... Harap tenang.....! Baiklah saya sebagai Orang Tua. Saya akan ambil alih. Nikah nya akan di adakan bulan depan. Kiayi sepuh mengambil keputusan.
"Baiklah sahabat ku, saya rasa itu waktu yang cocok." Balas Abdullah.
"Karena sudah di putuskan jadi silahkan menikmati santapan makan siang ini yang telah di sediakan." Seru istri Kiayi Sepuh.
Kiayi Sepuh dan Abdullah serta Pria paruh baya lainya asyik mengobrol sambil menikmati makanan. Harsya mengikuti Halimah mengambil makanan.
"Kak Harsya mau makan apa? Tanya Halimah.
"Hmmmmm." Mulai sekarang jangan panggil kakak dong.! Seru Harsya.
__ADS_1
"Terus panggil apa.? Tukang Ojeg." Canda Halimah.
"Panggil sayang dong.! Ucap Harsya.
"Ih... malu ahk, lagian panggilan itu sudah tak asing oleh orang lainnya.! Halimah panggil cinta aja ya." Sahut Halimah dengan wajah merona merah.
"Itu juga boleh sayang.! Goda Harsya.
"Cie cie cie, Udah mulai panggil sayang ini.! Goda nenek Aisyah di sela mengambil makanan.
"Uhk........! Nenek selalu ganggu aja moment kebersamaan cucumu dengan calon mantu Nenek aja." Keluh Harsya.
"Hahahaha." Biarin.........! Ucap Nenek Aisyah seraya berlalu meninggalkan mereka berdua.
Setelah santap siang selesai, rombongan keluarga Tuan Muda Harsya pun pamit pulang karna waktu sudah semakin sore.
Tidak lama kemudian setelah menempuh perjalanan kurang lebih 7 jam lama nya iringi iringan mobil tersebut mulai memisahkan mobil nya untuk kembali ke rumah nya masing masing.
Tak lama setelah itu, mobil mewah Lamborghini Aventador bersama dua mobil lainnya sampai di kawasan Bintaro Jakarta Selatan tepatnya di Mansion milik Tuan Muda Harsya.
"Abang Ucok dan Abang Beni bersama Paman Alex saya tunggu di ruangan atas." Titah Harsya setelah mereka turun di penataran Mansion itu.
"Siap Tuan' Muda kata mereka bertiga bersamaan.
Tiga puluh menit lama nya mereka bertiga kini sudah berada dalam satu ruangan dan duduk bersama Tuan Muda.
"Paman Alex dan kalian berdua ada sesuatu yang akan saya bahas malam ini dan meminta saran serta masukkan dari kalian bertiga." Ucap Harsya di sela mereka bertiga sudah duduk di ruangan kedap suara.
"Silahkan Tuan Muda bicarakan, kami bertiga mendengar kan." Jawab Alex di angguki oleh Cok Ben.
__ADS_1
"Kalian bertiga dengarkan, untuk saat ini saya pribadi tidak akan masuk kedalam jajaran perusahaan yang baru satu bulan ini kita gabungkan, perusahaan akan sepenuhnya di pegang terlebih dahulu oleh anaknya Paman Suhardi, bersama orang orang yang sudah kita rapatkan waktu itu dan untuk mereka yang terlibat dalam penangkapan serta tewas nya Dani Rustandi serta Gareng untuk segera di keluarkan dalam jajaran perusahaan. Lalu masukan dalam organisasi Macan Putih." Harsya memberi tahukan perihal memanggil mereka bertiga.
Paman Alex, kaget mendengar ucapan dari pemuda itu, sedangkan Cok Ben tertegun. Dan satu suara pun keluar dari mereka bertiga.!
"Kenapa bisa begitu Tuan muda.! Memang ada apa? Tanya Alex penasaran.
"Begini Paman Alex setelah paska kematian Dani Rustandi dan Ruli Siregar Rusady, serta mendekam nya Windi dan Winda dalam kurun waktu yang sama.! Kini perusahaan KOBRA COMPANY GRUP telah bergabung bersama perusahan TRI FUTURE COMPANY GRUP yang di pimpin langsung oleh sahabat Dani Rustandi yaitu Simon, Kong Kong dan Naga Saki Sempur. Dengan di balik layarnya Anastasia dan Sintia yang sekarang kuliah di luar negeri, Perlu kalian bertiga mengetahui tidak sederhana mungkin mereka akan memburu orang orang yang telah membunuh Orang Tua nya, maka dengan ini saya akan menyembunyikan identitas saya dan orang orang terlibat kejadian waktu itu untuk di keluarkan dalam jajaran perusahaan, agar perusahaan yang baru berumur jagung itu tidak menjadi target dari mereka. Aku pribadi mendapat kabar pusat perusahaan tersebut akan di bangun di Negara kita.
Paman Alex, ini surat pengantar dariku. Temui Paman Suhardi dan obrolkan kepada mereka tentang tumpukan perusahaan di serahkan kepada Rijki Fadilah, untuk jabatan yang di tinggalkan oleh Gandi, Dirga, Fander serta Syamsul dan Bimo, Paman Alex dan Paman Suhardi aturlah orang orang yang tidak terlibat dalam permasalahan tempo dulu. Aku membutuhkan bantuan dan pengertian dari mereka yang di keluarkan dalam perusahaan milik ku." Kata Harsya memberikan sepucuk surat ke tangan Alex.
"Sampai kapan Tuan Muda menyembunyikan identitas diri anda.?" Tanya Alex.
"Kemungkinan setelah aku mendapatkan informasi dan maksud tujuan Sintia dan Anastasia menggabungkan perusahaan kepada ketiga sahabat Dani Rustandi. " Jawab Harsya.
"Baiklah kalau begitu saya akan menjalankan tugas dan menyampaikan apa yang di katakan oleh anda." Jawab Alex.
"Untuk kalian berdua Cok Ben, segera diskusi dengan Ujang Suparman dan yang lainnya, orang orang yang di keluarkan dari perusahaan ISMAIL FUTURE OF COMPANY GRUP untuk di tarik kedalam jajaran organisasi Macan Putih yang sudah di sahkan dan terdapat di negara kita. Dan terus luaskan jangkauan Macan Putih merekrut orang orang yang setia kepada organisasi tersebut sampai ke tingkat luar negri. Apakah kalian berdua bisa.? Tanya Harsya
"Seratus persen bisa Tuan Muda." Jawab Cok Ben bersamaan.
"Bagus aku mengandalkan kalian berdua untuk urusan organisasi tersebut. ! Kata Harsya.
Setelah mereka bertiga selesai dengan obrolan panjang itu, Paman Alex dan Cok Ben pun keluar lalu mereka kembali ke rumah nya masing-masing.
************************
Sementara saat itu di Jepang tepatnya di kota Chiyoda Anastasia dan Sintia yang berada di restoran mewah bersama Tuan Naga Saki Sempur sedang mendengarkan penuturan penuturan dari Tuan Simon, agar bersabar terlebih dahulu membalaskan dendam kematian kedua Ayahnya dan menunggu terlebih dahulu pembebasan dari Nyonya Windi dan Winda yang akan di bantu oleh beberapa pihak pihak yang siap menerima sogokan dari kita.!
SELESAI..............!
__ADS_1