TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Keputusan Harsya


__ADS_3

Satu unit mobil Marcedez Benz e-class yang sudah di modifikasi dengan cantik melaju membelah jalanan di siang hari yang begitu panas nya sangat memekat.


Mobil Mewah itu melaju sangat kencang mengikut mobil yang berada di depan yang tak kalah mewah nya. Sesampai di belokan jalan yang mengarah ke satu perumahan yang super Elit. Dua mobil yang sedari tadi saling mengejar pun langsung berbelok dan masuk ke jalan menuju Mansion mewah majikan nya itu.


Sesampai nya di salah satu gerbang yang menjulang tinggi dan terlihat papan nama yang begitu jelas dengan ukiran kayu mahal. HARSYA BADZIL ISMAIL ABDULLAH. Terlihat dalam papan bangunan mewah itu.


Lalu para penjaga pun membukakan pintu gerbang Mansion itu untuk segera masuk karna kedatangan mereka berdua sudah di tunggu oleh Tuan Muda dan yang lainnya.


"Selamat siang Tuan Gandi. Tuan Dirga." Ucap Mang Jaka membungkuk hormat ketika mereka berdua turun dari mobilnya.


"Siang Juga Mang. Apakah mereka semua sudah berkumpul.?" Tanya Gandi


"Sudah Tuan......... Semua sudah menunggu di ruangan tamu." Ucapnya Jaka.


"Yaaa...... Sudah saya masuk dulu. Ayo Dirga kita langsung ke ruangan tamu." Ajak Gandi.


"Siap Kak......... Mang Jaka. saya masuk dulu." Kata Dirga.


"Silahkan Tuan.........!!


"Sesampai nya di ruangan tamu. Gandi pun langsung menyapa beberapa orang yang hadir di ruangan itu.


"Tuan Besar. Nyonya Besar. Tuan Muda dan Nona Muda Halimah. Dan yang lainnya selamat siang." Ucap Gandi langsung membungkuk hormat di ikuti oleh Dirga.


"Kak Gandi dan Dirga silahkan duduk." Titah Harsya. Sementara Abdullah dan Nyonya Aisyah hanya tersenyum.


"Terima Kasih Tuan Muda. Ucap Gandi langsung duduk bersama Gandi di kursi yang masih kosong.


Harsya menatap tajam kearah Dirga. Lalu dia beralih pandangan matanya kearah Dewi dan Indah. Hening suasana di ruangan tamu itu. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara satu orang pun.


"Pak Komar dan Pak Kardi. Silahkan utarakan maksud tujuan nya datang ke Mansion saya di siang hari." Titah Harsya dengan sorot mata yang begitu tajam.

__ADS_1


Dua lelaki bergelar kepala keluarga tampak ada yang berani bersuara. Pak Kardi hanya tertunduk begitu juga dengan Pak Komar. Mereka berdua seakan akan terkunci mulutnya untuk bersuara.


"Tu.... Tuan... Muda. Harsya. Maapkan semua kesalahan anak kami." Suara pun keluar dari mulut Bu Komariah ibu nya Dewi dengan terbata bata.


"Bu Komariah....... Aku bukan Tuan Muda mu.! Aku adalah anak muda yang ingin di buat celaka oleh Indah dan Dewi serta Hani.


Mendengar perkataan Harsya. Indah dan Dewi lalu beranjak dan langsung berlutut serta menangis di depan Harsya.


"Tuan Muda kami berdua terpaksa menghianati mu.


"Ini semua kami lakukan karna terpaksa. Ketahuilah bahwa semua ini terjadi karna solidaritas persahabatan dengan Hani Omardani. Jika aku dan Indah tidak menurutinya bahwa persahabatan di antara kita akan bubar dan Orang Tua Hani akan memusuhi kedua orang tua kita berdua." Kata Dewi masih dalam berlutut bersama Indah.


Harsya yang mendengar ini segera memandang mereka yang sekeliling nya dengan tersenyum jahat.


"Indah dan Dewi. Aku tidak akan mendesak mu. Dan akan memaafkan semua kesalahan yang telah di perbuat oleh kalian berdua maupun Hani. Sekarang aku berbaik hati dan akan melepaskan nya." Kata Harsya masih sambil tersenyum jahat.


Mendengar ini Indah dan Dewi segera mengangkat wajahnya mengarah kearah Harsya. Untuk memastikan apakah ucapan nya itu benar atau hanya mempermainkan dirinya.


"Kenapa Indah. Dewi.?" Apakah kalian meragukan kata kata ku.


"Aku tidak akan bertanya ini dan itu kepada kalian berdua maupun kedua Orang Tua kalian. Aku tau kalian tertekan oleh ku dan orang orang ku. Karena bagaimanapun kalian adalah sahabat ku. Dan kedua Orang Tua kalian sudah aku anggap Orang Tuaku sendiri.


"Pergi sekarang dan tinggalkan tempat ini.!! Kata Harsya yang membuat semua orang yang berada di ruangan itu terperanjat.


"Pergi sebelum aku berubah pikiran." Bentak Harsya dengan lantang.


Bentakan ini membuat Dewi dan Indah beserta kedua Orang Tua nya semakin menggigil ketakutan. Mereka berdua semakin membenamkan wajahnya dan hanya mampu melihat ujung sendal milik Harsya.


"Kak Gandi. Kak Maman. Panggil Harsya.


"Siap Tuan Muda. Ucap Mang Jaka yang sedari tadi hanya berdiri saja.

__ADS_1


"Antarkan mereka kembali ke apartemen yang sudah di kasih oleh anaknya Ruli Siregar Rusady. Perintah Harsya.


"Tapi......... Tuan Muda........... Kedua Orang ini. Belum lagi selesai Gandi dengan ucapan nya. Harsya sudah memotong.


"Antarkan kataku. Apakah aku bener bener Tuan Muda kalian. Sehingga setiap kata kata ku akan di turuti. Atau aku ini hanya Tuan muda palsu yang bisa kalian pergunakan seperti boneka untuk kepentingan kalian sendiri." Bentak Harsya dengan suara yang mulai tinggi.


Tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menuruti. Keinginan Harsya.


"Nona Indah dan Dewi. Mari kita berangkat untuk kembali ke apartemen yang baru di tempati oleh kalian bertiga." Ucap Gandi.


"Bai..... Baik.... Tuan Gandi. Terima Kasih banyak." Ucap Dewi terbata bata.


Abdullah berdiri lalu melangkah berjalan kearah dua gadis sudah berdiri dari berlutut nya itu sambil berkata.


"Kalian berdua benar benar bernasib baik.


Dengarkan kalian berdua baik baik dan Ini juga berlaku buat kedua Orang Tua kalian. Andai ini terjadi di Orang Orang perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP. Kalian sudah pasti tidak dapat menikmati kehangatan matahari esok." Kata Tuan Besar Tedi dengan geram.


"Indah, Dewi. Silahkan pergi sekarang dan bawa kedua Orang Tua mu. Pergi untuk melihat lihat kota Jakarta, mungpung mereka sedang berada di sini." Titah Harsya kepada mereka berdua.


"Terima Kasih Tuan Muda. Terimakasih.!! Suatu saat anda harus yakin bahwa nyawa busuk kami berdua akan di korban kan untuk membela anda." Katanya lalu buru buru berjalan keluar bersama keluarganya di antar oleh Gandi dan Maman Tomat.


Setelah dua keluarga itu menghilang. Sontak saja ruangan tamu itu hiruk pikuk dengan suara suara mereka yang tak habis pikir dengan keputusan yang di buat oleh Harsya.


"Tuan Muda. Bila mereka bebas tidak di kasih hukuman. Mereka akan menemui Hani dan memberitahu kan semuanya tentang dirimu memaapkan kesalahan yang sudah di perbuat oleh nya.Tanpa ada hukuman.Jadi mereka akan menganggap enteng tentang anda." Ucap Rijki Fadilah dengan raut wajah penuh dengan ke khawatiran.


Mendengar ini Harsya hanya tersenyum dan berkata.


"Justru itu yang aku inginkan. Mereka berdua akan bergabung lagi dengan Hani. Tapi aku yakin insting ku tidak akan pernah salah. Mereka berdua akan berada di pihak kita." Ucap Harsya lalu berjalan kearah Riyan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2