TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
CERITA MASA LALU HARSYA


__ADS_3

Cerita Masa Lalu Harsya.


Sepasang suami istri berjalan tergesa gesa serta lelaki yang berjalan di depannya sedang menggendong bocah kecil berusia sepuluh tahun menuju salah satu puskesmas di desa tempat tinggal nya.


Sesampainya di puskesmas itu, seorang bidan yang bertugas di puskesmas itu lalu menghampiri pasangan suami istri yang sangat Ia kenal.


"Pak, Jaeludin anak siapa ini?" Tanya Sang bidan kepada lelaki yang menggendong anak kecil dalam keadaan pingsan.


Sang bidan begitu kaget setelah tempat Ia bekerja di datangi oleh pasangan suami istri. Karna wanita yang profesi sebagai bidan itu mengetahui sosok Pak Jaeludin dan Bu Aminah sudah menikah lama nya tidak mempunyai keturunan tetapi mereka tetap setia satu sama lainnya.


Pak Jaeludin pun menceritakan semua nya kepada Bidan puskesmas itu tentang anak yang dibawa dan di temukan di hutan waktu mencari kayu bakar.


Sang bidan hanya manggut manggut saja sambil tangan nya di simpan di kening Harsya kecil.


"Pak..... Ayo bawa keruangan pemeriksaan." Titah bidan desa itu.


Jaeludin pun langsung berjalan dan membawa Harsya kecil ke salah satu ruangan di ikuti oleh istrinya dari belakang.


Setelah bocah kecil itu di baringkan di tempat pemeriksaan.. Dengan telaten bidan tersebut pun memeriksa Harsya kecil dan setelah pemeriksaan selesai sang bidan pun berkata.


"Anak ini tak kenapa napa hanya luka nya harus di bersihkan dan di obati agar tidak infeksi." Kata sang bidan.


"Alhamdulillah. Syukurlah kalau anak ini tidak kenapa napa." Jawab Jaeludin seraya tangannya di usapkan kepada wajahnya.. Begitu juga dengan istrinya bersyukur.


"Pak Jaeludin.. Mari ikut ke ruangan saya ada yang perlu di obrolkan." Pinta sang bidan desa tersebut.


"Mari Bu bidan." Balas Jaeludin.

__ADS_1


Mereka berdua pun keluar dari ruangan pemeriksaan berjalan menuju ruangan sang bidan. Sedangkan Aminah istrinya hanya menunggu di ruangan tempat bocah itu di rawat.


"Silahkan Pak Jaeludin duduk." Titah sang bidan.. Sedangkan dia sendiri langsung duduk di kursi kebanggaan nya.


"Terima Kasih Bu bidan.!


Lelaki setengah tua itu pun langsung duduk dan kini berhadapan dengan bidan yang telah mengabdi selama tujuh tahun di kecamatan yang ada di pinggiran kota kecil.


"Begini Pak Jaeludin. Anak yang Bapak bawa terkena penyakit Amnesia, dan harus di bawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut, biar ingatan nya pulih kembali dan Pak Jaeludin bisa tau siapa dirinya dan kedua orang tua nya. Apa tujuan anak ini bisa sampai ke hutan." Panjang lebar bidan itu menjelaskan kepada lelaki yang di hadapannya.


Dulu Abah bingung untuk membawa mu ke rumah sakit karena terbenturnya sebuah biaya. Karna posisi Abah dan Umi jangan kan untuk mengobati penyakit Harsya dengan membawa nya ke rumah sakit, untuk makan juga koreh koreh coh kata orang sunda mah.


(kadang pagi makan sore nya tidak makan)


Jaeludin pun mengutarakan maksud dan tujuannya kepada Bidan itu biar anak ini di rawat sementara waktu di rumah Abah, dengan pengobatan tradisional di kampung dan menjelaskan tentang terbenturnya biaya.


Sebagai mesti nya seorang dokter memberikan arahan nya kepada pasien nya untuk kesembuhan nya, urusan internal masalah biaya di kembalikan lagi ke orang yang membawa nya berobat, yaitu keluarga nya.


Setelah berbincang bincang dengan bidan tersebut


yang lumayan memakan waktu lama akhir nya selesai dan keluar dari ruangan secara bersama sama.


Lelaki setengah tua itu pun langsung menemui anak kecil yang sedang di tungguin oleh Istri nya dan meminta ijin untuk membeli makanan karna perut nya terus menerus bernyanyi.


Ketika Pak Jaeludin sedang keluar untuk mencari makanan sekedar mengganjal perut nya. Sang bidan pun memeriksa Harsya kecil.


"Alhamdulillah.. Bisa langsung pulang hari ini. Jangan lupa obat nya tolong di minum dan jangan sampai tidak di minum." Pesan Bu bidan kepada Aminah yang sedang menunggui Harsya.

__ADS_1


"Siapa nama mu Nak.?" Tanya bidan setelah selesai memeriksa anak yang di bawa pasangan suami istri itu.


Dia menggeleng kan kepalanya saat setiap pertanyaan dari sang bidan maupun dari istrinya Jaeludin. Harsya hanya menatap setiap sudut ruangan tampa mau berbicara satu kata pun,pikiran nya melayang tampa ada yang tahu yang di pikirkan oleh anak itu, diam dan membisu.


Pandangan mata nya menatap kearah pintu luar ruangan.. Ada satu sosok yang sedari tadi memperhatikan nya.. Saat kedua wanita yang profesi sebagai bidan dan Ibu rumah tangga bertanya ini itu kepada bocah yang terbaring di ruangan pemeriksaan.


Muhammad Jaeludin itu nama nya biasa orang orang memanggil atau menyebut dengan Pa Jae atau Pa Udin di kampung nya tempat tinggal pasangan suami istri yang sampai usia pernikahan menginjak dua puluh tahun tidak mempunyai anak.


Suami dari Siti Aminah yang menemukan Harsya di hutan yang sedang mencari kayu bakar untuk di bawa ke rumah sebagian untuk di pake sebagian lagi untuk di jual kepada yang membutuhkan nya.


Karna kebanyakan mayoritas di kampung tempat pasangan suami istri masih menggunakan kayu bakar. untuk menanak nasi atau pun memasak makanan nya, walaupun sebagian sudah menggunakan kompor minyak tanah atau pun kompor gas.


Setelah di tatap oleh Harsya anak yang di temukan di hutan Pa Jaenudin pun masuk berjalan kearah anak berbaring di ruangan puskesmas dan menghampiri anak itu lalu mengusap usap rambut nya sambil bibir nya kumat kamit membaca doa.


"Bagaimana keaadaan anak ini Bu bidan.?" Tanya Pak Jaeludin.. Setelah membacakan doa untuk keselamatan dan kesembuhan anak yang mungkin berusia sepuluh tahun itu.


"Alhamdulillah!! Anak ini sudah bisa di bawa pulang! Tapi ingat obatnya jangan lupa di minum." Jawab sang bidan itu dengan senyuman.


Ohk....! "begitu...! baik terima kasih Bu Bidan akan saya laksanakan sesuai anjuran dari Bidan Hana" kalau begitu saya dan istri saya mau beres beres dulu, sekalian mau ke bagian kasir bagian administrasi untuk membayar biaya perawatan nya"jawab lelaki dari suami Bu Aminah yang mulai berjalan kearah kasir,"tetapi buru buru Bidan Hana mencegah dan berkata,membalas perkataan Pa Jaeludin tidak usah Pa semua nya gratis.


"kok"....? bisa" timpal" Pa Jaeludin berkerut alisnya.


"Sudah gak pa - pa" pinta, Bidan Hana jangan di tolak"


Ohk......." ya "udah kalau begitu saya ber terima kasih banyak kepada Bu Bidan. Semoga Allah SWT membalas kebaikan Bu Bidan." Kata Pak Jaeludin tulus mendoakan nya.


"Amiin yaa robball allamiin, hanya kata itu yang terucap dari mulut Bidan yang bernama Hana Yori Puspita itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2