TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Pertemuan empat Mata dua sahabat


__ADS_3

Berita kerjasama antara perusahaan TRI FUTURE COMPANY GRUP. Dengan dua Mapia yang sangat kejam dan berdarah dingin sudah tersebar di kalangan orang orang nya Tuan Muda Harsya, ini menjadi ancaman terbesar buat keluarga dan orang orang di samping Tuan Muda Harsya di ambang bahaya.


Lestari. Kamu hubungi Kak Rijki dan Kak Gandi sekarang juga. Suruh mereka berdua untuk segera datang ke Apartemen ini, Ingat jangan sampai sesepuh perusahaan mengetahui mereka berdua untuk datang ke sini." Titah Harsya.


"Ba... Bai... Baik. Lestari terbata bata.


"Cucuku. Apa yang akan kamu rencanakan.?" Tanya Elisabeth.


"Belum mempunyai rencana apa pun Oma. Tapi untuk saat ini aku akan meminta bertemu terlebih dahulu dengan Riyan berdua tanpa ada orang lain' yang mengetahui nya." Kata nya. Elisabeth berkerut keningnya tidak bisa menebak jalan pikiran anak dari Ismail Abdullah.


"Oma, kabar terbaru yang di dapatkan oleh Ken dan Rex, bahwa dua Mapia itu sudah bekerjasama dengan Tuan Simon dan Kong Kong serta Naga Saki Sempur, kedua Mapia itu akan berada di negara ini pada hari Jumat sore." Harsya memberitahu kan kepada Elisabeth dan Lestari.


"Harsya. Apakah yang lainnya sudah di beritahu. Termasuk Fander yang mengetahui Selak beluk dua Mapia tersebut.?" Tanya Elisabeth. Kini pikiran nya di liputi ketakutan dan kecemasan terhadap anak dan cucunya itu.


"Mungkin mereka sudah mengetahui nya Oma. Karna sudah Aku kirim ke pesan grup.


Tiba tiba bel pintu apartemen berbunyi. Lestari yang mendapatkan anggukan dari ibu tirinya segera beranjak untuk membukakan pintu tersebut.


"Siapa yang bertamu siang ini Oma.?" Tanya Harsya.


"Tak tahu. Cucuku. Mungkin Rijki atau pun Gandi. Bukan kah di suruh kesini. Kata Oma Elisabeth. Lalu berdiri menuju dapur untuk mengambil minuman.


Tak lama Lestari pun kembali setelah membukakan pintu Apartemen bersama dengan tiga lelaki dua di antaranya yang di minta oleh Harsya untuk datang ke Apartemen Gelora Buana Group.


"Tuan Muda. Ucap mereka bertiga seraya membungkuk hormat.


"Silahkan Duduk. Untuk kalian bertiga." Titah Harsya.

__ADS_1


"Terima Kasih banyak Tuan Muda." Lalu mereka bertiga duduk di ruangan keluarga itu.


"Apa kalian bertiga. Sudah membuka pesan grup yang di kirim oleh ku ke grup Wasttap.?" Tanya Harsya.


"Sudah. Tuan muda." Jawab Fander sementara Gandi dan Rijki lalu mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan grup. Mereka berdua menggeleng kan kepala nya terasa tidak percaya informasi yang di kirim oleh Ken.


"Kak. Gandi dan Lestari serta Oma. Elisabeth, aku akan berangkat untuk menemui Riyan, tanpa ada orang lain yang tahu. Aku serahkan penjagaan istri dan adik Ipar ku kepada kalian. Jaga dengan baik. " Kata Harsya.


"Baiklah. Tuan Muda. Anda tidak perlu menghawatirkan." Kata Gandi.


"Kak. Rijki Fadilah dan Kak Fander tolong bawa surat ini dan berikan kepada Tuan Sugianto. Ingat surat ini jangan dulu di buka atau pun di publikasikan ke media sosial selama satu bulan." Kata Harsya sambil memberikan sepucuk surat ke tangan Rijki.


"Rencana apa yang akan di jalani oleh anda. Tuan Muda.?" Tanya Rijki.


"Entahlah. Kak. Aku belum mempunyai rencana apa pun juga. Tapi pertemuan dengan sahabat ku secara empat mata jangan sampai ada orang lain dari pihak ku jangan sampai tahu selain yang berada di sini. Begitu juga Riyan sudah di beritahu oleh diriku." Kata Harsya.


"Kak Rijki. Tenang saja. Mudah mudahan. Aku bisa mengatasi semuanya, bila ada hal yang sangat mencurigakan.


"Aku pergi dulu. Ingat! Persaingan bisnis tidak sama seperti berkompetisi antara pemain layangan. Persaingan di dunia bisnis itu kejam dan tak pandang bulu. Kalian harus berhati hati." Kata Harsya lalu segera menuju kearah pintu dan keluar meninggalkan mereka yang ada di Apartemen yang di tempati oleh Elisabeth Ardana.


"Aneh sekali. Tidak biasanya Cucuku ini berpesan terlalu banyak kepada kita. Perasaan ku saat ini tidak tenang." Kata Elisabeth setelah Harsya pergi telah jauh meninggalkan mereka.


"Bicara apa Mami.! Tuan Muda pasti bisa melindungi dirinya. Lagi pula ia bertemu dengan sahabat sejati yang tidak akan pernah mengkhianati sama sekali." Kata Lestari membuang jauh pemikiran ketakutannya. Walaupun dirinya juga merasakan apa yang di rasakan oleh Ibu tiri rasa ibu kandung.


"Yaa. Mudah mudahan saja." Kata Elisabeth lalu pergi masuk kedalam kamarnya.


"Fander kau tidak usah ikut bersamaku untuk mengantar surat ini kepada Tuan Sugianto. Lebih baik kamu buntuti Tuan Muda, kemanapun dia pergi. Hati sama dengan Nyonya Elisabeth merasa tidak tenang." Titah Rijki Fadilah.

__ADS_1


"Siap. Tuan Rijki." Jawab Fander. Lalu berdiri dan pergi ke luar Apartemen.


##########


Harsya yang baru saja keluar dari Apartemen, Oma Elisabeth segera mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Riyan bahwa dia saat ini akan menuju lokasi yang telah di sepakati berdua.


Di sebrang sana seorang pemuda seumuran yang mendapatkan pesan singkat dari sahabatnya, tanpa di lama lama lagi langsung membalasnya dan segera masuk ke dalam mobil untuk menemui seorang pemberi pesan singkat.


Sesampainya di sebuah lokasi yang tidak ada orang lain tahu, dua sahabat sedang duduk di salah satu Kafe pinggir kota besar dan secara khusus di ruangan yang telah ia bayar agar tidak ada yang mengganggu obrolan mereka berdua.


"Selamat datang sahabat ku." Kata Harsya menyambut kedatangan Riyan.


"Terima Kasih Brow." Ucap Riyan lalu memeluk sahabatnya itu.


Setelah selesai dengan pelukan hangat dua sahabat yang tidak melupakan jati diri mereka masing masing. Harsya pun langsung membawa keruangan khusus yang sudah di pesan oleh nya.


"Brow. Gue mau tahu tujuan loe ingin mengajak ngobrol, tidak sederhana mungkin kan. Aku tahu sipat loe." Kata Riyan memulai obrolan pertama nya.


"Hehehehe. Santai brother. Lebih baik loe minum kopi terlebih dahulu agar rilex." Kekeh Harsya.


"Sialan loe. Tak pernah berubah dari dulu, kau masih suka bercanda di saat gue serius." Jawab Riyan lalu mengambil gelas terisi kopi dan menyeruput nya.


"Ok. Baiklah. Gue kali ini ada beberapa yang ingin ku sampaikan dan minta informasi yang paling akurat tentang musuh yang akan gue hadapi. Tapi sebentar melihat loe menyeruput kopi terasa nikmat." Kata nya Lalu ia juga menyeruput kopi.


"Huh. Dasar sahabat. Gila.!! Rutuk Riyan.! Ia mengambil rokok dan menghisap rokok yang tersedia hadapannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2