TUKANG OJEG TAMPAN

TUKANG OJEG TAMPAN
Pertemuan Brigadir Anton Sideka dan Kiayi Sepuh


__ADS_3

Sebenarnya apa yang terjadi kenapa bisa masyarakat yang berontak dan para wartawan melaporkan pembantaian itu dikaitkan dengan masyarakat tidak dengan ketiga perusahaan yang menjadi musuh Genk Kobra Beracun.


****


Sejenak kita kembali dulu ke posisi di saat Brigadir Anton Sideka di lantik menjadi Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri. Setelah di lantik nya Brigadir Anton Sideka pagi hari nya langsung memerintahkan anak buah kepercayaan menjemput salah satu sesepuh yang paling di hormati oleh Brigadir tersebut.


Tujuh jam lama nya anak buah yang di perintahkan oleh atasan untuk menjemput di salah satu kota kecil pun tiba dan di bawa langsung menuju ruangan kedap suara di Mabes Polri.


Kiayi Sepuh dan Bimo pun kini berada di ruangan khusus milik Brigadir Anton Sideka yaitu murid sekaligus adik angkat Kiayi Sepuh.


Setelah basa basi sejenak antara temu kangen mereka berdua antara Kiayi Sepuh dan Anton Sideka. Obrolan pun berlanjut serius maksud tujuanya menjemput Kakak angkatnya ada beberapa yang harus di bicarakan dan meminta ide ide kedepannya agar bisa menumpas Genk yang meresahkan masyarakat itu.


"Nak Anton begini bila kita langsung menumpas dan menutup Organisasi Genk Kobra Beracun tampa ada bukti yang kuat bisa bisa menjadi bumerang pada diri Nak Anton. " Kiayi memberi nasehat.


"Jadi saya harus bagaimana Kak? Kata Anton Sideka.


Nak Anton bekerjasama dengan Cucu Abdullah Putri dari adik angkat mu yaitu Zahra Kumalasari Istri dari Ismail Abdullah.


"Apa.......! Maksud Kiayi Adik saya yang 11 tahun di bantai oleh Anggota Genk Kobra Beracun. " Jawab Anton dengan wajah yang kaget dan Syok.


Bener Nak Anton Sideka........! Kiayi sepuh pun lalu menjelaskan semua nya dari A sampai Z tentang pemuda itu di temukan oleh Jaeludin dan Aminah serta menetap di Padepokan Macan Putih dan hari ini dia telah mengakuisisi tiga perusahaan besar menjadi milik nya dan yang menjadi pengawal bayangan nya adalah Ujang Suparman serta sepuluh orang Macan Putih terlatih.....! Serta semua informasi dari Genk Kobra Beracun dia dapatkan dari Cok Ben yang sengaja di susupkan oleh Kiayi Sepuh sendiri untuk masuk di Organisasi tersebut.


"Bener Bener luar biasa. Saya tidak menyangka dengan semua ini bahwa Ismail Abdullah menyimpan dan menyiapkan segala sesuatu nya untuk anak nya dan saya sangat salut pada adik angkat dan adik ipar tersebut yaitu Zahra dan Ismail. " Kagum Anton Sideka.

__ADS_1


"Jadi rencana apa yang harus kita lakukan untuk menumpas Genk Kobra Beracun? Tanya Anton kepada yang dia menyebut nya Kakak.


"Nak Anton apakah dalam catatan enam bulan yang lalu salah satu Ketua Genk Kobra memperkosa seorang gadis kecil serta membunuh keluarga nya. Apakah masih ada di dalam kepolisian data data Kasus yang tidak di ungkap oleh pihak penegak hukum. " Tanya Kiayi.


"Anton seketika terdiam sejenak dan tidak lama kemudian lalu menjawab pertanyaan dari pria yang ia hormati itu.


"Ada.....! Malahan tentang semua kejahatan masa lalu sudah berada dalam genggaman saya. " Jawab Anton Sideka yakin.


Begini Nak Anton bagaimana bila kau menimbulkan lagi kasus itu dalam pemberitaan di beberapa siaran televisi langsung dan beberapa akun media sosial disaat Nak Harsya dengan orang orang nya membantai Organisasi tersebut di kawasan Kobra kafe yang akan dilaksanakan malam Selasa sekarang. Nak Anton Sideka usahakan pihak media sampai ke direksi untuk memberitakan bahwa pembantaian itu murni dari masyarakat menuntut balas atas sadis dan kejam nya Organisasi Genk Kobra Beracun. Disaat berita itu menyebar di Bumi Pertiwi dengan judul pertempuran masyarakat melawan Genk Kobra. Otomatis masyarakat akan berani melawan markas markas kecil yang ada di kota kota lainnya. Di saat itu lah peranan kepolisian harus segera bertindak untuk segera merangkul beberapa Anggota Genk Kobra yang belum tercuci otak nya dan untuk urusan daerah Jawa barat beberapa murid Kakak juga akan langsung merangkul Organisasi tersebut ke jalan yang lebih baik. " Kiayi sepuh memberikan masukan dan ide kepada adik angkatnya yaitu Brigadir Anton Sideka.


"Cemerlang dan brilian ide yang di berikan oleh Kak Kiayi Sepuh. Disaat masyarakat di seluruh Bumi Pertiwi ini berontak tidak ada alasan pemerintah untuk tidak menutup Organisasi tersebut. Apakah begitu pemikiran dari Kiayi Sepuh? Tanya Anton Sideka.


Kiayi Sepuh mengangguk seraya tersenyum manis.


"Baiklah Kak Kiayi. Aku ikut dengan rencana dan ide dari Kiayi Sepuh. " Jawab Anton adik angkat nya itu.


# ------------------ #


Pagi itu sekitar pukul 09 : 00 Tuan muda yang tadi nya mau berangkat kuliah di urungkan karena rasa capek dan masih ngantuk akibat penyerang semalam. Kini pemuda itu sedang duduk di ruangan kerja seorang diri dengan di temani oleh secangkir kopi luwak white kopi. Tidak lama kemudian ketukan pintu pun terdengar dari luar pintu ruangan kerja.


"Masuk. Teriak pemuda tampan itu dalam ruangan kerja.


Pintu pun terbuka dan muncul lah dua lelaki serta satu wanita paruh baya lalu mereka bertiga menghampiri pemuda yang sedang duduk di ruangan kerja seraya mata menatap kepada mereka yang baru masuk.

__ADS_1


Pemuda itu langsung berdiri dan memeluk mereka satu persatu seraya mencium tangan nya masing masing.


"Paman Suhardi, Paman Iskandar dan Oma Elisabeth kenapa tidak memberitahu dulu mau datang ke sini? Tanya Harsya penasaran.


Mereka bertiga hanya tersenyum tampa menjawab pertanyaan dari anak mendiang sahabatnya itu lalu setelah diam sejenak salah satu dari mereka bertiga berkata.


"Cucuku.........! Ku kita ngobrol di bawah yu bersama kedua Orang Tua angkat mu serta Kiayi Sepuh." Ajak Elisabeth dan diangguki oleh mereka berdua.


"Waduh bau bau tidak enak nie. " Kekeh Harsya cekikikan kepada Oma Elisabeth dan kedua sahabat ayah nya.


"Huh.....! Ini anak pagi pagi sudah Suudzon." Timpal paman Suhardi tersenyum.


"Hehehehe." Lest' Go' kemon. " Ajak Harsya seraya berjalan duluan meninggalkan mereka bertiga menuju ruangan keluarga.


"Persis kan ulah nya kaya Ismail Abdullah. " Kata Iskandar.


"Betul.....! Jadi kangen canda tawa Ismail." sahut Elisabeth.


"Suhardi dan Iskandar pun mengangguk.


"Ayo kita turun keruangan keluarga." Ajak Suhardi takut nya membicarakan tentang sahabat nya yang sudah tenang di alam sana dan akan membuat kita bertiga bersedih.


Mereka bertiga berjalan bersama sama menuju tangga dan langsung menghampiri mereka yang sudah berada di ruangan keluarga bersama Kiayi Sepuh dan Orang Tua angkat pemuda bernama Harsya.

__ADS_1


Setelah mereka bertiga duduk dan Paman Suhardi bersama Paman Iskandar memperkenalkan diri kepada Kiayi Sepuh dan kepada Abah serta Umi Aminah. Sesaat mereka terdiam sejenak.


Bersambung.


__ADS_2