
Indah dan Dewi semakin pias. Kini Ayah Dewi melangkah mendekati nya. Plaaaaaaaak. sebuah tamparan keras mendarat ke pipinya Dewi. Hal serupa yang di lakukan oleh Ayah dari Indah.
"Anak tidak tahu untung. Kalian berdua bener bener telah mencoreng nama keluarga. Jadi selama ini. Kau pergi ke Jakarta berniat untuk Kuliah. Hanya sebuah kedok belaka hah." Bentak Sang ayah.
"A, ayah, kami berdua menyesal. Tapi kami juga melakukan ini semua demi keluarga kita." Bela Dewi.
"Plaak.............! Tamparan keras untuk kedua kalinya bersarang ke pipi gadis cantik berkulit putih itu. Hingga sekarang kulit wajah nya terasa ada cap lima jari.
"Aku tahu niat kalian bertiga itu sangat baik. Menjaga martabat keluarga agar tidak menjadi hinaan dalam kehidupan keluarga kalian. Tapi jalan yang di tempuh oleh kalian bertiga salah besar. Kesalahan kalian, kenapa tidak berbicara langsung kepada Tuan Muda." Sahut Ariani ikut berkomentar.
"Betul apa yang di katakan oleh Nona muda Ariani." Timpal Umi Aminah.
"Tapi kenapa Umi Aminah waktu di minta tolong sama Ayah dan Ibu Hani. Tidak bisa menolong nya.
"Nak Dewi Nak Indah. Biar Umi jelaskan kesalahpahaman waktu itu dan mungkin kedua Orang Tua kalian berdua sudah mengetahui nya. Tapi Indah dan Dewi belum di beritahu oleh nya.
##########
Malam itu ketika Umi dan Abah baru saja pulang dari kota Jakarta pukul 02 dini hari.
"Tok........!! "Tok.........!! "Tok............!!
"Abah siapa ya yang bertamu malam malam.?" Tanya Aminah yang baru saja mau masuk kedalam kamar untuk beristirahat.
"Mungkin tetangga kita. Biar Abah yang membukakan pintu nya. Abah pun berjalan setelah anggukan dari istrinya.
__ADS_1
Tak lama pintu pun di buka oleh Jalaludin, dan langsung menyapa kedua tamu itu.
"Ehk Bu Usman dan Pak Usman. Mari silahkan masuk." Kata Jaeludin, mereka pun langsung masuk dan duduk di kursi ruangan tamu.
"Pak Jalaludin sebelumnya kami berdua memohon maap telah bertamu malam malam mengganggu waktu istrahat anda." Ucapnya Usman dengan berbicara seramah mungkin.
"Ahk. Tidak apa apa. Ini juga baru saja pulang dari Jakarta. Emang ada keperluan apa ya.?" Tanya Jalaludin.
"Begini Pak Jaeludin. suami saya sedang terbelit hutang kepada pihak rentenir akibat kalah judi. Kalau ada uang simpanan saya mau pinjam dulu. Karna bila esok hari suami saya tidak bisa membayar hutang tersebut. Maka rumah dan sawah akan di sita." Ucap Istrinya Pak Usman. Kini yang berbicara Istri nya.
"Hmmmmmmmmm''. Emang berapa Hutang Pak Usman kalau saya boleh tahu.?" Tanya Jaeludin. Seketika hati mereka berdua bersinar ada harapan bahwa tetangga bisa mengatasi permasalahan nya itu.
"Semuanya dengan bunga nya 150 juta. Pak Jaeludin. Nanti setelah di bayar sama pihak rentenir itu. Sertifikat rumah boleh di pegang sama Pak Jaeludin sebagai jaminan hutang suami saya." Kata Bu Usman berharap di beri bantuan.
"Yaa....... Sudah kalau segitu mah kebetulan istri saya punya." Ucap Jaeludin.
Tiga hari kemudian Pak Usman dan Bu Usman datang lagi. Untuk meminjam uang lagi. Karna uang yang kemarin di kasih pinjam oleh Abah Jaeludin. Alasannya hilang entah kemana.
"Kok........ Bisa Pak Usman dan Bu Usman. Bisa hilang gitu.?" Tanya Jaeludin. Penasaran.
"Dengan Tangisan terisak Isak di hadapan Jaeludin dan Aminah. Mereka berdua menjelaskan satu sama lain. Hingga Jaeludin dan Aminah pun tidak tega melihat nya. Lalu di hadapan mereka berdua. Aminah pun Menceritakan semua nya tentang Orang Tua Hani melalui sambungan telepon.
Singkat cerita sesudah menelepon dengan anaknya. Harsya pun membantunya dan langsung mentransfer ke rekening Pak Usman. Hari itu juga. Dengan jaminan yang sesuai di ucapkan oleh pasangan suami-istri bahwa sertifikat akan di simpan di tangan Umi Aminah. Satu hari dua hari hingga satu Minggu. Kedua Orang Tua Hani tidak menyerahkan jaminan sertifikat rumah nya dan ketika Umi Aminah menghampiri kerumahnya. Rumah nya sudah di tempati pihak rentenir. Gunjingan gunjingan para tetangga pun terdengar bahwa Pak Usman dan istrinya datang berapa kali kerumahnya meminta bantuan. Tapi malah di usir oleh nya.
"Begitu lah Nak indah dan Nak Dewi cerita nya. Bukti transfer dari Anakku ke rekening Pak Usman sudah ada dalam Map dan obrolan malam itu juga udah ada. Karna di rumah Umi sudah di pasang CCTV. Silahkan Nak indah dan Dewi untuk melihat serta mendengar kan semua bukti bukti yang ada." Ucap Aminah panjang lebar menjelaskan tentang kesalahpahaman tersebut.
__ADS_1
PITNAH ITU LEBIH KEJAM DARI PADA PEMBUNUHAN." Gumam Kiayi Sepuh. Terdengar jelas oleh Jaeludin dan yang duduk di samping malam itu.
Hening malam itu di rumah Orang Tua Indah. Setelah penjelasan yang di berikan oleh Umi Aminah. Dewi dan Indah bersama Orang Tua nya masing masing melihat bukti bukti yang di berikan oleh Suhardi. Orang Tuan bener bener tak menyangka akan kelakuan dari anaknya.
"Salah Ayah. Apa hah......... Hingga hatimu sudah menjadi iblis." Bentak lelaki paruh baya kepada anaknya Dewi.
Dewi menunduk dan terisak menyesali semuanya. Termakan ucapan dan bujuk rayu sahabatnya yaitu Hani.
"Tuan Suhardi. Tuan Alex, kita berdua mohon. Tolong jangan penjarakan kami. Ku mohon ampuni kami.
Tuan Besar Suhardi dan Tuan Alex." Ucap Komariah ibu kandungnya Dewi seraya bibir nya gemetaran mulai berbicara. Saya tahu apa yang di lakukan putri saya dan kedua sahabatnya sangatlah tidak baik Tuan Tuan. Namun sebagai seorang ibu yang telah melahirkan nya. Saya sangat tega melihatnya mendekam nya di sel tahanan.
Dewi dan Indah tertunduk itu, air mata nya keluar dari kelopak mata mereka berdua, menyesal segala perbuatan yang telah ia lakukan kepada Tuan Muda Harsya. Atas hasutan dari Hani waktu itu.
"Maka dengan ini saya mohon kebijakan dari Tuan Besar dan Tuan Alex untuk tidak di bawa masalah ini ke jalur hukum." Lirih Komariah bersujud dan memohon pengampunan di hadapan Suhardi dan Alex. Suhardi segera mencegah Bu Komariah untuk bersujud kearah nya dan Alex.
Kesalahan kalian sudah tidak bisa terampuni. Kalau mau memohon ampunan dan meminta maap. Pergilah temui Tuan Muda bersama kedua Orang Tua kalian." Kata Suhardi menatap kearah Kiayi Sepuh. Dan tatapan nya di balas dengan anggukan serta senyuman.
"Ingat Kalian berdua saya hanya memandang kedua Orang Tua kalian. Seandainya Ibu mu tidak memohon. Sudah saya masukkan kalian berdua ke dalam penjara.
"Baik...... Terima Kasih Tuan Suhardi. Tuan Alex. Mudah mudahan Tuan Muda Harsya. Mau memaapkan saya dan Indah." Kata Dewi dengan bibir serak. Dia sudah tidak peduli lagi dengan sahabat nya satu lagi yaitu Hani.
!!Warning!! Wajib like dan komen. Setelah baca. Karna like dan komen itu gratis. Bila suka dengan karya author tambahkan Favorit atau vote nya.
Bersambung.
__ADS_1
################################