
Berita Pagi hari.
Salah satu stasiun televisi swasta memberitakan tentang dua kejadian antara siang dan malam di tempat yang berbeda.
Dalam siaran itu tampak wartawan sedang meliput keaadaan dalam kafe yang tampak berantakan tersebut.
Tampak juga mayat mayat yang tumpang tindih dengan wajah di sensor serta beberapa bagian genangan darah juga turut di sensor.
Dalam keterangan tersebut bahwa akibat kebrutalan masyarakat kepada petinggi organisasi yang sudah meresahkan masyarakat itu, dengan meninggalkan petinggi Genk Kobra Beracun, bahwa kehidupan masyarakat akan tenang dan damai. Terbukti dengan satu mayat yang telah mati dan tertumpuk dalam mayat mayat lainnya bahwa ada mayat Dani Rustandi selaku pemilik dan pembuat organisasi yang meresahkan masyarakat itu.
Menurut keterangan saksi mata yang menyaksikannya pembantaian di kafe tersebut yang tidak mau mengatakan nama nya.
Masyarakat berterima kasih banyak kepada orang orang yang telah membantai dan memusnahkan organisasi yang meresahkan masyarakat ini, mudah mudahan kedepannya tidak ada lagi organisasi yang merugikan masyarakat.
Lalu liputan pun berganti ke jalan penghubung antara jalan daratan dan jalan menuju pelabuhan tepatnya yang tidak jauh dengan pohon pohon kelapa sawit, di salah satu jalan mengabarkan beberapa mayat yang tergelatak dengan wajah penuh luka serta ada satu mayat yang mereka kenal adalah Ketua Genk Kobra Beracun.
Begitu lah bunyi kabar berita dari stasiun televisi swasta pagi hari itu.
*******************************************
Kabar tentang tewas nya dua petinggi Genk Kobra Beracun sampai ke telinga Naga Saki Sempur, Tuan Besar Simon dan Mister Kong Kong di negara nya masing masing.
Hari itu juga mereka bertiga melakukan janji temu di negara Jepang tepatnya di daerah kota Chiyoda untuk membahas langkah selanjutnya apakah perusahaan KOBRA COMPANY GRUP akan di ambil oleh perusahaan gabungan milik mereka bertiga atau pun tidak sama sekali.
Beberapa jam kemudian mereka berdua sudah berada di salah satu restoran termegah dan termahal di negara sakura itu.
"Simon, dan Kong Kong bagaimana langkah selanjut untuk tindakan kita terhadap perusahaan milik Gareng yang sudah meninggal? Tanya Naga Saki Sempur kepada mereka berdua.
"Tuan Naga Saki Sempur, kita berdua tidak dekat dengan Nona Sintia, tapi bila dengan Istrinya kita dekat, tetapi mereka sekarang sedang berada di balik jeruji besi." Jawab Simon.
"Untuk sementara waktu kita harus mendinginkan dulu perencanaan yang telah kita buat sebelum terbunuh nya Ruli Siregar Rusady alias Gareng." Saran dari Kong Kong.
"Tapi bila kita berdiam diri perusahaan KOBRA COMPANY GRUP akan bangkrut, pihak investor akan menarik saham saham nya." Kata Naga Saki Sempur.
"Itu lebih baik..........! Disaat perusahaan milik Gareng menuju kebangkrutan, lalu kita akan datang dengan dalih memberi bantuan dana kepada perusahaan tersebut, dan saya yakin Nona Sintia atau pun Nona Winda tidak akan menolaknya." Kong Kong memberi saran.
"Bukan kah Nona Winda itu akan lama menjalani hukumannya karna terbukti nya pembunuhan kepada Khabil Ardana.?" Tanya Naga Saki Sempur.
"Betul sekali Tuan' Naga Saki Sempur." Tapi tidak dengan Nona Sintia. Dia tidak di penjara bersama anak dari Dani Rustandi yaitu Nona Anastasia. Yang menjadi tersangka itu kedua Orang Tua nya." Jawab Kong Kong.
__ADS_1
"Begini saja Kong Kong dan Naga Saki Sempur, kita susupkan anak buah kita untuk memantau pergerakan perusahaan KOBRA COMPANY GRUP, sekaligus menjaga dan merayu Nona Sintia dan Nona Anastasia, agar mau mengikuti kita. " Saran Tuan Simon kepada mereka berdua.
"Bagaimana Kong Kong dan Naga Saki Sempur.? Tanya Tuan Simon karna belum menjawab saran yang Ia berikan.
"Baiklah aku setuju karna bagaimana pun cara nya aku mempunyai dendam kepada orang orang yang telah membantai dua puluh anak buah ku yang terlatih." Jawab Naga Saki Sempur.
"Aku juga ikut." Timpal Kong Kong.!!
"Kapan rencananya kita susupkan anak buah kita ke perusahaan dan anak anak dedengkot Genk Kobra Beracun.? Tanya Kong Kong.
"Nanti setelah situasi aman dan terkendali." Jawab Tuan Simon.
********************************************
Satu bulan kini telah berlalu pemuda yang bernama Harsya kini sudah keluar dari rumah sakit dan perusahaan sudah berganti nama menjadi ISMAIL FUTURE OF COMPANY. Dengan kantor pusat di salah satu kota terbesar di Jakarta.
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah, langit bersih tanpa awan menutupi nya. Semua orang menyambut hari ini dengan wajah ceria seperti matahari yang tidak malu menampilkan wujudnya.
Pagi ini Harsya tidak bisa tenang dada nya terus berdebar. Kakek dan Nenek serta Orang Tua angkat nya hanya tersenyum melihat pemuda itu mondar mandir.
"Cucuku duduk dulu dari tadi mondar mandir kaya setrikaan butut pusing Nenek ngeliatnya." Ucap Aisyah.
"Apalagi nanti kalau malam pertama sudah naik langsung tepar hahahahaha." Ledek Abdullah.
"Huh.......! Orang Tua tidak punya kerjaan bukan nya bantuin malah ngeledekin." Protes Harsya merasa jengkel kepada dua pasangan paruh baya itu.
"Sini Kakek bantuin tapi kamu harus tenang jangan mondar mandir mulu." Sahut Abdullah.
"Santai Aja, baru juga lamaran masa udah mati saja.? Sahut Abah Jaeludin.
"Jadi gimana dong Abah dan Kek? Tanya Harsya yang sudah duduk di antara Kakek dan Abah.
"Gini, Cucuku tarik napas dari hidung terus buang napas melalui mulut lakukan sebanyak lima kali. " Saran Kakek.
"Harsya lalu melakukan saran dari Kakek Abdullah, sekarang dia mulai tenang dan tidak gugup lagi.
Bagaimana sekarang perasaan mu cucuku.? Tanya Kakek Abdullah.
Alhamdulillah udah mendingan, tenang sekarang.'' Jawab Harsya.
__ADS_1
"Nah sekarang Cucuku siap siap sejam lagi kita akan berangkat kerumah calon mertua mu." Kekeh Kakek Abdullah.
"Baiklah Kek, " Jawab Harsya langsung menuju kamar mandi.
********************************************
Di kampung yang jauh hiruk pikuk tepat nya di kediaman rumah Kiayi Sepuh pada siang itu telah ramai dengan kedatangan keluarga dekat dan sahabat sahabat Halimah.
Dikamar Halimah telah berkumpul tiga sahabat Tuan Muda Harsya, Indah dan Dewi serta Hani. Tak lupa Fatimah dan Sri adik Syamsul juga ada mereka masih asyik menggoda Halimah yang sedang di rias oleh Dewi sahabatnya Harsya.
"Kak Halimah cantik deh jadi ingin juga." Ucap Fatimah Adiknya.
"Eh....! Kamu masih kecil. Masih sekolah juga jadi belum boleh," Timpal Indah.
"Ihk..... Kak Indah. Kan bukan sekarang, tapi nanti." Jawab Fatimah.
"Kalian asyik berdebat saja. Lihat bagaimana hasilnya.?" Tanya Dewi.
"Wow, Muantapppppp." Puji Indah dan Hani bersaman.
"Kak, Indah dan Kak Hani, bukan Muantapppppp..... Tapi mantap." Protes Fatimah.
"Yaaa itu maksud Kakak, Halimah cantik banget. Kayak bidadari yang turun dari langit langit." Ucap Hani.
"Cicak dong." Celetuk Fatimah.
"Aduh Hani, Gue di samain sama cicak dong? Protes Halimah.
"Gak cuma kelebihan kata aja." Bantah Hani.
"Gak usah berdebat, bentar lagi babang Harsya datang meminang" Sahut Dewi.
"Meminang kata kata kakak jadul banget." Celetuk Fatimah.
Hei..... Fatimah bisa nggak, gak usah protes. Sahut Dewi.
"Sory Kak.! Ucap Fatimah nyengir.
Bersambung.
__ADS_1