
“Aza, apa aku boleh memotong lidahmu?” Heksar langsung menyentuh pedang Hanzo di sebelahnya.
“Jangan potong saja, penggal dia! Dan mandi dengan magmanya,” Kers memanaskan suasana.
Sepertinya, pertemuan pertama mereka di sini memang takkan berjalan lancar. Mengingat Heksar Chimeral, Aza Ergo serta Hydragel Kers, memiliki kepribadian buruk dan hampir mirip dalam membuat kesal orang-orang di sekitarnya.
Tentu saja beberapa orang dengan pemikiran normal hanya bisa geleng-geleng kepala, mengingat ketiganya merupakan sosok terhormat dari bangsanya masing-masing.
“Jangan mengotori tempat ini.”
Empat kata namun mampu mendiamkan para pendengarnya. Logan Centrio tersenyum, karena pimpinan siren itu bisa menghentikan perdebatan. Memang tidak salah julukan salah satu pemimpin terkuat dipegang olehnya.
“Jadi? Kenapa kamu mengirimkan hadiah konyol itu?”
“Konyol apanya? Itu dari daging bangsawan empusa dan juga siren. Sepertinya Yang Mulia Heksar perlu bantuan untuk menilai daging berharga.”
Sungguh perkataan Aza Ergo menggelitik ketenangannya.
“Ayolah Heksar, jangan marah begitu. Apa kamu tidak tahu kalau emosi bisa menghambat pertumbuhanmu? Oh ya berapa tinggimu? Apa sampai sedadaku?” Kers juga ikut menambahkan. Tapi sambil terkekeh yang menimbulkan keributan.
Sepertinya, mereka bertiga sudah lupa dengan peringatan Blerda Sirena barusan. Seolah perbincangan sekarang, merupakan pertemuan santai antar teman. Nyatanya, dua petinggi chimera merasa tak enak melihat wajah gadis di depannya.
Langsung saja Hanzo menyikut pimpinan bangsanya yang masih saja tak mau kalah mengoceh melawan Kers dan Aza.
“Apa?”
Zarca dan Hanzo melotot padanya lalu mengarahkan pandangan ke depan. Tentu saja Heksar mengikuti sorot matanya, dan bertemu dengan tampang dingin Blerda di sana.
Seketika, suasana jadi hening karena perubahan ekspresi pemimpin siren.
“Sepertinya, Tuan-Tuan sekalian membutuhkan istirahat. Pelayanku sudah menyiapkan ruangan dan anda akan dituntun ke tempat peristirahatan masing-masing.”
Selesai mengatakannya, Blerda berdiri dan meninggalkan mereka. Punggung kupu-kupunya, ditatap lekat oleh sosok-sosok yang ditinggalkan. Entah seperti apa pemikiran Raja siren terhadap mereka tapi itu takkan mempengaruhi perdebatan di masing-masing kubu.
“Hampir saja. Kupikir dia akan menguliti kita,” Hanzo mengelus dadanya.
“Untung dikuliti, kalau dipenggal bagaimana? Aku tidak ingin mati muda,” Heksar menimpali.
“Itu gara-garamu Heksar, kau yang memulai perdebatan.”
“Bocah magma itu yang mulai!” Raja Chimera membela diri.
__ADS_1
“Ayolah, bocah? Siapa yang lebih pendek di sini?” Aza meledeknya.
“Kau—”
Zarca mulai frustasi. “Yang Mulia, tolong jangan berdebat lagi. Bisa-bisa Ratu Blerda mengusir kita dari sini.”
“Baguslah. Kalian bisa angkat kaki,” Kers tampak tersenyum puas. Tapi tangannya masih saja sibuk memegang keranjang buah berisi anggur-anggur kesayangannya.
Sepertinya, hanya Logan Centrio sebagai petinggi dracula yang normal di sana. Orang-orang di sekelilingnya, tampak tidak waras karena memperdebatkan hal konyol dan tak berguna.
Entah akan seperti apa pertemuan di Aula Kaca, mengingat sosok-sosok yang hadir, memiliki kepribadian di luar batas normal untuk diajak bicara.
Contohnya Raja hydra yang mengoceh tak jelas sambil memakan buah-buahannya. Ataupun Aza Ergo dengan mulut tak bersaringnya dan terlebih parahnya lagi, Heksar Chimeral yang tak mau mengalah dan suka mengancam.
Kenapa pemilik kekuasaan tertinggi di bangsa-bangsa malah dipegang orang-orang seperti ini? Sepertinya pertemuan takkan berjalan normal sebagaimana mestinya.
“Beltelgeuse ada apa?” Reoa melirik rekannya yang berhenti.
“Entahlah. Firasatku berbicara, kalau ini akan menjadi pertemuan yang sangat menyebalkan.”
Seorang laki-laki tertawa mendengar ocehannya. Dia seperti ksatria berkuda putih. Karena tunggangannya, senada dengan rambut dan pakaiannya. “Firasatmu tak pernah salah Orion. Kupikir, ini memang akan menjadi pertemuan paling menyebalkan sepanjang sejarah.”
Petinggi gyges sekaligus murid Hadesia yang dijuluki Ksatria Bintang itu pun menghela napas pelan karenanya. Sebab ia tahu apa maksud dari ucapan Serpens sang tangan kanan Raja.
Dirinya jadi sakit kepala, membayangkan sosok-sosok bermulut besar yang akan menempeli telinganya. Siapa lagi kalau bukan rekan-rekan seperguruannya di Hadesia dan beberapa orang tak normal di lainnya.
“Tenang saja. Kapan lagi kita akan terhibur seperti ini? Memang sangat disayangkan karena Tuan Aegayon tidak datang. Tapi, ayo kita nikmati pertemuan besarnya,” Serpens merangkul sang pemilik firasat yang hampir saja frustasi.
Di kawasan yang sangat jauh dari sana, seorang pemuda terlihat sedang menatap ke bawah jembatan. Menjatuhkan batu-batu kecil di tangan ke dasar jurang. Sambil bersenandung, dan sesekali rambut madunya disapu angin sepoi-sepoi.
Seseorang mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Menjulurkan kaki di ruang-ruang pegangan jembatan gantung. Dan digenggamannya, ada kristal hijau yang retak penampilannya.
“Kudengar siren mengadakan pertemuan. Kau tidak pergi?”
“Aku bukan Raja.”
“Tapi kakakmu sedang ke sana,” kristal pun di jatuhkan ke bawah.
Keduanya sama-sama menatap ke bongkahan kecil berkilau yang kemungkinan sudah sampai di dasar jurang.
“Kakak ya,” pemuda itu lalu terkekeh pelan. “Lalu, kenapa kamu tidak ke sana juga?”
__ADS_1
“Untuk apa dokter jenius sepertiku ke sana? Buang-buang waktuku saja.”
Senyum tipis terpancar dari dia yang mendengarkan. “Bangsa manusia pasti salut karena memiliki orang sombong sepertimu sebagai bagiannya.”
“Mereka terlalu salut sampai-sampai ingin mengikatku di sana,” keluh sosok yang mengaku Dokter itu.
“Sepertinya kau tak akur dengan bangsamu.”
“Bukannya tak akur. Tapi mereka terlalu menginginkan kejeniusanku. Bahkan aku sampai melupakan manga kesayanganku yang selalu menemaniku. Oh, Nami ... maafkan aku karena sudah lama tidak melihat dirimu. Aku pasti akan selalu setia padamu. Ooh ... Nami ...! Aku benar-benar mencintaimu,” ucapnya dengan tampang ingin terisak.
Tentu saja tingkah Dokter itu mulai terlihat tidak waras bagi sang pemuda. Dia hanya bisa menghela napas pelan sambil memamerkan senyuman yang lebar.
“Ayo kita pergi.”
“Cih sialan! Kau mengganggu fantasiku dengan Nami saja,” umpat laki-laki itu. “Makanya banyak orang yang cepat mati karena mengganggu kesenangan makhluk lain. Hei! Kau dengar aku tidak? Mengabaikan perkataan orang tua akan membuatmu durhaka. Sialan! Tunggu aku bocah!” kesal Dokter itu padanya.
Tapi, di kawasan bangsa hydra, Revtel terlihat sedang memainkan kacamatanya. Dirinya masih belum pergi dalam melakukan perjalanan ke kawasan siren.
Entah apa yang ia pikirkan karena guratan masam di wajahnya jelas terpampang nyata.
“Guru, anda masih belum pergi?”
“Apa aku harus pergi? Ada Kers di sana.”
“Revtel. Pergilah ke sana. Bagaimanapun anak itu pasti akan membuat masalah di pertemuan.”
“Karena itulah aku malas pergi mengingat dia hanya bisa menyemburkan air ke wajahku,” sosoknya mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tapi Kers, tak kusangka dia sudah berada di sana. Tampaknya telah terjadi hal tak yang terduga, karena Blerda sendiri yang mengirimkan surat seperti itu kepada kita.”
Revtel pun menoleh pada Tetua yang berbicara dengannya dan beralih ke arah muridnya. “Hea, bersiaplah. Kita akan pergi ke istana merah.”
“Baik Guru.”
“Aku penasaran apakah Aegayon akan muncul atau tidak.”
Wakil raja hydra pun menghela napas pelan. “Entahlah. Mengingat sepak terjangnya, aku tak yakin ia akan menampakkan batang hidungnya semudah itu sekarang.”
__ADS_1