Death Game

Death Game
Sembilan murid


__ADS_3

“Kenapa kau menyelamatkan mereka?” gumam Aza yang beruraian air mata. Sementara Revtel yang dirundung rasa bersalah karena tak sengaja membunuh para murid pun histeris sekarang. “Kenapa kau menyelamatkan mereka? Mereka pantas mati karena sudah membuat Laravell menderita!”


Dan serangan Aza pun membabi buta kepadanya. Tapi belum sempat menyentuh sang Pangeran berlabel haram, magma itu justru membeku karena tekanan udara.


“M-maafkan aku. M-maafkan aku,” ucap Revtel yang dilanda ketakutan. Padahal sosoknya hanya ingin menyelamatkan para murid, tapi siapa sangka justru meregangkan nyawa mereka.


“Kenapa kau minta maaf? Kalau kau ingin minta maaf, seharusnya kau biarkan aku membunuh para keparat itu!” kesal Aza kepadanya.


Pembicaraan tidak nyambung dan diselimuti emosi itu menjadi tontonan dari Cindaku. Masam rupanya, saat mendapati para guru besar telah tewas. Dan semua karena dua bocah dengan kemampuan di luar logikanya.


Sekarang, ia tak dapat lagi membendung kesabarannya. Dengan wajah agak tertunduk dan sorot mata menekan, ditatap tajamnya Aza Ergo yang marah di penglihatan.


Tiba-tiba sosoknya sudah berada di hadapan anak itu sambil diselimuti kobaran energi luar biasa. Melayangkan tinju ke arah sang petinggi muda yang terkesiap dengan kehadirannya.


Tapi, semua terhentikan oleh Hydragel Kers yang muncul di depannya. Menghentikan pukulan itu seolah tak ada artinya.


Bahkan terlebih parahnya lagi fisiknya jelas buruk rupa. Di mana tubuhnya berlubang akibat serangan Aza sebelumnya. Sekarang ia berdiri kokoh dengan kaki tenggelam pada genangan magma hampir selututnya.


“Kau.”


“Aku melihatnya, dari ingatan Loki. Kau yang menjadi penyimpang karena kekejaman Helga,” bisiknya tiba-tiba.   


Cindaku terkejut mendengarnya. Dia yang mengudara mulai menginjak tanah akhirnya. Sebab genangan magma Aza telah sirna.


“Maafkan aku, Yang Termulia,” gumamnya sambil memeluk Kers.


Tentunya hal tersebut dipandang diam oleh Aza. Dia yang sudah kembali kesadarannya, tak ada niat menyerang Kers. Sebab sosoknya tidak ada dendam kepadanya.


Entah apa yang dibisikkan Cindaku kepadanya, tapi rahang bocah hydra menegang karenanya. Dan perlahan ia angkat tangan seperti hendak menyerang. Tapi memang itulah yang dilakukan.


Dada wanita itu bolong sempurna akibat hujaman tiba-tiba dari Kers yang dipeluknya. Dan saat menarik tangannya, tampaklah sebuah jantung masih utuh kondisinya.


Bersamaan dengan berubahnya warna kulit gelap Cindaku menjadi kuning langsat namun merona. Tampilannya begitu cantik dibandingkan sebelumnya.


“Terima kasih, Yang Mulia,” lirihnya dan akhirnya jatuh tak berdaya.


Kers yang menyaksikan kematian wanita itu pun menghancurkan jantungnya. Dan dia berbalik ke arah sang petinggi empusa. Menatap lekat ke dalam bola mata di hadapan lalu tersenyum tiba-tiba.


“Tolong hentikan ini semua, Azkandia.”


Tapi, di tempat pertarungan Bartigo Aertia dan Vea Krusevka, empat murid yang tampak kesusahan melawannya akhirnya terkejut dengan kedatangan sesosok anak laki-laki.

__ADS_1


“Kau!” kaget Bartigo melihatnya.


Dan rupa berambut perak itu memamerkan kuda-kuda tiba-tiba. Sampai akhirnya tombak petir tercipta dengan cepatnya dan dihujamkan pada lawan yang diinginkan.


Walau sang guru besar dari gyges berhasil menghindarinya, tapi ternyata Thertera sudah berada di belakangnya. Dia pun mengayunkan senjata scodeaz (pengendali) dan mengenai punggung Bartigo.


“Ugh, kau—”


“Bartigo!” kaget Vea Krusevka. Dan kelengahannya pun menjadi lubang untuk kekalahannya.


Karena dari atas sana, Xavier Lucifero menghantamnya dengan jurusnya. Tekanan aneh yang muncul dari tangan itu berhasil melubangi tanah seperti serangan gravitasi luar biasa.


Dan sosok berambut perak pun menghujamnya dengan tombak petir yang menjadi ciri khasnya. Melubangi tubuh sang kurcaci tanpa iba.


Serangan dari kerjasama tanpa rencana itu pun membunuh Vea Krusevka. Sekarang yang tersisa hanyalah Bartigo Aertia.


“Kamu,” gumam Beltelgeuse Orion melihat sang pengendali petir.


Tiba-tiba, seseorang mendarat dengan sempurna di tengah-tengah mereka. Memamerkan senyuman tipis layaknya bocah sombong di depan mata.


Ia pun melewati Thertera dan menjambak rambut Bartigo Aertia dengan kasarnya.


“Kau! Apa yang mau kau lakukan?!” kaget Orion melihatnya.


Karena cengkeraman dari Xavier membuatnya sangat tidak berdaya. Dan para murid yang tersisa pun menonton kepergiannya dalam diam mereka.


Sampai akhirnya, suasana yang tak tahu lagi nuansanya menyambut kedatangan sosok dari empusa di tempat Aza.


Xavier tersenyum kepadanya.


“Aku tak tahu apa yang terjadi. Tapi aku ingin sekali membuatnya memakan es dan juga magma. Kalian bisa pinjamkan aku kemampuan kalian bukan?” kekehnya.


Kers yang mendengar itu pun mengernyitkan dahinya.


“Siapa kau?”


“Aku? Xavier Lucifero. Aku merlindia (penyihir) dari empusa.”


“Orang gila.”


Sosok itu tampak tidak peduli dan berjalan mendekati es Revtel. “Ini ada es, Guru. Ayo dimakan,” suruhnya sambil menyeret Bartigo. Tangannya pun memaksa kepala itu untuk menyentuh bongkahan dingin di sana.

__ADS_1


Sampai akhirnya wajah sang guru besar membeku tiba-tiba akibat ulahnya.


“Lho? Apa yang terjadi? Kenapa malah begini?” kagetnya.


Revtel yang masih terisak dalam rasa bersalah, hanya memilih menundukkan kepala.


“Semuanya!” teriak Trempusa tiba-tiba.


Dan dirinya pun terkejut melihat pemandangan di depan mata. Di mana banyaknya bongkahan es di sana. Juga beberapa mayat yang sudah membeku walau masih tersisa sedikit penampakan tubuhnya.


“Azkandia,” gumam Orion yang menghampirinya. Pilu rasanya, menyaksikan petinggi muda itu menangis sambil memeluk sang saudara. Tangannya pun perlahan terulur lalu mengelus kepala Aza.


Mungkin bermaksud untuk menenangkan bocah empusa.


Tiba-tiba Blerda jatuh di tengah-tengah mereka dengan pijakan yang mendarat sempurna.


“Jadi, apa tak ada yang ingin bertarung lagi?” ucapnya tiba-tiba.


“Kau,” Kers menyelanya.


“Sembilan murid yang tersisa, jika ada yang ingin saling menyerang dipersilakan,” ucapnya seolah memprovokasi mereka.


“Apa kamu tidak lihat ada yang sedang berduka?” tukas Thertera dengan nada tidak suka.


Tapi Blerda hanya meliriknya dengan angkuhnya.


“Sikap yang pantas untuk seseorang yang kerjanya hanya menonton saja,” lanjut Lascarzio Hybrida. Tentunya, dibalas senyum oleh gadis siren.


Dia pun menunjuk ke arah langit.


“Sebentar lagi akan hujan,” ucap Orion tiba-tiba. Blerda pun langsung menoleh ke arahnya, karena anak itu mengatakan apa yang ingin disebutkannya. “Ayo kita kuburkan kakakmu, Azkandia.”


Tapi, sepertinya sulit untuk menghentikan tangis sang petinggi muda. Mengingat tak satu pun dari mereka tahu kalau dia sudah kehilangan untuk yang ketiga kalinya.


Sekarang, hanya tersisa dirinya. Sebatang kara, tanpa ada ibu, ayah dan kakak yang seharusnya bersamanya. Aza Ergo terlalu muda untuk kehilangan semua.


“Revtel?” panggil Kers tiba-tiba. Sosok terisak itu pun disentuh olehnya. Tapi, kejutan tak terduga malah terjadi. Karena tangan sang adik sepupu membeku dibuatnya.


“Kers!” pekik Revtel yang kaget melihatnya. “M-maafkan aku, Kers! M-maafkan ak—”


Terdiam. Dirinya yang panik pun memegang lengan adiknya. Tapi hasilnya sekarang hampir separuh badan Kers membeku karenanya.

__ADS_1


“Kers!” teriaknya beruraian air mata. Sontak saja Revtel mundur ke belakang seperti orang ketakutan. Ia tampak histeris sekarang.


__ADS_2