Death Game

Death Game
Sekaratnya para petarung


__ADS_3

Bergemuruh iramanya.


Pertarungan antara Aegayon Cottia juga Sif Valhalla melawan guru mereka. Bahkan luka-luka menghiasi tubuh masing-masingnya. Pertanda kalau pertempuran ini akan menjadi hidup dan mati ketiganya.


Tapi, perbedaannya memanglah terlalu besar.


Reygan Cottia bukanlah lawan mereka. Setiap goresan pedangnya melukai topeng sang putra. Dan Sif Valhalla begitu berjuang menahan serangannya.


Sampai sebuah bilah melesat maju dan mengusik sang penyimpang. “Satu persatu terus berdatangan,” kekehnya berhasil menangkap senjata itu. “Laraquel, apa kau masih membenciku?”


Sosok berwajah setengah tengkorak itu pun memiringkan wajah. “Menurutmu?” tangannya terangkat, sehingga pedangnya yang dicengkeram Reygan tertarik sekarang. Kembali padanya, dan menimbulkan sayatan dalam di telapak tangan gurunya. “Bukankah aneh jika aku tidak membencimu?”


“Padahal kau banyak belajar dariku.”


Laraquel diam. Diliriknya sekelilingnya. Begitu banyak korban yang terluka akibat melawan sang penyimpang.


“Ya. Tapi tindakanmu sangatlah keterlaluan.”


“Tak ada yang keterlaluan dalam mengorbankan suatu bangsa.”


“Tutup mulutmu, keparat!”


Reygan Cottia pun terkesiap mendengar teriakan itu. Terlebih lagi tanaman berapi muncul untuk melilit tubuhnya. Sontak saja ia menoleh pada tersangka yang baru datang.


“Kau, masih hidup?” ucapnya menatap tak percaya.


Cley Vortha sang Dokter gila. Telah hadir dengan ekspresi menakutkannya.


“D-dia!” Beltelgeuse kaget karena mengenali sosok asing di depan mata.


“Berikan peti mati itu,” tekan Cley memandang tajam sang penyimpang.


Tapi Reygan malah tersenyum menanggapinya. “Jika kau begitu menginginkannya, maka kemarilah. Ambil kembali dariku,” sambil menggerakkan jari seolah memanggil sang Dokter untuk mendekat.


“Akan kupotong tangan itu,” wajah sang Dokter jenius pun mulai tertunduk.


Akan tetapi, bukannya serangan yang pecah di antara mereka, melainkan hujan pedang muncul tiba-tiba di atas kepala Reygan Cottia.


Beberapa orang pun terpekik menyaksikannya. Bersamaan dengan mulut Xavier Lucifero yang terbuka dan menghempaskan gelompang kejut miliknya. Arena bertarung pun semakin porak-poranda karena kehadiran mereka.


“Hei, Dokter! Obati saja orang-orang! Biar aku yang menanganinya!” teriak Reve Nel Keres tiba-tiba.


Ya, para tamu tak diundang itu telah hadir untuk memeriahkan nuansa pertarungan. Bahkan mungkin bukan hanya mereka, kehadiran Thertera Aszeria bersama Arigan Arentio pun turut mengejutkan Beltelgeuse Orion yang menyaksikan.


“Aza!” pekik kaget Thertera melihatnya. Karena lokasinya yang paling dekat, dihampirinya adik seperguruan itu.

__ADS_1


“Ini neraka,” gemetar Toz melihatnya.


“Tak ada waktu untuk ketakutan! Cepat pindahkan orang-orang!” ucap Rexcel Sirenca. Bukan hanya dirinya, Doxia sudah melesat untuk membantu yang terluka.


“Riz, buatlah pelindung,” suruh Horusca. Seolah-olah dirinya sudah tahu harus melakukan apa.


Sementara Cley Vortha sang dokter jenius pun mendaratkan kaki di dekat mereka. Tatapannya yang tajam pun beradu dengan elftraz (penyembuh) milik kelompok Riz Alea.


“Sepertinya bala bantuan sudah datang ya. Yah ... seorang pahlawan itu memang harus muncul di saat terakhir bukan?”


Semuanya yang masih baik-baik saja kondisinya pun menoleh pada sumber suara. Sang Raja, dengan pesona luar biasa juga keranjang anggur di tangannya pun berdiri di atap sebuah bangunan yang hampir hancur.


“Kers,” gumam Lascarzio Hybrida. Sosoknya berdiri di dekat Trempusa yang di rantai. Perlahan senyum pun mengembang di bibirnya, terlebih ada getaran aneh di dada.


Hal serupa juga terjadi pada sosok pemegang puncak kekuasaan hydra. Ada sensasi tak biasa mencengkeram dirinya dan perlahan ia pun melirik ke dua titik sumbernya.


Pada sang saudara seperguruan yang memegang lentera hancur juga sosok asing di tubuh Reve Nel Keres.


“Jadi, apa masih ada tamu yang lain lagi?” Reygan pun menyeringai. “Jika masih ada silakan perlihatkan wajah kalian. Bukankah ini akan sangat menyenangkan?” kekehnya.


Akan tetapi suasana mendadak sunyi begitu saja. Beberapa orang yang jelas-jelas akan mengarahkan pedangnya pada sang penyimpang pun saling berbagi pandangan.


Sampai tiba-tiba retakan besar muncul di tengah-tengah mereka akan kehadiran tak terduga.


Seorang pak tua, juga Ellio dan Jion yang hadir bersamanya.


Lain halnya Reve, dia tak peduli pada tiga tamu itu. Karena tujuannya adalah Reygan Cottia.


“Bohong! Kenapa Jion dan Ellio malah di sini?!” pekik kaget Toz melihatnya.


Bagaimanapun juga, mereka jelas-jelas berpisah di jalan sebelumnya.


“Siapa sangka, kalau ada kehebohan menarik di tanah gyges,” lirih pria tua yang bersama Jion dan Ellio. Lambat laun tawa aneh pun berkumandang di mulutnya dan ia pun menoleh pada sang penyimpang adidaya. “Sudah lama ya. Tak kusangka, akhirnya kita bisa bertemu lagi sahabatku, wahai Reygan Cottia.”


Orang-orang pun tersentak mendengarnya. Terlebih ada lingkaran aneh yang mendadak muncul mengelilingi sang pria tua. Dan akibatnya perubahan beraroma darah menyeruak darinya.


Memamerkan rupa yang berbeda juga kokoh penampilannya.   


“Kau!” kaget Kuyang dari kejauhan.


“Leduo Perseus. Tak kusangka kau akan hidup kembali,” semringah Reygan saat mengatakannya.


Sementara para pendengar terbelalak dibuatnya. Tubuh mereka bergetar saat menyaksikan pesona pria tua menjadi sosok berkepala plontos namun dihiasi ukiran aneh di sana. Tubuh berotot dan pakaian mirip Dewa Perang pun melukiskan luar raga.


Dialah Leduo Perseus. Putra Zeus yang sudah membantai Kraken, peliharaan sang Dewa Hades di era berdarah mereka. 

__ADS_1


“K-kenapa sosok legenda itu bisa ada di sini?” syok Aegayon Cottia.


“Persetan orang itu! Aku akan membunuhmu Reygan Cottia!” teriak Reve akhirnya. Langit pun bergemuruh akibat kemunculan ribuan pedang di atas mereka. Bersamaan dengan aura merah kehitaman yang menyelimutinya.


“Itu, sangat mengagumkan!” takjub Perseus melihatnya. Dan tanpa ampun Reve pun menghantamkan serangan pada sang penyimpang. Namun dalam sekali serangan petir Reygan, hujan senjata itu langsung berubah menjadi asap.


“Dasar bocah keras kepala,” pria berwajah tiga itu menatap remeh lawannya. “Jika kau ingin menghabisiku, maka kemarilah. Keluarkan semua milikmu,” dirinya pun melangkah ke arah sang pemuda.


Dengan mengepal erat tangan, Reve pun menundukkan wajahnya. Menyisakan sedikit penglihatan tajam yang bisa disaksikan lawannya.


“T-tuan, sepertinya mereka ingin memakan anda,” ucap Jion tiba-tiba saat matanya menangkap ekspresi orang-orang di sekitar. Jelas tiada keramahan yang tertera, mengingat masing-masing punya dendam pada Reygan Cottia.


 Lain halnya Thertera Aszeria juga Arigan Arentio. Mereka yang mencoba menolong Aza, begitu kesusahan menarik tubuh sang pemuda. Entah apa yang terjadi, seolah batu nan menghujam raga sang petinggi enggan melepaskannya.


Padahal jika dibiarkan ia akan mati karena kehabisan darah. Begitu pula para Raja muda lainnya, dengan usaha Beltelgeuse Orion, Rexcel Sirenca, Doxia Mero juga Toz Nidiel, mereka berhasil memindahkan tubuh-tubuh sekarat itu ke arah elftraz (penyembuh).


Pandangan Orion pun teralihkan pada Izanami Forseti yang jauh dari mereka.


“Hei, Pak Tua!” panggil Kers tiba-tiba. Leduo Perseus pun melirik ke arahnya lewat sudut mata. “Aku tak peduli kau siapa, tapi jika kau ikut campur, tanggung sendiri akibatnya,” sambil tangan memasukkan anggur ke dalam mulutnya.


“Begitu? Baiklah. Majulah,” dan sosoknya pun menghadap tepat ke arah Raja hydra.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


  


__ADS_2