Death Game

Death Game
Ketahuan


__ADS_3

“Lupakan itu! Lagi pula situasi kita cukup buruk,” ujar Zancro sambil memainkan tombak apinya.


Crea menatap bingung, “cukup buruk? Kenapa?”


“Kalian tak merasa aneh? Kita sama-sama merasakan ada keberadaan orang di sekitar sini, tapi sekarang tak ada siapa-siapa. Bukankah ini sangat mencurigakan?”


“Benar juga, tidak mungkin kita berempat sama-sama keliru,” Aos menyeringai, ia pun


mengusap-usap tato di wajahnya.


“Aku yakin mereka lebih dari dua orang, mungkin saja ada elftraz (penyembuh) di antaranya,” sambung pria berkumis tebal.


“Kalau begitu kenapa tidak kita pastikan saja?” Aos mengangkat tangannya, sebuah gumpalan perak berkumpul di sana, mencoba membentuk bola padat berputaran cepat.


“Firasatku buruk,” batin mata-mata yang mengintai di atas.


“Firasatku buruk,” pungkas pemuda berambut merah tiba-tiba.


“Nedierma (menyebar)” ucap Aos.


Dan benar saja, apa yang dicemaskan para pengintai di atas pohon benar-benar terjadi. Bola padat di tangan Aos berubah begitu ia mengucapkan mantra, menjadi ribuan jarum dan terbang menyebar ke semua arah.


“Sial!” pekik Doxia.


Ia dan mata-mata sama-sama mengeluarkan senjata andalan dan menebas jarum-jarum yang mengarah ke mereka.


“Praang! Prang! Kraak! Kraak! Krak!” suara dari jarum-jarum besi yang menembus kristal snakeya (racun ular) dan beradu dengan senjata Doxia serta mata-mata pun memecah suasana.


“Cara termudah menemukan mereka bukan?” Aos menyunggingkan senyum angkuh di bibirnya.


“Sial!” umpat Doxia.


Sementara kaki Riz bergetar takut, terlebih lagi ada sebuah jarum yang berhasil menggores bahunya membuat kaki Riz terduduk lemas.


“Sepertinya kalian tidak mau turun, bagaimana menurutmu Zancro?”


Zancro menatap balik ke arah Aos, senyum keduanya tampak mencurigakan. Tiba-tiba, Zancro memutar-mutar tombak dengan lihainya, membentuk bunga api di kepalanya. “Cerma! (Terbakarlah!)” ucapnya melempar tombak ke arah batang pohon kamper.


“Bwuush!” sebuah semburan api menjalar dari tombak yang tertancap, membakar pohon secara cepat menuju puncak.


“Lakukan sesuatu sebelum apinya membakar kita!” perintah Doxia pada rambut merah.


“Aterma! (Tumbuhlah!)” tiba-tiba sebuah pohon besar berdaun sangat lebat tumbuh di samping pohon yang terbakar. “Lompat!” ucap pemuda berambut merah.


Tanpa menunggu lama, ia menjatuhkan tubuhnya ke belakang yang mengundang kaget orang-orang di sekitar.


“Sial! Ayo!” ucap mata-mata itu menarik kerah baju Riz.


“Aaahh!” pekik keras Riz.


Mereka melompat ke belakang, mengikuti pemuda berambut merah yang sudah terlanjur menjatuhkan tubuhnya. Doxia juga mengiringi, jika ia terlambat sedikit saja, sudah bisa dipastikan kakinya akan terbakar karena kobaran api hampir mencapainya.


“Buaagh!” suara tubuh Riz yang terhempas beradu dengan daun-daun pohon. “Hah ... hah ...” napas Riz terengah-engah, memandang kaget ke sekeliling.


Tubuhnya tak terasa sakit, karena mereka menabrak kumpulan daun-daun pohon yang sangat banyak dan lebar.

__ADS_1


“I-ini,” gumamnya.


“Memang suatu keuntungan bisa memiliki elftraz (penyembuh), itu karena kemampuan tanaman mereka sangat mengganggu,” oceh Crea menatap sinis.


“Kau benar, kenapa tidak kita mulai saja darinya?! Membunuh elftraz (penyembuh) duluan adalah cara terbaik,” sambung Aos.


“Tunggu dulu br*ngs*k! Datang-datang main katakan bunuh saja! Kalian pikir kalian siapa? Kami lebih dulu berada di sini!” oceh Doxia.


“Hah? Apa yang dikatakan keparat ini? Apa kau tidak tahu siapa kami?” tatapan Aos menajam.


“Dracula bukan? Kau pikir kami bodoh tidak bisa melihat taring jelek kalian?”


“Hoi! Kau memprovokasinya!” sela mata-mata sambil memukul bahu Doxia.


“Sakit bodoh! Mau provokasi atau tidak, aku hanya mengatakan kenyataan! Apa yang salah dengan itu?!”


“Kau!” geram si mata-mata.


“Kau! Aromamu, bangsa siren? Hhahaha ... apa yang dilakukan makhluk penggoda sepertimu bersama manusia?” Zancro menyeringai.


Mata-mata itu menatap tajam dan mengepalkan tangan, bisa terlihat raut amarah mulai mempengaruhinya.


“Lihat Zancro! Sepertinya dia kesal dengan perkataanmu! Apa kita bisa melihat pesona dari bulu burung di badannya?” sindir Aos.


Napas Rexcel memburu mendengarnya, tampak rahangnya menegang dengan aura yang terasa berbahaya.


“Tutup mulutmu bocah! Kau bahkan lebih tak terhormat darinya! Kenapa kalian tidak cari saja darah kodok untuk melumuri gigi berduri itu?! Menjengkelkan saja!” gerutu Doxia.


“Kepar*t! Barusan apa yang kau katakan?!” Tato di wajah Aos mendadak berasap dengan tatapan mendelik yang aneh.


“A-apa maksudmu?” tanggap Riz.


“Biar aku yang maju, akan kukoyak-koyak tubuh makhluk itu dan menaruh darahnya di piring sajian,” Aos menyeringai lebar.


“H-hei, apa kau tak bisa melakukan sesuatu dengan pohonmu?” bisik Doxia pada pemuda berambut merah.


“Melakukan apa?”


“Apa kau tak lihat dia? Bukankah seharusnya kita kabur? Mereka dracula!”


“Persetan mereka dracula atau dewa! Akan kusobek mulut itu karena sudah berani menghina bangsaku!” Rexcel mengayunkan pedang di tangannya. Sebuah aura merah langsung berkobar di pedang menimbulkan tekanan yang menyapu udara.


“Oi! Oi! Apa kau seri-”


“Kraak!” Rexcel sudah terlanjur melompat dari sana sebelum Doxia menyelesaikan ucapannya.


“Mati kau!” teriaknya.


“Traang!” sebuah tombak menahan pedang Rexcel yang menyerang Aos.


“Apa yang kau lakukan? Bukankah sudah kukatakan akan menanganinya sendiri?”


“Trang! Traang! Trang!” suara pedang dan tombak yang saling beradu. Tanpa peduli siapa lawannya, Rexcel tetap mengayunkan pedang dengan sengit. “Traang!” pada ayunan terakhir Zancro terpukul mundur ke belakang beberapa langkah.


“Zancro! Apa yang kau lakukan? Sudah kukatakan akan menanganinya sendiri!” teriak Aos mengulangi ucapannya.

__ADS_1


“Jangan sombong! Kau pikir apa yang akan terjadi jika kita berlama-lama?”


Aos terdiam, asap masih menggelora di tato wajahnya. “Kalau begitu kita tak perlu buang-buang waktu lagi, ayo!” Ia mengangkat kedua tangannya ke atas, kumpulan serbuk perlahan berkumpul di tangannya membentuk kristal besi yang berkilau.


“Kau! Pengendali besi!” Rexcel menatap tajam ke arahnya.


“Nedierma! (Menyebar!)” sahut Aos tiba-tiba. Mendadak, kristal besi itu terpecah menjadi ribuan jarum panjang dan menyerbunya.


“Sial!” Rexcel menyentuh mata pedang dan melukai tangannya. Pedang berlumuran darah itu langsung terbakar aura merah sebesar tubuhnya.


“Mati, kau ...” ucap Aos dengan suara yang mulai tertelan udara saking pelannya.


Pemandangan yang ada di depannya benar-benar membuat mata terbelalak. Tak hanya dirinya, bahkan ketiga dracula yang menyaksikan ekspresinya juga sama.


Sebelum sempat mengenai Rexcel dan senjatanya, ribuan jarum itu sudah tertahan oleh kumpulan bunga-bunga tebal yang terbuat dari es, membuat orang-orang di sana terbungkam menatapnya.


Sebuah tangan terjulur diselimuti hawa dingin, tampak terarah kepada mereka. Sang pemiliknya pun mengucapkan kata yang tak terduga.


“Ini hutan, kita tak tahu siapa saja yang ada di sini. Lagi pula tempat ini berdekatan dengan sarang chimera. Aku yakin kalian tahu apa maksudnya,” tukas pemuda berambut merah menurunkan tangannya.


“Siapa kau?” tanya Crea dengan ekspresi keruh.


“Aku hanya tak ingin terlibat keributan yang lebih buruk. Kalian takkan sebodoh itu untuk berhadapan dengan kami bukan? Jika lapar, cari saja darah binatang. Bukankah itu yang selalu dilakukan para dracula?” pemuda berambut merah itu tersenyum.


“Jangan memperburuk suasana hydra, dengan kegilaan dracula rendahan seperti kalian,” lanjutnya. Sekarang ia menyipitkan mata ke arah mereka.


“Ayo kita pergi Aos!” ajak pria berkumis tebal tiba-tiba.


Aos masih terdiam dengan tatapan tajam yang mengarah pada pemuda berambut merah.


“Ayo, lebih baik kita segera pergi dari sini,” Zancro pun menarik tangannya, sehingga Aos berpaling. Tapi sebelum sempat ia membalikkan tubuh, Aos pun mengucapkan sesuatu yang tak terduga.


“Aku akan mengingatmu, dan bila saatnya tiba, kau pasti kubunuh. Karena itu jangan mati dulu sebelum kita bertemu lagi.” Para dracula itu pun pergi meninggalkan mereka.


Riz yang dari tadi hanya diam menatap pertarungan mereka, dadanya pun naik turun karena menahan napas terlalu lama.


“Kupikir kita akan mati,” lirih Riz sambil menopangkan tangan ke depan.


“Kau! Siapa kau sebenarnya?! Bagaimana bisa kau memiliki kemampuan seperti itu?!” tanya Doxia, ia pun menarik lengan pemuda berambut merah secara kasar.


“Aku? Aku Horusca, guider elftraz (penyembuh) yang kebetulan sedang berkeliaran saja,” jelas pemuda berambut merah memperkenalkan dirinya.


“Diam bodoh! Aku juga tahu kau elftraz (penyembuh) dari cincin dan kekuatanmu! Tapi bukan itu maksudku, hanya guider level bangsawan yang bisa mengubah elemen tanamannya!”


“Lalu?”


“Apa maksudmu lalu? Tentu saja itu mengejutkan! Apa kau guider level bangsawan?”


“Entahlah, apa pun levelku itu takkan merugikan kalian.”


“Apa maksudmu? Bagaimana bisa guider sepertimu berkeliaran sesantai ini? Biasanya orang-orang seperti kalian hidup senang di Guidisea,” oceh Doxia tak henti-hentinya.


“Kenapa aku harus hidup senang di kota kotor itu? Aku tidak mengerti dengan kalian. Sepertinya yang ada di otak manusia memang cuma kesenangan saja ya.”


Ketiganya sama-sama terbungkam sejenak, Rexcel pun membalas wajah pemuda berambut merah dengan tatapan sinis, “kau! Kau buka manusia?”

__ADS_1


“Aku tak ingat pernah mengatakannya,” ia pun memiringkan kepala dengan senyum hangat di bibir merahnya.


__ADS_2