
Blerda Sirena terdiam sejenak sambil matanya kembali memandangi tanam makam sang petinggi bangsanya.
Diiringi bisik-bisik berkumandang pelan di sekitarnya, bertanya-tanya kenapa Arjuna yang merupakan salah satu assandia (petarung) bisa mati begitu saja.
“Yang Mulia. Setelah ini, ada yang ingin kubicarakan dengan anda,” gumam salah satu Tetua sekaligus bangsawan dari siren. Dia berdiri di kanan belakang Blerda, dan tak dibalas apa pun olehnya. Kecuali netra masih mengarah pada gundukan di depannya.
“A-anakku salah apa? Kenapa dia harus mati begitu? A-apa yang sebenarnya terjadi Yang Mulia,” tanya seorang wanita kepadanya.
Wajahnya begitu sendu menatap Raja tertinggi bangsanya. Hatinya hancur akan nasib yang menimpa putranya.
Terlebih lagi, jasad yang datang ke hadapannya adalah pasir dengan hiasan tak asing baginya. Tentu saja itu merupakan pakaian serta gelang milik anak tercintanya. Arjuna, sang pemanah telah gugur dalam misinya.
Dan perlahan Blerda pun menundukkan kepala. Menjatuhkan tubuhnya, untuk sejajar dengan wanita yang sedang memeluk makam petingginya. Dihapusnya air mata sosok di hadapannya, lalu melirihkan kata tak terduga sebagai balasannya.
Orang-orang yang hadir di sana pun terdiam karenanya.
“Arjuna telah tiada, karena memenuhi janjinya. Dia berhasil dalam misinya, sebagai petinggi terbaik di bangsanya. Tak ada yang bisa menggantikannya, dia pergi meninggalkan semua namun jiwanya masih bersama dengan kita. Dan sosoknya akan selalu tertinggal di hati mereka yang mengingatnya. Maafkan aku Nyonya. Karena dirimu, harus merelakan kepergian putramu. Sekali lagi maafkan aku, sebagai pemimpin di bangsamu.”
Dan Ratu siren pun memeluk wanita itu dengan eratnya. Membuat Ibu Arjuna kian terisak akibat perkataannya.
Beberapa orang yang mendengar itu juga ikut menangis karenanya.
Terlebih lagi Toyotomi dan juga Zarca, yang menyaksikan kematian ketua kelompok mereka di depan matanya. Sungguh rasa bersalah menyelimuti keduanya.
Walau tidak berasal dari darah yang sama, bahkan jika prinsip kehidupan mereka berbeda, tapi ketiganya sudah memulai garis pertemanannya. Diiringi langkah dalam melakukan misi perburuan sebagaimana mestinya.
Ikatan yang tercipta bukanlah suatu kebohongan. Bahkan jika hanya sebentar saja, dua petinggi itu benar-benar merasa kehilangan.
Seperti separuh hidupnya menguap mengudara meninggalkan kebahagiaan hidup mereka. Mungkin itulah ikatan pertemanan yang sesungguhnya.
“Sungguh kata-kata yang bijaksana Yang Mulia. Aku jadi terharu mendengarnya,” ucap Tetua berkepala botak itu padanya.
__ADS_1
Sosok yang diajak bicara hanya diam saja, walau manik matanya jelas memandang lekat pada rupa penuh kerutan di penglihatannya.
“Yang ingin aku bicarakan adalah keadaan istana bangsa kita. Bahkan jika area sayap kiri tidak hancur dan bisa menampung banyak orang, tapi Tetua lain jelas bertanya-tanya dan ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya. Terlalu banyak gosip yang menyebutkan kalau telah terjadi pertarungan antara anda dan juga para Raja lainnya. Terlebih pelindung ilusi yang menutupi kejadian itu sangat mencurigakan, sehingga orang luar tak bisa melihatnya kecuali kalian yang berada di dalamnya. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Yang Mulia.”
“Hanya serangan besar-besaran dari ghoul yang entah berasal dari mana,” jawab singkat Blerda atas ocehan panjang lebar pak tua di depannya.
“Benarkah? Apa anda yakin? Karena ini sangat aneh mengingat para pelayan dan pengawal bersikap seperti tidak tahu apa-apa. Seolah mulut mereka sudah diperintahkan untuk tidak mengatakan apa pun pada dunia luar.”
Sungguh blak-blakan dirinya. Tak berbasa-basi dalam berbicara. Seumuran dengan Tuan Criber yang menjadi petinggi namun orang tua ini sangat suka mencari tahu tanpa peduli siapa lawan bicaranya.
“Dan itulah kelebihan mereka sebagai bawahan kita. Menutup mulut sesuai perintah atasannya. Apa yang terjadi pada istanaku, akan menjadi urusanku. Kalau begitu aku permisi, Tetua.”
Blerda pun pamit meninggalkannya. Membuat orang itu jadi mendengus kesal kepadanya. “Dasar gadis sombong, akan kupastikan untuk mencari tahu apa yang terjadi. Dan jika itu berhubungan denganmu, maka kau pasti mati!” umpatnya dan sayangnya tak terdengar oleh Ratunya.
“Otama,” panggil Blerda saat langkahnya melewati bawahannya. “Pastikan tak ada satu pun penghuni istana yang membocorkan kejadian sebenarnya. Ini akan menyusahkan, jika para Tetua tahu kalau kerusakan disebabkan olehku dan juga Raja lainnya.”
“Baik Yang Mulia. Sebelumnya Tuan Criber dan Kepala Pelayan serta Ketua pasukan juga mengatakan hal serupa. Jadi, semua pasti aman di tangan mereka.”
“Baik Yang Mulia,” angguk Otama.
Seperti itulah cara Blerda melindungi serta mengawasi kediamannya. Istana merah, hunian megah itu sebenarnya diselimuti pelindung ilusi. Dan orang-orang yang menanganinya merupakan sosok-sosok terpercaya pilihannya.
Semua dilakukan agar tak ada rakyat yang tahu kalau kekacauan sering terjadi di dalam istananya. Mengingat kerasukan sebelumnya, sudah pernah dialami para Raja terdahulunya.
Mereka bukan hanya memporak-porandakan istana, tapi juga membunuh penghuninya. Salah satu kutukan turun temurun di dalam keluarga murni Sirena.
Dan ini sudah ketiga kalinya bagi Blerda, menggila seperti itu. Sebuah keberuntungan karena yang sekarang terjadi di hadapan Para Raja dan petinggi terpercaya.
Mengingat sebelumnya, dua tetua dan seorang tabib pun harus bertaruh nyawa untuk menghentikannya. Demi keutuhan bangsa siren, agar Blerda tidak mati sia-sia di tangan orang-orang yang mengetahui rahasianya.
Bagaimanapun juga, dia salah satu yang terkuat saat ini untuk bisa berdiri di tahta dan bersaing dengan para Raja di dunia Guide.
__ADS_1
Keseimbangan harus tetap terjaga, walau banyak yang menentang para Raja muda untuk berkuasa di singgasana. Karena kehidupan pemerintahan itu tak semudah dan semewah pakaian mereka, ada banyak beban dan juga nyawa yang harus dibayarkan sebagai gantinya.
Beberapa saat kemudian di Aula Kaca.
“Kutukan?” kaget Heksar mendengar ocehan Tuan Criber. “Jadi wujud mengerikan Blerda itu sebuah kutukan?”
“Benar Yang Mulia.”
“Baguslah. Kupikir kamu gadis kotor yang tercemar, untung saja itu cuma kutukan. Bersyukurlah Blerda, sekarang kamu bebas dari kecurigaan kami semua.”
Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Kecuali melirik sinis pada Raja di hadapannya.
“Jadi, apa siren tidak ada niat untuk mematahkannya?” Trempusa ikut bersuara.
“Sayangnya tidak semudah itu Yang Mulia. Kutukan para Sirena, merupakan perjanjian mereka dengan Raja Ghoul dahulu kala. Kecuali Raja Iblis itu muncul di hadapan kita, mungkin akan ada harapan bagi Ratu Blerda untuk berbicara dengannya. Tapi nyatanya tak ada satu pun yang mampu mengusik gerbang iblis mereka.”
“Sebenarnya apa yang dilakukan leluhurmu? Sampai membuat perjanjian dengan Ghoul seperti itu.”
“Bukan urusanmu,” jawab singkat Blerda sehingga Heksar pun memasang muka sebal kepadanya.
“Kalau begitu, bisa saja suatu saat Blerda kerasukan lagi bukan?”
Tuan Criber tampak tertunduk mendengar pertanyaan Revtel. Sepertinya, dirinya cukup terbebani menjawab lanjutannya.
“Apa saja pemicunya? Hal-hal yang bisa membuatmu kerasukan,” tanya Lucian Brastok pada Blerda.
“Aroma ghoul. Sepanjang ingatanku, jika aku mencium baunya kondisiku akan berubah seketika. Dan itu juga berlaku pada pelayan Dewa yang kupunya.”
“Dasar gila! Itu berarti kamu takkan berguna jika lawan kita adalah ghoul nantinya. Mengerikan, aku tidak mau dekat-dekat denganmu! Bisa-bisa aku mati muda kalau kamu kerasukan tiba-tiba. Jangan lupa kalau kamu sudah memutuskan tanganku tadinya!” cerca Heksar tak henti-hentinya.
__ADS_1