Death Game

Death Game
Wahai Yang Termulia


__ADS_3

Anak itu pun terbelalak. Saat menyaksikan banyak senjata muncul tiba-tiba tak jauh dari kepalanya. Seolah ingin menghujam tubuh kecil itu agar binasa di tempat yang ia tak tahu ada di mana.  


Lascarzio Hybrida.


Begitu menarik sosoknya. Perawakan mencolok dari kulit eksotis serta mata emas menjadi daya tarik tersendiri untuk penampilannya.


Tapi kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Karena sayapnya yang muncul tiba-tiba sekarang rusak tanpa ia tahu apa penyebabnya.


Raganya yang berjalan di pinggiran sungai terdiam saat menyaksikan pemandangan tak terduga.


Kemunculan seorang laki-laki dan juga dua anjing dari dalam air menyentak pikirannya. Terlebih rupa rusak orang itu seperti menyeringai ke arahnya.


Aza Axadion Ergo.


Sementara anak pengendali magma itu tertawa pelan, saat melihat sesosok bocah kecil berdiri di depannya. Ada tanduk di kepala, mata amber serupa manik ular juga taring memenuhi gigi-giginya. Sayap melebar berwarna merah darah berkobar dari punggungnya.


Tapi satu hal yang pasti, walau hampir seluruh tubuh orang itu dipenuhi sisik, dia mirip dengannya seperti anak kembar namun memiliki kemampuan berbeda.


Dan putra Maximus merentangkan tangan seolah menyambutnya.


Di tempat lain, para guru yang sibuk mencari jejak dari pembunuh Helgida juga Romario mendapati tanda tak terduga.


Jejak pembantaian salamander beracun milik mereka sambil dihiasi percikan darah kering yang tak jauh dari area kematian dua guru besar sebelumnya.


Anehnya, ada banyak bekas kaki di sana. Seperti bercampur aduk milik anak kecil dan juga orang dewasa. Hal itu pun menimbulkan kecurigaan mereka pada sosok pembunuh yang sebenarnya.


“Jadi, patung mana yang lebih kalian sukai?” tanya laki-laki berwajah rusak itu pada semua murid di Hadesia.


Semuanya pun memilih patung dengan lambang menarik di depan mata. Tapi, respons berbeda justru ditampilkan Aza dan Kers. Di mana sang pengendali magma lebih fokus pada rupa anak kecil di depannya dari pada ucapan laki-laki di kanannya.


Sedangkan Kers, sibuk mencari cara melepaskan ikatan di lehernya akibat tak nyaman yang dirasa.

__ADS_1


“Tolong lepaskan benda ini dari tubuhku!” kesalnya pada sosok yang ditemani dua anjing doberman itu.


Tapi cuma kekehan pelan yang dilontarkan lawan bicaranya. Sehingga Kers semakin jengkel melihatnya.


“Apa yang lucu? Tutup mulutmu bodoh kalau kau memang tidak mau membantuku!”


“Hidea,” gumam sosok itu tiba-tiba. “Tempat di mana meja batu juga prasasti semua dunia tertinggal di dalam sana. Tanah perjanjian, lambang keagungan dan juga lantunan kesepakatan tenggelam di daratannya. Tak satu pun bisa masuk ke sana, kecuali para makhluk kayangan atau utusan mereka. Akan tetapi, beberapa guider terlarang mampu mengukir darahnya untuk menyentuh permukaannya.”


“Hah? Apa yang kau ocehkan pak tua? Lebih baik kau pergi saja karena aku malas mendengar ceramahmu!”


Tapi, justru senyuman yang dibalaskan laki-laki itu kepadanya. Sepertinya dia takkan berhenti bicara sampai semua keinginannya tersampaikan pada daun muda di depannya.


“Kuyang dan juga Leduo Perseus. Mereka yang semula baik-baik saja, ternoda akan hasrat dengki yang mengotori hatinya. Ambisi membuat gelap mata, percaya kalau dosa bisa mengabadikan serta membahagiakan jiwa mereka. Nyatanya, setiap darah yang dikorbankan memang mampu mengantarkan keduanya pada tanah tenang di altar Hidea. Akan tetapi—”


“Agh!” pekik Kers tiba-tiba. Dia bahkan menggaruk kepalanya akibat muak mendengarnya. Sungguh otaknya tak bisa memahami ocehan konyol sosok itu, apalagi tubuhnya sedang dirantai dengan kejamnya.


Baginya yang terpenting terbebas dari sana dan tak lagi menerima kalimat menyebalkan pria berwajah rusak di depannya.


“Sudah selesai bicaranya?” sela Kers tiba-tiba. “Aku tak tahu apa yang anda ocehkan pak tua. Kalau butuh teman bercerita, ya cari orang lain saja. Lagi pula kenapa aku dirantai seperti ini? Lihat! Rantainya menempel ke kulitku! Jantungku aman atau tidak?! Kalau aku mati tiba-tiba bagaimana? Anggur di bawah ranjangku masih belum kumakan semuanya!” 


Sungguh Kers hanya melontarkan apa pun yang membebani isi otaknya. Tak peduli akan makna terlontar di depannya. Dia terlalu kecil untuk memahaminya.


“Sialan, senjata ini takkan menusukku tiba-tiba kan? Hei, Paman! Kenapa kamu diam saja? Lakukan sesuatu! Bagaimanapun aku masih kecil dan butuh bantuanmu! Cepat lakukan, Paman! Hei, anda dengar aku tidak?! Lakukan sesuatu!” pinta Kers sambil menunjuk senjata yang masing mengambang di atas kepalanya.


Tapi, sekarang tak ada lagi respons dari laki-laki berwajah hancur yang berdiri tak jauh darinya. Bahkan dua anjing di sisinya juga tidak menggonggong seperti sebelumnya.


Membuat Kers makin kesal akibat merasa terabaikan olehnya.


Namun, beberapa detik kemudian orang itu kembali melanjutkan perkataannya.


“Yang namanya keburukan, takkan pernah mendatangkan kebaikan di mana pun kita berada.”

__ADS_1


“Hah?” wajah Kers berkerut bingung mendengarnya. “Cih! Sepertinya dia masih ingin mengoceh ya,” keluhnya sambil memegang rantai yang tertanam ke dadanya.


“Bahkan itu juga berlaku untuk Yang Termulia, walau jiwa anda terlahir kembali dalam wujud yang berbeda.”


“Mm? Yang Termulia? Apa yang anda katakan? Aku tidak paham,” Kers yang mulai lelah karena rantai itu masih belum terlepas dari tubuhnya pun memilih duduk sekarang.


Bahkan sosoknya sibuk mengupil di sana, tak peduli lagi dengan kondisinya.


Akan tetapi, lawan bicaranya malah melebarkan seringai sehingga anak itu bergidik ngeri dan menghentikan aktivitasnya.


“Dewa Zeus bersedih untuk anda. Pengkhianatan demi mereka melukai hati semuanya. Tapi, Dewa Thor akhirnya memaafkan tindakan itu. Karena Yang Termulia Odin percaya, segala sesuatu adalah kebijaksanaan anda sampai harus menumpahkan nyawa sendiri sebagai bayarannya. Akan tetapi, akankah itu semua benar-benar keinginanmu?”


“Hah? Anda bicara denganku? Siapa yang anda bicarakan? Tolong berhentilah mengatakan omong kosong seperti itu. Aku sedang panik sekarang, rantai ini bagaimana caranya agar bisa lepas dari tubuhku? Ini mengerikan lho, mengerikan!”


Kers tampaknya masih belum menyerah mendebat laki-laki itu. Bahkan tangannya tidak henti-hentinya menarik rantai di dada agar terlepas dari tubuhnya. Tapi, terkadang ngeri juga menyelimuti otaknya.


Membayangkan kalau jantungnya tiba-tiba melompat keluar saat ia berusaha keras menarik rantai itu darinya.  


Perlahan laki-laki itu pun mendekat bersama anjing-anjingnya. Membuat Kers waspada dan langsung berdiri sambil memamerkan kuda-kuda.


Meneguk ludah kasar karena takut kalau seandainya diserang tiba-tiba. Tetapi, tanpa ia sadari sosok itu sudah berdiri begitu saja tepat di depan matanya.


Sang lawan bicara pun menyentuh wajah bocah hydra dan meneteskan air mata.


“Yang Termulia. Akankah ingatan itu kembali? Walau raga terlahir baru, namun tiga belas kursi Dewa merindukan suaramu. Singgasana membutuhkan sentuhanmu dan ambrosia berharap bisa dimakan oleh sosokmu. Bahkan jika tangan berlumuran darah untuk langit peristirahatan, tapi para pemuja masih menantikan kehadiranmu. Datanglah ke Hidea untuk jati dirimu. Wahai Dewaku, Yang Termulia Ap—”


“KERS!”  


 


 

__ADS_1


__ADS_2