Death Game

Death Game
Kasih sayang para Dewa


__ADS_3

"Susanoo?" Toz memandang lekat sang Dewa. Laki-laki yang benar-benar mempesona. Aroma magnolia miliknya, seakan memeluk lubang hidung pemuda itu untuk terus menciumi bau berkobarnya.


“Semoga langkahmu memang sesuai takdirmu,” ucap pelan Susanoo dengan tangan menyentuh dahi Toz. Pemuda itu terkesiap, namun empat netra ambernya memandang takjub pada keindahan di depan mata. “Ayo, Lagarise.”


Seketika Toz menoleh begitu sentuhan di dahi terlepas. Rupa cantik nan mengerikan, begitu tenang lirikan matanya.


“Semoga Vanargand memang tidak salah telah memilihmu,” dan ia gigit bibir bawahnya yang mengalirkan darah. Diusap lembutnya, lalu disentuhkan pada permukaan bibir bawah Toz dan membuat pemuda itu merona.


Dan di saat ia masih malu-malu karena debaran jantung tak terduga akan ulah Lagarise barusan, dua sosok Dewa itu malah berjalan menjauhinya.


“Eh, tunggu! Kalian mau ke mana?” tanya Toz tersadar.


Susanoo hanya tersenyum. “Semua sudah selesai, ujianmu telah usai.”


Akan tetapi, ekspresi berbeda disiratkan Toz yang mulai serius pandangannya. “Jika kalian berdua benar-benar Dewa, apakah aku boleh menanyakan sesuatu?”


“Lancang.”


Satu kata itu menusuk perasaan Toz. Dirinya jadi takut dengan tatapan dingin yang ditorehkan Lagarise padanya.


“Tanyakanlah,” Susanoo pun bersuara.


“Sebenarnya, apa itu dunia Guide? Apa arti perjanjian bunga Lily dalam surat perjanjian? Kenapa orang-orang begitu takut dengan malam bloodgrya? Dan nyanyian anehnya, apa maksud sebenarnya itu semua?”


“Manusia memang serakah. Di saat kebaikan ditorehkan di depan wajahnya, mereka dengan lancang meminta yang lainnya.”


Tertohok. Begitulah yang dirasakan Toz mendengar kalimat Lagarise. Jujur ia tersadar kalau dirinya lancang, tapi batinnya tak bisa menutupi kenyataan akan penasaran. Sekarang, ada dua sosok yang mengaku Dewa padanya, salahkah ia mengambil kesempatan untuk mencari tahu secara langsung dari mereka?


Sekarang pilihannya hanya mundur dan kehilangan kesempatan atau meregang nyawa yang lebih parahnya.


Akan tetapi, di detik-detik penantian jawaban, justru tawa yang dikibarkan laki-laki menawan itu. Begitu indah penampakannya, tapi juga aneh secara bersamaan. Bulu kuduk Toz berdiri, saat bertemu ekspresi yang ditorehkan Susanoo.


Perlahan, laki-laki itu berjalan mendekatinya.


“Katakan sesuatu padaku, wahai scodeaz (pengendali), kenapa kau datang ke dunia ini?”

__ADS_1


Saliva kasar ditelan sang anak manusia. Laki-laki yang berdiri tepat di hadapannya, entah kenapa memancarkan aura mata pedang di kulitnya. Tak terasa, tubuh Toz gemetar hebat karenanya.


“K-karena—” Toz jadi takut melanjutkan kalimatnya. Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya seperti begitu penasaran dengan sambungannya. “K-karena aku ingin hidupku berubah dan bisa membahagiakan orang tuaku nantinya,” akhirnya ia berhasil mengatakannya setelah sejenak mengumpulkan keberanian.


Tapi malah tawa keras yang berkumandang di bibir Susanoo. Entah apa yang lucu dari perkataan Toz sampai membuatnya seperti itu.


“Apa manusia memang seperti itu? Siapa pun dari bangsa kalian yang menginjakkan kaki di sini, harapannya pasti sama. Mengubah nasib namun akhirnya tak melakukan apa-apa.”


“A-apa maksudmu?!” Toz terperanjat dibuatnya.


“Dunia Guide, bukanlah dunia untuk mewujudkan impian. Tapi ini adalah dunia hitam di mana semua saling hidup berdampingan. Semuanya, tanpa terkecuali.”


Sekarang, ekspresi Susanoo kian menekan. Seolah auranya menghimpit keberadaan Toz untuk tak lagi membalas ucapan.


“Tiga belas Dewa, tiga belas bangsa, sepuluh yang tertera tiga tenggelam dalam nyata. Tiga belas kursi raja, lima kemampuan dan sepuluh pembantai yang mencoreng kepercayaan. Dan kasih sayang masih diturunkan bahkan jika pedang diarahkan. Kalian menodai pemberian namun mengharapkan kebahagiaan. Kalian mengotori uluran tangan dan meminta pengampunan. Kalian membakar semuanya namun tak sanggup membayar karmanya.”


“Malam bloodgrya, hanyalah bentuk hadiah atas kejahatan yang telah kalian lakukan. Dan nyanyian adalah lambang semua kehidupan yang berjalan. Memang seperti itulah kenyataan, apa yang ditanam itulah yang di dapatkan. Semua membayar harga atas setiap perbuatan. Bukankah itulah artinya kehidupan? Wahai scodeaz (pengendali).”


Toz tak bisa berkata-kata. Entah apa yang baru saja menyusup masuk ke telinga. Mulutnya sedikit terbuka dengan perasaan campur aduk mendengar kalimat panjang yang disemburkan.


Tapi, hal tak terduga justru terjadi. Tubuh Toz seperti kehilangan tenaga karena berhadapan dengan Susanoo yang bersuara. Badannya pun jatuh terduduk dengan kedua tangan bertumpu pada paha.


Keringat dingin pun mengucur pelan dari pelipis. Dan yang lainnya ikut bangkit membasahi badan. Napas terengah-engah mewakilkan keadaan serta sorot mata amber di pandangan bergetar tak karuan. Toz sungguh ketakutan.


“Dan apa ini? Hatimu menolak mengakui kenyataan? Kau cerdas karena memahami perkataan. Tapi, bukankah bangsa manusia juga masuk ke dalam sepuluh yang tertera? Pengkhianat yang mengagung-agungkan ketidak berdayaan. Leluhur kalian adalah salah satu pembantai yang mengerikan. Dan itu mendarah daging tak bisa dihapuskan. Sikap kalian tiga belas bangsa, sangat murni namun ternoda akan keegoisan. Menginginkan apa yang bukan milik kalian untuk bisa di dapatkan. Kurang kasih sayang apalagi para Dewa dalam memperhatikan kalian?”  


Perlahan, Toz mengangkat wajahnya untuk menatap dia yang berbicara. Bahkan jika keindahan masih terpajang, namun sensasi mengerikan tetap bertengger indah di pandangan. Apakah memang seperti ini tekanan para Dewa jika mereka serius dalam berbicara? Seolah tahu apa yang dipikirkan dan mencengkeram erat keberanian sosok-sosok yang mendengarkan.


Toz tak berkutik sekarang.


“Buktikan padaku wahai anak manusia. Jika Vanargand, memang tidak salah memilihmu sebagai pembawa jiwa. Perlihatkan kenyataan, kalau masih ada harapan dalam retakan yang telah leluhur kalian torehkan. Beri tahukan pada semua, kalau keadaan masih bisa diperbaiki seperti semula.”


“Karena para Dewa, memang tidak sekejam angan yang dirasakan, bahkan jika tangan kami mencekik kehidupan kalian. Ampunan masih bisa di dapatkan, jika kalian menyadari apa kesalahan yang telah dilakukan.”


“Kami menyayangi kalian,” selesai mengatakan itu Susanoo dan Lagarise pun lenyap tak bersisa.

__ADS_1


Toz tersentak, napasnya tercekat seperti tenggelam. Tiba-tiba sensasi aneh menggerakkan tubuhnya, seolah menampar kesadaran untuk membuka mata yang kesakitan.


Dia terbungkam dengan pemandangan di depan mata.


“T-Toz?” Riz menatap tak percaya. “Kamu sudah sadar? Toz!” temannya itu pun memeluknya. Memeluk sang pemuda yang masih diam mencerna keadaannya. Di penglihatan, sosok Aza Ergo dan Reve Nel Keres memegang pedang waspada. Seperti memasang kuda-kuda menyerang untuk berjaga-jaga. “Kamu sudah bangun Toz? Syukurlah. Aku sangat mencemaskanmu karena mereka mau menyerangmu,” jelasnya sambil menunjuk sang petinggi empusa dan Horusca.


Tapi Toz Nidiel masih tak bersuara. Entah dia melamun atau tenggelam dalam pemikirannya para penonton hanya menerka-nerka.


“Toz? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?” tanya Riz sambil menggoyang pelan bahunya.


Akan tetapi, sosok yang ditanya hanya mengangkat tangan kanan. Memperlihatkan sebuah cincin merah di jari tengah.


“I-itu!” pekik Riz kaget.


“Scodeaz (pengendali)” sela Reve.


Namun tiba-tiba, justru pedang magma yang diarahkan pada Toz sebagai sambutan. Aza Ergo menatap tajamnya tanpa keramahan. “Siapa kau sebenarnya?”


“Apa maksud anda? Sudah jelas ini Toz!” jelas Riz kesal. “Kenapa anda bersikap seperti ini? Padahal Toz baru bangun namun sudah ditodong dengan lelucon kasar. Aku mohon tolong hentikan!”


“Kutanya sekali lagi. Kau sebenarnya siapa?” abainya pada Riz. Sepertinya, Aza Ergo benar-benar serius pada perkataannya.


Toz terdiam. Ada sesansi aneh di perasaan, menatap tekanan yang tak pernah dipertontonkan sang petinggi selama mereka seperjalanan.


“Apakah anda seorang Dewa?”


Orang-orang terbungkam. Pertanyaan yang dilontarkan Toz mengheningkan keadaan.


Riz jadi heran. “Toz, apa maksudmu? Kenapa kamu berkata seperti itu?”


“Karena tekanannya, mirip dengan Dewa.”


Seketika suasana menegang. Mereka yang berdiri di ruangan itu tak satu pun bersuara kecuali melirik sang petinggi berwajah dingin.


“Dewa?” perlahan Aza Ergo tertawa. “Apa ini? Hewan apa yang kau bawa?” pedang di tangan diturunkan lalu ia mendekat dan memajukan wajahnya ke arah Toz. Cukup lama mereka bertatapan, dan tingkah tak terduga justru diperlihatkan sang petinggi yang tersenyum aneh. “Hm ... serigala ya,” tangannya pun diusapkan lembut ke kepala sang pemuda. “Kalau begitu selamat datang, wahai pembawa lambang merah, scodeaz (pengendali).”

__ADS_1


 


__ADS_2