
“A-anda!” pekik kaget Serpens melihatnya. “Rambut emas itu, apa mungkin Yang Mulia?!”
Akan tetapi, gerakan tangannya terpaksa kembali menyerang akar-akar yang bermunculan.
Dan serangan secepat cahaya, dilontarkan Aegayon Cottia lewat pedangnya. Di mana akar-akar lain hendak menusuk dada wakilnya.
“Yang Mulia.”
Di satu sisi, Reoa Attia sang elftraz (penyembuh) harus dirundung kesusahan. Tak peduli usaha apa yang ia lakukan, sihirnya tak mampu menyelamatkan para korban di pandangan.
Putus asa juga iba memenuhi perasaan. Ini, benar-benar sangat mengerikan.
“Semuanya!” teriak lantang Aegayon Cottia. “Pergilah ke tempat pertempuran! Di sana ada perisai Dewa yang akan melindungi kalian!”
“Lalu mereka bagaimana?!” seorang wanita menyela. “B-bagaimana dengan suamiku?! A-aku, tidak bisa menyentuhnya.”
Bibir bawah pun digigit sang Raja, akibat sesak memenuhi dada.
Sampai akhirnya salah seorang rakyat yang tak jauh darinya mengukir tanya. “Anda siapa?”
Lambat laun, sosok berambut panjang itu mengangkat wajah tertunduknya. Memamerkan rupa dengan mata berkaca-kaca.
“Aegayon Cottia.”
“Yang Mulia?!” histerisnya.
Begitu pula untuk orang-orang yang bisa mendengarkan. Tapi, teriakan keadaan tak memberi jeda. Di mana akar-akar gila memburu untuk membunuh siapa pun juga.
Sungguh, Aegayon tak sanggup menyaksikan itu sekarang.
“Aku yakin siapa pun yang masih selamat bisa mendengarkan.” Tiba-tiba sebuah suara muncul di pikiran mereka. “Wahai rakyat gyges yang tersisa. Kemarilah, ke tempat pertempuran berada. Aku, Dewa Seth, akan melindungi kalian. Karena itu, jangan putus harapan akan kematian di pandangan. Semua, masih bisa terselamatkan.”
“Benar apa yang diucapkannya. Kita semua harus berlindung dalam perisainya!” Aegayon menambahkan. “Jika tetap di sini, kalian semua akan mati. Jadi aku mohon, ayo pergi,” pintanya penuh harap.
“L-lalu bagaimana dengan suamiku?!” histeris wanita tadi. “Anda Aegayon Cottia? Berarti anda Raja kami kan?!” sosoknya berlari mendekat. “Tolong selamatkan suamiku, Yang Mulia! Anda, bisa melakukannya kan?!”
Begitu menusuk ucapannya. Tenggelam dalam sanubari sang Raja, dan menyiram kesadaran dirinya. Betapa, sosoknya tak berguna jika dihadapkan pada kematian rakyatnya.
Hanya air mata yang berjatuhan di pipinya.
Tanpa aba-aba, sosoknya jatuh bersimpuh di hadapan mereka. Bersujud membuat siapa pun tak bisa berkata-kata.
“Y-Yang Mulia,” syok Serpens melihatnya.
__ADS_1
“Maafkan aku. Maafkan aku karena gagal melindungi kalian. Maafkan aku karena bencana datang menimpa kalian. M-maafkan aku, karena menjadi pemimpin tak berguna. Sekali lagi maafkan aku, karena kematian menimpa saudara kita,” ucapnya keras namun terisak.
Tak dapat dilukiskan. Beragam perasaan berkumandang. Bahkan jika beberapa guider masih bertarung untuk melindungi kehidupan, ucapan Reygan Cottia benar-benar berhasil menyusup masuk ke pendengaran.
Mereka merasakan hal serupa sekarang.
Dan wanita itu pun menyentuh bahunya. Meraih tangan kanan sang Raja agar tak bersujud lagi di hadapan rakyatnya.
“Ayo, Yang Mulia. Ayo kita pergi ke perisai Dewa,” bahkan jika aliran air mata jelas deras di pipinya.
Dengan menggenggam harapan yang tersisa, rakyat gyges yang masih selamat pun mengikuti Aegayon Cottia. Tujuannya untuk berlindung di dalam perisai putih Dewa Seth yang menantinya.
Sementara Jion dan Ellio yang sekarat, akhirnya disembuhkan Cley Vortha. Salah satunya terus merintih kesakitan, dan meminta Dokter sekolah itu untuk mengobatinya. Walau sebenarnya sosok tersebut enggan membuang-buang tenaga.
Akan tetapi, dalam kemelut empat orang yang berada di luar perisai Dewa Seth, ada seseorang yang masih tak disentuh akar.
Siapa lagi kalau bukan Aza Ergo. Sosoknya, masih meronta, mencoba mencabut pedang Ares di kakinya.
Dan Laravell yang sudah sembuh pun terdiam melihatnya.
“Jika kau merasa iba, kau bisa keluar sana. Tapi mungkin kau hanya akan tinggal nama,” sela Blerda menggagalkan fokusnya.
“Dia wanita yang mengerikan,” ucap Laraquel tiba-tiba yang tak jauh darinya.
Dan ternyata, hujan berjatuhan bersamaan dengan gempa di pijakan. Tunas Yggdrasil akhirnya muncul ke permukaan.
“Sial, akhirnya muncul juga ya,” jengkel Ares melihatnya.
Siapa pun di dalam perisai jelas syok dibuatnya.
Karena sebuah pohon kecil kian raksasa penampakannya. Dan itu, hendak menggapai langit jika ia bisa.
“Yggdrasil,” gumam Lascarzio melihatnya.
Akan tetapi, di tengah-tengah pohon, mulai tampak penampakan tak terduga. Sebuah batu kristal besar dengan seseorang di dalamnya.
Sesosok wanita, berambut hitam dan juga panjang. Berhiaskan sebuah mahkota kecil di kepala. Dia mengenakan terusan para Dewa, dengan tubuh mempesona di baliknya. Namun ada satu keanehan di dirinya, di mana dadanya berlubang dan tidak memamerkan jantung di dalamnya.
Matanya begitu hijau dan terang juga menakutkan.
“Yang Mulia!” sambut senang Reygan Cottia juga Leduo Perseus hampir bersamaan.
Tapi sosok dalam kristal masih belum berbicara, sampai akhirnya puncak Yggdrasil mencapai awan, barulah dirinya bergerak secara perlahan.
__ADS_1
Langkahnya di udara, dihiasi percikan lima elemen secara bergantian.
“Helga.”
“Senang menatapmu, wahai Apophis.”
Dan suaranya berhasil membuat gendang telinga pecah. Lolongan bak hewan memekik di dalam perisai. Berlaku untuk siapa saja, kecuali Lascarzio, Toz Nidiel, juga Thertera Aszeria yang pingsan.
“Apa yang terjadi?!” panik Toz melihatnya. “Riz! Riz!” histerisnya.
“T-telingaku,” ucapnya terisak. Sungguh ia kesakitan, karena sensasi yang dirasakan melebihi racun api milik Aegayon Cottia.
“Kau,” geram Ares juga Kers bersamaan.
Sosok yang masih mengambang di udara, hanya melihat angkuh pada dua Dewa. Sampai akhirnya sorot matanya pun bertemu dengan Reoa Attia yang menggeram karena perih di pendengaran.
“Kelancangan untukmu. Wahai makhluk rendahan.”
“Aagh!” jeritan Reoa begitu menggelegar. Tubuhnya mendadak jadi tengkorak dan menguap tepat di depan Aegayon. Sang Raja gyges pun terbelalak melihatnya.
“R-R-Reoa?” di sela-sela pesakitan Beltelgeuse pun memanggilnya.
Tapi sudah tak ada yang tersisa. Selain pakaian sang petinggi gyges, Reoa Attia.
“A-apa-apaan itu?” Toz menatap tak percaya. “Orang itu mati?”
“Hentikan, Helga! Apa kau ingin disegel kembali?!” ucap Ares yang muncul tiba-tiba di depannya. Dan ayunan pedang Dewa lainnya, terhentikan karena lilitan dahan Yggdrasil. “Kau—”
“Ares. Kau pun sudah kehilangan tahtamu,” Helga pun menyentuh pipi sang Dewa. Sontak saja kulitnya berkorosi. Dan langsung ia tepis kasar sentuhan itu. “Sungguh kejam dirimu. Apa kau tidak merindukanku?”
“Kenapa aku harus merindukan nenek-nenek sepertimu?”
Pandangan pimpinan Hadesia pun langsung mendingin akibat ucapannya. “Beraninya kau, menyebutku seperti itu!”
Dahan Yggdrasil langsung memburunya. Namun nasib yang berbeda jelas dilukiskan para penghuni perisai. Di mana aliran darah mengalir di telinga, namun sensasi perih menghilang perlahan.
Dan Aegayon Cottia, jatuh terduduk sambil memegang pakaian bawahannya. “Reoa.”
“Aku takkan mengampunimu! Tidak kau Dewa terbuang, ataupun seluruh makhluk kayangan!” teriak Helga tiba-tiba. Tanduk serupa banteng pun muncul di kepala. “Reygan! Perseus! Lakukan!” teriaknya.
__ADS_1